Menilik Konsep HAM dalam Ranah Pendidikan

Fotografer : Luluk Khusnia
Fotografer : Luluk Khusnia

Hari Hak Asasi Manusia (HAM) kerap kali diperingati oleh masyarakat di Indonesia setiap 10 Desember. Banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat untuk merealisasikannya. Setiap tahunnya, peringatan HAM dijadikan sebagai ceremony yang hanya berlangsung selama satu hari saja.

Tahun 2014 silam misalnya, warga Batu melakukan peringatan hari HAM dengan melakukan aksi demo di daerah Junrejo, Batu. Mereka menuntut hak-hak hidup mereka atas lingkungan hidup. Aksi demo dilatarbelakangi karena adanya perusahan asing yang ingin membangun hotel di kawasan mata air. Kasus pelanggaran HAM lainnya, yaitu tragedi pembunuhan aktivis Munir yang terjadi 11 tahun silam juga menjadi serangkain agenda kala itu. Aksi peringatan HAM diartikan sebagai cara untuk menghidupkan kembali semangat pemuda terhadap nilai nasionalisme yang luntur oleh budaya populer.

“Sejak Orde Baru, HAM menjadi isu yang tidak disukai oleh penguasa,” ujar Haris El Mahdi, Dosen Sosiologi Universitas Brawijaya selepas kegiatan diskusi “Munir Muda Melawan Lupa” (10/12) di Omah Munir, Batu. Menurutnya, HAM digunakan oleh penguasa sebagai wacana yang nantinya bisa merusak oligarki kekuasaan.

Pelanggaran HAM sering terjadi di dunia. Mulai dari kasus pembulian, intimidasi, hingga kasus pembunuhan. Bulan September 2015 terjadi pembunuhan aktivis tambang di Lumajang, dan kasus selama 48 tahun yang masih berlangsung. kasus kekerasan yang diakibatkan eksplorasi mineral tambang di tanah Papua. Pelanggran HAM kerap kali menjadi sorotan publik. Namun, hanya segelintir orang yang peduli.

Konsep eksistensi HAM tidak melekat secara utuh pada setiap manusia. Tidak semua manusia memiliki kesadaran akan eksistensi dan penerapan HAM. Setiap tahunnya, hari HAM hanya diperingati secara seremonial tanpa memahami esensi HAM itu sendiri. Seperti aksi yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Malang misalnya. Mereka melakukan aksi damai untuk memperingati hari HAM sedunia (10/12). Aksi damai yang dilakukan pagi itu bertujuan mengenal kembali hak dan kewajiban setiap individu. Lantas, yang menjadi permasalahan, apakah setiap individu sudah melakukan kewajibannya dan berhak untuk menuntut haknya?

Menurut M. Sufiaturrahmat, salah satu orator dalam aksi damai tersebut, bahwa implementasi HAM di lingkungan kampus masih terjadi penyelewengan dan tidak sesuai dengan konsep HAM. Ia menceritakan bahwa ketika orientasi pengenalan kampus, hak-haknya sebagai mahasiswa tidak terpenuhi. Menurutnya, terdapat oknum-oknum yang menyelewengkan dana mahasiswa saat pelaksanaan orientasi pengenalan kampus.

HAM sebagai sebuah konsep, menjadi sesuatu yang sulit untuk dijadikan tata nilai atas martabat dan kehendak hidup bernegara. Menurut Jeck Donnely dalam bukunya “Universal Human Rights in Theory and Practice”, mengatakan bahwa hak asasi manusia merupakan hak-hak yang dimiliki manusia semata-mata karena ia manusia. Manusia memilikinya bukan karena diberikan kepadanya oleh masyarakat atau berdasarkan hukum positif, melainkan semata-mata berdasarkan martabatnya sebagai manusia. Dengan demikian, faktor- faktor seperti ras, jenis kelamin, agama maupun bahasa tidak dapat menegasikan eksistensi HAM pada diri manusia.

Kegagalan konsep eksistensi HAM yang melekat pada masyarakat diakibatkan konsep pendidikan HAM yang ditanamankan tidak sesuai. Dilansir dari kominfonewscenter.com , Wakil Menteri Bidang Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Musliar Kasim mengemukakan pendidikan HAM harus menanamkan nilai-nilai universal sejak dini. Esensi HAM dan implementasinya perlu dipertanyakan dalam hal toleransi, solidaritas, kebenaran, keadilan, dan keberagaman. [Ahmad Ilham Ramadhani]


Editor : Luluk Khusnia


UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply