Menanggapi Ucapan Pak Rektor

Rektor UIN Maliki Malang, Abdul Haris Al Muhasibi memberi sambutan kepada para mahasiswa baru (Maba) dalam Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan 2018 di lapangan UIN Maliki Malang (13/08). Di tengah-tengah sambutannya, Haris berkata, “dan saya lihat wajah-wajah anda adalah wajah-wajah presiden, tidak ada wajah-wajah petani atau buruh, anda adalah harapan kami, anda adalah siap untuk memimpin, anda bisa mengalahkan siapa saja di negeri ini”.

“Anda adalah orang-orang kaya, anda adalah orang-orang yang dermawan, anda adalah orang yang teguh pendirian. Anda adalah orang-orang yang bertaqwa, anda adalah orang-orang yang mempunyai kasih sayang melebihi kasih sayang orang lain,” tambah Haris.

Mendengar sambutan Haris, Ira Ulva Chusna merasa kurang setuju. Menurut Ira, belum tentu seorang pejabat negara bisa sesederhana, sejujur, dan setabah petani. Ia mengaku bangga memiliki Ayah seorang Petani. “Karena ia mengajarkan pada saya bersikap apa adanya tanpa kepalsuan. Memang ia lusuh, tidak kaya seperti pejabat negara, namun ia dapat menjadikan saya orang hebat. Yang saya utamakan kan kemuliaan, bukan kekayaan, ” ujar Maba jurusan Sastra Inggris itu.

Akhmad Ridhoi, Maba Sastra Inggris juga menyayangkan ucapan Haris. “Ya, semua dikembalikan ke diri masing-masing. Seharusnya Pak Rektor gak ngomong gitu, lagian juga masih ada yang nerusin profesi orang tua jadi petani,” ujarnya. “Gak ada petani, para pejabat gak makan nasi, bos,” imbuh Ridhoi yang pekerjaan orang tuanya juga petani.

Begitu juga dengan Maba Biologi, Alfian Natus Sa’diyah, ia yakin kalau ada petani yang sukses, hidup dengan usaha sendiri dan menghidupi orang lain dengan apa yang mereka tanam. Generasi muda, masih menurut Alfi, memiliki peran penting dalam kelanjutan kegiatan bertani. “Jika para buruh yang mahir bertani sudah menua, siapa yang akan mengolah lahan itu? Bisa-bisa lahan dijual untuk berbagai macam pembangunan,” ungkap Alfi.

Alfi pun tidak berfikir untuk menjadi presiden karena setiap orang adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawabannya oleh Tuhan. Mengenai menjadi orang kaya, lanjut Alfi, hidup memang butuh uang, tidak ada yang mampu terlepas dari uang. “Saya ingin sukses, tapi tidak harus menjadi orang kaya, bukan?” ucapnya. “Jadilah orang yang wara’ meski harta dunia banyak, tapi ia tidak terlena. Namun malah menggunakan harta untuk mencapai kebahagiaan akhirat,” imbuh Alfi yang ayahnya juga seorang petani.

Menanggapi ucapan Haris dalam sambutan PBAK 2018, Putut Prabowo, koordinator Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Malang berpendapat lain. Menurutnya, ucapan Haris adalah pernyataan yang berdasarkan fakta dan apa-adanya. “Ini adalah kejujuran dari Rektor UIN yang perlu kita apresiasi dengan sewajarnya pula,” ujar pria yang aktif mengorganisir para petani di Wonogoro, Malang Selatan.

Putut juga menyampaikan fakta perguruan tinggi yang terjadi hari ini. Fakta pertama adalah kampus dengan biaya tinggi yang menyulitkan kaum tani dan buruh untuk menyekolahkan anak-anaknya. Fakta Kedua, lanjut Putut, sistem pendidikan di Indonesia masih dibawah kungkungan sistem ekonomi politik yang mengabdi pada kepentingan imperialis (negara yang menjalankan politik menjajah negara lain). “Sehingga yang akan dibentuk dan disiapkan bukanlah para ahli-ahli yang mengabdi pada rakyat, melainkan para kapitalis birokrat,” ungkapnya.

Menurut Putut, pernyataan itu adalah bentuk kejujuran Rektor tentang sistem perguruan tinggi hari ini. Maka, lanjutnya, tidaklah bijak jika menghakimi Rektor secara personal, “tanpa sebelumnya kita berjuang mewujudkan pendidikan nasional yang ilmiah, demokratis, dan mengabdi pada rakyat”.

Ketika dikonfirmasi di waktu yang berbeda (15/08), Haris menganjurkan supaya orang-orang tidak salah paham dengan ucapannya. “Jangan disalahpahami, kalau saya bilang tidak ada wajah-wajah petani, seolah-olah saya memprotes petani” ujarnya dalam sambutannya di PBAK Fakultas Humaniora.

Haris mengaku kalau dia juga berasal dari keluarga petani. Dengan ucapannya itu, ia berharap Maba menjadi orang yang lebih hebat dari petani seperti wali kota, presiden, maupun sekjend Perserikatan Bangsa Bangsa []

4 thoughts on “Menanggapi Ucapan Pak Rektor

  1. Subhanallah, memang kita harus berhati-hati dalam menanggapi sesuatu, karena sesuatu itu bisa dipandang dari segala sisi. Apalagi kita tidak tau apa maksud tersembunyi dari ucapan seseorang. Boleh jadi dibalik ucapan itu terdapat pelajaran yang baik, meski terlihat pahit.

  2. Benar sekali Sofi, setiap ucapan, selain dipahami secara tekstual tapi juga harus dipahami dan secara kontekstual. Sebagai pembaca, kita harus mengetahui alasan apa yang melatarbelakangi semua ucapan-ucapan Pak Rektor. Dan ditanggapi dengan bijak 🙂

  3. Tentu itu sikap dan keberpihakan inovasi. Konteks kekuasaan yang dimiliki kampus itu perlu dipahami lagi. Apa benar kekuasaan itu sepenuhnya milik kampus? Bukankah kampus juga dapat anggaran dari biaya kuliah yang dibayarkan mahasiswanya? Ketika kampus melarang Inovasi mengkritik karena inovasi dibiayai kampus, sebenarnya itu adalah usaha meminggirkan kebenaran kalau mahasiswa bisa menggunakan kebebasan akademiknya. Untuk menyampaikan pendapat secara mandiri dan bertanggungjawab, termasuk kritik. Serta, sebuah usaha untuk meminggirkan kebenaran bahwa kampus juga dapat anggaran dari biaya kuliah yang dibayarkan mahasiswanya.

Leave a Reply