Mempertanyakan Kebenaran Sejarah

Hampir selama 50 tahun tak seorang siswa pun diajarkan mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada tahun 1965. Sejarah yang dibentangkan oleh Orde Baru sebagai penanda bangsa dalam mewaspadai bahaya laten komunisme. Di dalam otak para pemuda pelajar yang kenyang oleh pendidikan Orde Baru, disimpan suatu file ingatan akan kejahatan komunisme yang menjadikan bangsa ini penuh konflik berkepanjangan. Sebuah sejarah yang dibentuk dari jutaan manusia yang dilenyapkan melalui pembantaian masal 1965-1966 di Indonesia. Konstruksi sejarah yang dibentuk Orde Baru masih diwariskan sebagai sejarah resmi bangsa. pemuda zaman sekarang, yang bahkan tidak paham sejarah orde baru, tetap mendapat asupan sejarah yang sama sebagaimana pemuda-pemuda di zaman Orde Baru. Hantu komunisme pun dihidupkan kembali saat kampanye pemilihan presiden 2014 untuk menggasak lawan politiknya.

Kita kembali pada tahun 1965, saat pemerintahan Soekarno digantikan oleh Jenderal Suharto. Penggulingan Sukarno berawal dari penculikan enam orang jenderal Angkatan Darat (AD) dalam sebuah operasi yang dinamai Gerakan 30 September (G30S). Saat penculikan itu, PKI adalah salah satu Partai terbesar di Indonesia. Selain Partai Masyumi dan lain-lain. Partai tersebut secara resmi bertekad untuk meraih kekuasaan melalui pemilihan umum, dengan dukungan afiliasinya, termasuk serikat buruh di seluruh Indonesia dan serikat tani yang banyak beranggotakan petani tanpa tanah. Salah satu isu pertama yang diangkat dalam kampanye PKI adalah reforma agraria (land reform), nasionalisasi perusahaan tambang, minyak, dan perkebunan milik asing. Dalam kampanye ini PKI berusaha untuk memobilisasi kekayaan sumber daya alam Indonesia untuk keuntungan rakyat Indonesia, yang setelah sekian lama dieksploitasi penjajahan. Namun pihak militer Indonesia menuduh PKI dan seluruh anggotanya sebagai otak dan penggerak G30S.

Seperti yang telah dipropagandakan tentara AD pada 30 September 1965, PKI dituding telah melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno dan membunuh enam Jenderal AD. Tak hanya PKI, Gerwani dan Pemuda Rakyat juga dituding telah menyilet tubuh dan memotong alat kelamin para Jenderal. Sedangkan Pemuda Rakyat dituduh ikut membantu menyiksa para jenderal tersebut.

Menteri panglima Angkatan Darat, Soeharto, kemudian mendapatkan Surat Perintah Sebelas Maret (SUPERSEMAR) pada 11 Maret 1965. Tak tanggung-tanggung, Soeharto langsung memerintahkan kepada tentara AD untuk menyapu habis seluruh kader dan simpatisan PKI, perintah yang sebenarnya tak pernah tersurat dalam SUPERSEMAR. Kira-kira seperti inilah sepenggal cerita sejarah Orde baru di Indonesia versi sejarawan John Roosa.

Kini banyak yang mempertanyakan kebenaran cerita sejarah tersebut. Banyak bermunculan film dokumenter yang ingin mengungkap kebenaran sejarah, seperti film Jagal (The Act of Killing) dan Senyap (The Look of Silence). Film karya Joshua Oppenheimer yang memfilmkan para pelaku genosida (pembunuhan masal) di Indonesia. Film senyap menceritakan perjuangan seorang pemuda yang bernama Adi, yang ingin mengungkap kematian kakaknya, Ramli (korban peristiwa genosida). Adi bertekad untuk memecah belenggu kesenyapan dan ketakutan yang menyelimuti kehidupan para korban. Ia kemudian mendatangi mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan kakaknya, sesuatu yang tak terbayangkan di negeri dengan para pembunuh yang masih berkuasa. Film ini membuka pintu diskusi bagi mereka yang mempertanyakan kebenaran sejarah dan merupakan awal dari Rekonsiliasi. Awal Negara “mengakui” sejarah yang nyata, yang berbeda dari sejarah dalam buku pelajaran sekolah. Sebuah film tidak dapat mengubah bentang politik suatu Negara. Sebuah film hanya bisa menciptakan suatu ruang bagi orang-orang yang menontonnya untuk mendiskusikan persoalan yang paling penting sekaligus menyakitkan tanpa rasa takut, dan dengan pandangan yang baru.

Memang tidak mudah membuka kebenaran dalam peristiwa tragedi 1965, terlalu banyak kepentingan, terlalu banyak dendam. Dalam peristiwa 1965 kita memang telah disuguhi beragam tafsir tentang siapa yang mesti bertanggung jawab, dan mengapa kejahatan terhadap kemanusiaan ini harus terjadi. Tapi, kita tak dapat mengelak betapa kejahatan ini telah memilah antara pelaku dan korban. Apa yang terjadi di dalam sejarah tak dapat diubah, tapi kisah yang kita ceritakan pada diri kita sendiri dan kepada anak-anak kita dapat dirubah. [Reni Dwi Anggraeni]

Leave a Reply