Menentang Narasi Besar Politik Elektoral Bersama Nietzsche

bogordaily.net

Kamis malam (05/08), ketika saya sedang berada dalam acara tahlil “tujuh hari” Kematian bapak seorang teman, saya mendapat kabar menarik dari laman Vice.id. Kabarnya, Pada Rabu Malam (04/08), empat petarung Street Fighter ditangkap aparat di Jl. KH, Agus Salim, Kec. Wajo, Makassar. Alasannya “menganggu ketertiban”, ujar Basbas (Nama samaran), koordinator agenda tersebut kepada reporter Vice. id.

Konyolnya, lagi dan lagi pemerintah dengan perangkat aparat sipilnya bertindak konyol, sama gagapnya seperti ketika mereka menanggapi mural “Jokowi : 404 Not Found”. Kekonyolan inilah, yang disebut oleh Nietszche dalam buku Mengapa Aku Begitu Pandai? Ini dengan istilah “Gejala Dekaden”.

Nietszche adalah seorang filsuf abad 19 yang sebagian besar karyanya dikenal dengan corak Aforisme yang penuh dengan rasa curiga. Kecurigaan pada segala hal baik, pada setiap rencana, pada setiap ucapan nilai yang terlontar ke ruang publik. Sebab bagi Nietszche, tidak seorang pun dapat memahami kompleksitas jiwa manusia, terkhusus soal nilai. (Halaman 5)

Kasus di atas, bagi Nietszche di dalam buku ini menduga pemerintah sedang mengalami periode dekaden. Sebabnya adalah karena mereka (dalam hal ini pemerintah) telah sakit, yang kemudian seharusnya menurut Nietszche, siapapun yang sedang mengalami periode demikian perlu mengobservasi penyakit apa yang sedang ia derita. Tentu saja, itu bisa dilakukan oleh setiap individu, pun jika tidak– sebab ketidakmampuan individu –maka sudi kiranya ia pergi berobat ke ahli medis. 

Bila pelan-pelan melacak apa yang sedang dialami oleh pemerintah kini, tak lain adalah penyakit pongah, dan cara mengobatinya menurut Nietszche adalah tidak menyangkal bahwa pemerintah sedang berada dalam kondisi kepongahan dan jujur. Misalnya, dengan mengakui bahwa mereka siap untuk turun tahta dengan sahaja, sebab mereka tak mampu mengatasi polemik yang disebabkan oleh Pandemi. Nyatanya, “sementara orang dekaden seperti itu selalu memilih cara-cara yang membahayakan dirinya”, tegas Nietszche. (Halaman 4)

Tentu juga buah pemikiran Nietszche tidak serta merta dapat sampai kepada keangkuhan itu. Dengan demikian, saya memohon bantuan kepada Hannah Arrendt, filsuf politik abad 20. Yang melalui pemikirannya, kita dapat temukan selain sebab individu, mereka juga sedang terjebak pada sebuah sistem yang sedang membusuk. Sistem tersebut dalam terjemah Ruth Indah Rahayu, dalam artikel yang berjudul Hancurnya Narasi Otentik Masyarakat Moderni  adalah konsekuensi masyarakat modern — dalam hal ini masyarakat bernegara — sedang mengalami kehancuran kesadaran ikatan sosial, yang juga merupakan sebab lamanya kapitalisme, neoliberalisme dan totaliterianisme bercokol di tengah kehidupan sosial.

Politik Elektoral dan Metafisika Negara

Negara sebagai ontologi metafisika modern sudah usang, sebab negara tak lagi bisa mewadahi eksistensi individu serta realisasinya terhadap komunitas sekitarnya, kecuali ada momentum besar perayaan Olimpiade, seperti kemenangan Gracia-Nathalie beberapa hari yang lalu, yang tentunya hanya sebagian kelas menengah .

Dalam terjemahan Ruth Indah Rahayu pada Arendt, ia mengemukakan bahwa manusia memahami dunianya sebagai publik. Mereka dapat mendefinisikan ruangnya dengan cara mendiskusikan kepentingannya. Itulah politik, dan politik adalah kepublikan yang merangkup perbedaan dan keterbatasan kondisi manusia. 

Sayangnya dalam kasus di atas, Negara tidak berhasil mewadahi kecakapan bertarung ala seni jalanan yang dimiliki oleh masyarakat Makassar. Sebab demikian mereka membentuk komunitas sendiri, dengan tujuan bersama, dan untuk mencapai cita-cita individu secara kolektif.

