Mengenang Kembali Supersemar

Bulan ini 52 tahun yang lalu, sebuah surat konon ditandatangani sang proklamator. Supersemar namanya, atau singkatan dari Surat Perintah Sebelas Maret. Berisi surat pengalihan pengamanan dari Presiden Soekarno kepada Jendral Angkatan Darat Soeharto. Dari surat itu pula sebuah rezim kelak berkembang dan bertahan begitu lama. Rezim ini menamai dirinya sebagai Orde Baru dan menjadikan pembangunan sebagai tujuan utama mereka. Walau atas nama pembangunan pula orde baru mengorbankan kemanusiaan dan korupsi yang tidak sedikit.

Membahas supersemar atau dalam arti lain orba tak elok jika tidak membahas Partai Komunis Indonesia atau PKI. Sehari setelah Supersemar ditandatangani, Soeharto menerbitkan perintah untuk membubarkan PKI dan segala macam organisasi yang serupa dengannya. Termasuk juga Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dan juga Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Pasca itu anggota PKI atau dicurigai sebagai bagian dari PKI secara masif, sistemik dan terstruktur didiskriminasi, diperkosa, diasingkan, bahkan dibunuh. Jika kamu pernah mendengar IPT 65 atau Internasional People Tribune 65 yang beberapa tahun lalu sempat ramai, sidang itu membuktikan peran negara dalam peristiwa 65.

Membaca sejarah seperti membaca cerita yang saling bertautan. Dihabisinya PKI pasca Supersemar tak lepas dari peristiwa 30 September tahun sebelumnya atau dalam lanskap film karya Arifin C Noer dikenal dengan Pengkhianatan G 30S PKI. Sepuluh jendral diamankan pada malam yang tragis itu. Alasannya, jendral tersebut dicurigai akan mengkudeta Soekarno dan mengatasnamakan dirinya sebagai dewan jendral. Maka malam itu Paspampres atau dulu dikenal Cakrabirawa dengan seruan ketus DN Aidit datang menyatroni rumah jendral dan membuang mayat mereka di Lubang Buaya. Pasca peristiwa tersebut kekuasaan PKI seolah mendapat serangan balik, partai yang mendapatkan suara terbanyak kedua dihabisi dan ideologinya dilarang. Sekarang PKI tak lebih dari hantu yang mewarnai isu menjelang pemilu.

Disinilah intriknya, makna pengkhianatan sendiri tak terlalu jelas, siapa yang dikhianati, dan menghianati. Keaslian Supersemar juga diragukan. Kesan pemberontakan yang disematkan pada PKI juga rancu, karena motif pembunuhan di lubang buaya justru untuk menumpas pemberontakan itu sendiri. Posisi Aidit sebagai ketua umum PKI dan aktor intelektual G30S tak bisa jadi pembenaran penumpasan anggota PKI setelahnya. Belum lagi dimasukkan dimensi politik dunia, ekonomi, dll. Perdebatan seputar G30S seperti tak pernah usai.

Namun yang kita tahu. pasca itu PKI dan ideologinya dilarang. Para mantan anggotanya dilabeli ET (Eks Tahanan politik) di KTP-nya. Soekarno lengser dan Soeharto bertakhta selama 32 tahun, Indonesia yang sebelumnya nonblok makin condong ke Amerika. Undang-undang penanaman modal asing diberlakukan berikut munculnya Freeport di Papua. Dan selama Orde Baru berkuasa, para murid seantero Indonesia diwajibkan menonton film Pengkhianatan G30s/PKI.

Dan begitulah stigma PKI bagi mereka yang terlahir di era Orde Baru. Dahulu saya sendiri beranggapan mereka sebagai musuh absolut karena diceritakan pamor kejahatannya sejak bangku SD sampai SMA. Lalu ditahun ketiga SMA pandangan saya mulai berubah. Kala itu ada penarikan buku besar besaran yang merevisi kata PKI dalam istilah G30S/PKI. Salah satu guru sejarah saya, bu Mismi mengatakan jangan terlalu ngotot membahas Supersemar, kita bisa benar dan juga salah. Kala itu saya tak paham supersemar apa dan itu tonggak awal keingintahuan saya melihat isu PKI

Keingintahuan saya bertambah ketika tanpa sengaja menyewa buku “Palu Arit di Ladang Tebu” karya Hermawan Sulisyo di salah satu penyewaan komik dekat sekolah. Entah bagaimana buku yang awalnya tesis ini bisa nyasar di sana. Kebanyakan buku yang dipajang di sana komik selebihnya novel populer macam Herry Potter sampai Ayat-Ayat Cinta. Saya sendiri membutuhkan waktu tiga minggu untuk menyelesaikan buku itu. Mungkin itu buku adaptasi tesis pertama yang selesai saya baca.

Dalam buku tersebut dijelaskan bagaimana PKI begitu berkembang pesat di kantong pemukiman buruh, utamanya Kediri dan Jombang. Dua kota tersebut terdapat pabrik gula besar peninggalan kolonial. Pabrik yang besar tentu membutuhkan tenaga kerja yang besar pula. Lalu kota ini disesaki tenaga kerja dan juga perumahan buruh yang terlewat sederhana. Dan di kota inilah paham komunisme mendapatkan angin segar.

Selain itu, buku tersebut menjelaskan jumlah anggota PKI yang bekerja di pabrik dari masa ke masa. Data yang menarik muncul dari selisih pekerja tahun 65 dan 70. Di tahun 70an jumlah buruh menurun drastis. Peneliti menyebut mereka dibantai di sekitaran pabrik antara tahun 65-70. Data tersebut membuat saya tercengang. Dua kota yang bertetangga dengan kota saya Malang, menyimpan tragedi yang besar dan tak pernah saya pelajari sebelumnya.

Lalu saya pun mulai sanksi, kesangsian saya muncul dari argumentasi yang sederhana. kenapa ideologi komunis yang begitu jahat bisa diyakini oleh banyak orang Indonesia bahkan mendapat suara terbanyak kedua di pemilu tahun 60. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan sampai membuat banyak orang yakin dan memilih menjadi komunis. Tak mungkin ada orang dengan begitu banyak meyakini suatu pemahaman yang terlampau keliru.

Pemahaman tentang komunisme mulai bertambah ketika saya masuk bangku perkuliahan. Jelaslah walau saya jurusan ekonomi dan marxisme juga punya argumentasi ekonomi tapi tak pernah sekalipun paham itu di pelajari di bangku perkuliahan. Ajaran komunis di ruang akademik masih begitu tabu. Dan namanya komunis, mengutip Ariel Hartanto, ia seperti film porno makin dilarang makin dicari.

Perkenalan saya muncul ketika mengikuti acara nonton bareng film Gie yang disenggarakan Mapala Tursina. Ada adegan PKI di film tersebut walau tak dijadikan porsi utama. Sejak itu pula saya mulai memburu tulisan Soe Hok Gie di perpustakaan kampus. Termasuk skripsinya yang mengulas secara khusus perlawanan PKI di era kolonial.

Judulnya “Orang Orang Dipersimpangan Kiri Jalan”. Dan merupakan skripsi Gie yang dibukukan. Berisi tentang pemberontakan PKI di Semarang pada masa kolonial dan bagaimana perceraian mereka dari Sarekat Islam di tahun sebelumnya. Dalam buku itu pula dijelaskan mengapa di kantong buruh yang menjadi basis PKI juga terdapat banyak pondok pesantren. Dua kota yang saya jelaskan sebelumnya. Kediri terlebih jombang, sekarang terkenal dengan pondok pesantren.

Lalu pada tahun 2012 ketika bergabung di UAPM Inovasi saya akhirnya bertemu dengan eks-Tapol secara langsung. Ia mantan anggota Gerwani, dan juga anggota legislatif dari Blitar. Patmainah namanya. Kala itu majalah Inovasi tahun sebelumnya membahas isu PKI dengan tema mitos G30s/PKI. Wajahnya Patmainah begitu tua, keriput, dengan baju tradisional, penampilannya seperti lazimnya perempuan tua Jawa. Yang membedakan seperti ada kesan menyimpan aura intelektual. Jawaban yang ia berikan ketika acara sangat bertolak belakang dengan bentuk fisiknya. Seolah raganya terlalu sederhana untuk pemahaman yang ia miliki.

Dalam acara tersebut ia menjelaskan bagaimana PKI itu dan bagaimana kisah dia di tahun-tahun ketika G30S terjadi. Suaminya salah satu tokoh PKI yang tak pernah pulang. Ia seperti menyimpan ekspresi yang aneh ketika membahas suaminya. Ia sendiri tak tahu-menahu gerakan G30S itu. Pasca itu ia ditahan dari penjara ke penjara sebelum akhirnya dibebaskan. Ada juga kisah anaknya yang tak berkesempatan belajar karena terpisah dari orang tuanya. Entahlah ketika mengingat kisah Patmainah saya tiba-tiba teringat kutipan dari film Titanik tentang “Hati perempuan bak samudra” dalam arti yang sebenarnya.

Dan kini, setelah 52 tahun Supersemar ditandatangani dan 20 tahun pasca orde baru tumbang. Isu komunisme tetap populis, marxisme tetap dianggap ideologi yang teramat kejam. Bagi mereka yang terlahir di era milenial dan tak pernah merasakan fobia PKI di bangku sekolahan. Ketahuilah ada satu masa di mana orang bisa dibunuh gara-gara ideologinya. Ada suatu masa orang bisa membenci suatu kaum tanpa jelas rasionalisasinya. Dan sejak sang proklamator menyebut jas merah, jangan sampai melupakan sejarah. Negeri ini seolah suda terlalu sering meninggalkannya jas di suatu tempat, melupakannya, dan tanpa sadar terjebak keresahan yang sama.[]

Leave a Reply