“Ruang kerja. Pemberhentian sepihak para buruh. Mungkin (ajang pertarungan) ini bisa menghasilkan bagi para pejuang rupiah yang telah diberhentikan (dari pekerjaannya). Kami tidak mengharapkan ini jadi mata pencaharian, tapi setidaknya membantu sedikit masalah keuangan. Kondisi sekarang lapangan kerja sangat susah, ditambah aturan Covid-19 tai tanpa solusi dari pemerintah”, terang Basbas.

Lebih lanjut, tentu saja, sebagai prasyarat pemenuhan unsur kenegaraan, Basbas sudah bisa membentuk “Negara Sendiri” jika memang ia menginginkan referendum. Dengan demikian, apa yang disebut oleh Hannah Arrendt sebagai gejala politik abad 20 adalah tampak pada ruang publik. Maka dari itu, agaknya saya menyepakati bila politik elektoral, politik kepartaian, politik sentral tidaklah cocok untuk diterapkan masa kini. Meskipun jika ini diterapkan, kekuasaan akan ketar-ketir mengawasi tahtanya melalui seperangkat aparat beserta senjatanya.

Menuju Kemerdekaan Politik Bersama Nietszche

Ada beberapa buah pemikiran menarik dalam buku Nietszche di atas. Beberapa di antaranya adalah: kembali ke individu, kembali ke narasi kecil (Ilham Nietszche kepada tokoh-tokoh post-modern), dan refleksi sebelum melakukan tindakan politik.

Kembali ke Individu, bagi Nietszche adalah mempersoalkan segala narasi besar, yang mengaitkan individu kepada individu lain. Keterkaitan itu kemudian dilacak melalui bahasa komunikasi, dan menguji tujuan validitasnya. Misalnya, si A adalah seorang atlet game, dan si B juga sama halnya. Keduanya bertemu dalam satu ruang dan berinteraksi. Si A adalah peminat seni dalam dunia game, ia mencurahkan sebagian kehidupannya dalam Game demi mencapai gelar master. Sementara si B, adalah peminat Game yang orientasinya adalah menjadikan Game sebagai mata pencaharian, maka kedua hal itu akan berbeda. Dalam pemikiran Nietszche, jika memang ada perbedaan, maka yang diperlukan adalah kejujuran komunikasi. Sebab bila keterbukaan itu tidak hadir, maka yang akan hadir adalah suasana chaos.

Kedua adalah kembali pada narasi kecil. Dalam kata lain, bila antar dua individu atau lebih sudah membentuk konsensus kesepakatan, maka di tengah perjalanan, akan selalu ada narasi besar, yang kelak menjadi simbol. Nietszche mengusulkan agar setiap Individu yang turut serta dalam partisipasi politik, perlu terus menerus melakukan revaluasi nilai. Demi menjaga keutuhan konsensus. Bila tidak dapat ditemukan, maka sudi kiranya bagi partisipan yang teguh memegang keyakinannya agar memutus konsensus tersebut.

Refleksi-refleksi inilah yang nanti akan membantu setiap individu untuk bersikap profesional dalam setiap tindak laku politik, meski titik pijaknya adalah kedirisendirian. Tentu bila kita dapat mengulas, konsep ini dapat kita gunakan untuk menguak narasi besar institusi baku; Partai politik, organisasi masyarakat dan segala ketergantungan individu terhadap hal tersebut.

Tentu saja, Nietszche tetap memiliki kekurangan. Karyanya yang cenderung menjelaskan tentang kedirian, kerap tidak memerhatikan sistem sosial.. Maka dari itu dalam kata lain, di wilayah praktis, Nietszche terlalu kontemplatif dan larut dalam kediriannya. Ia merupakan pemikir soliter. Sekarang, ketika aku membandingkan diriku dengan orang-orang yang sampai saat ini dihormati sebagai orang-orang terkemuka, aku tidak menganggap orang yang katanya terkemuka itu termasuk dalam kelurga manusia – bagiku mereka adalah sampah umat manusia, anak turun abortif penyakit dan naluri dendam kesumat”, demikian penegasan Nietszhce. []

Judul Buku: Mengapa Aku Begitu Pandai?

Nama Penulis: Friedrich Nietzsche

Penerjemah Bahasa : Noor Cholis

Penerbit : Penerbit Circa

Jumlah Halaman: 123 Halaman

Cetakan : Cetakan Pertama (Januari;2019)

Rekomendasi Bacaan:

  1. Sabda Zarathustra (2013; Pustaka Pelajar), terjemah dari Thus Spoke Zarathustra.
  2. Lahirnya Tragedi (2015; Pustaka Narasi), terjemah dari The Birth Of Tragedy.
  3. Senjakala Berhala Dan Antikrist (2016; Pustaka Narasi), terjemah dari Beyond Good And Evil.
  4. Sains Yang Mengasyikkan (2015; Antinomi), terjemah dari The Gay Science.

Tinggalkan Balasan