Menulis dan Kekecewaan

Pada saat pertama kali menulis, apa yang biasa dipikirkan seorang penulis adalah apa yang ingin dia tulis. Mungkin setelah penulis itu menulis untuk yang kedua kalinya dia akan mulai berpikir kenapa dia menulis, dan untuk apa menulis?

Kita tahu bahwa Pramoedya Ananta Toer ingin menulis karena dia ingin mengungkapkan isi pikirannya, Pram tidak berani mengungkapan isi pikirannya karena sejak kecil Pram merasa minder. Perasaan minder ini didapatkan Pram dari kekecewaan ayahnya karena Pram menamatkan sekolah di Boedi Oetomo selama sepuluh tahun yang seharusnya tujuh tahun. Kemudian Pram menulis, menerbitkan cerpen dan buku, juga menjadi wartawan.

Namun ketika seorang penulis menulis sekedar untuk mengungkapkan isi pikiran saja, atau hanya sekali menulis dan tidak menulis lagi, muncullah pertanyaan, apakah dia masih bisa disebut penulis? Jika iya, maka seorang penulis tidak harus terus menulis, dan tidak perlu membuat alasan untuk terus menulis. Jika tidak, tentu seorang penulis harus terus menulis dengan atau tanpa alasan.

Ketika pertanyaan itu muncul di dalam pikiran seorang penulis, mungkin penulis akan memilih salah satu jawaban yang sesai dengannya. Yang dianggapnya benar. Walaupun jawaban iya dan tidak itu sebenarnya tidak ada hubungannya dengan benar dan salah. Benar dan salah hanyalah sebuah bentuk dari penegasan penulis terhadap pilihannya (begitulah menurut kenaifan saya).

Semua pertanyaan dan jawaban itu tetap kembali kepada bagaimana kita (sebagai penulis maupun bukan) menyikapinya, memahami, dan memaknai, apa sebenarnya penulis itu.

Terkadang ada hal yang kita abaikan ketika kita berbicara tentang penulis dan karyanya. Kita terlalu fokus dengan pantas atau tidaknya gelar penulis disandang seorang penulis. Kita diabaikan oleh hal sepele sepert itu, mungkin karena kita hanya meyakinkan diri bahwa kita adalah pembaca yang intelek. Atau mungkin kita hanya tidak bisa menerima kenyataan bahwa karya tulis itu ada untuk sekedar mengungkapkan pikiran penulis saja. Padahal masalah sesungguhnya adalah ketika penulis tidak menulis dengan keinginannya sendiri. Menulis karena tuntutan dan keterpaksaan. Jika demkian apakah masih bisa disebut sebagai penulis?

Apakah kita akan berbicara tentang karya tulis jika penulisnya tidak memiliki keinginan pribadi untuk menulis? Tentu tidak jika kita melihat sejarah. Dulu, karya seni juga termasuk karya tulis di dalamnya memiliki apa yang disebut Goenawan Mohamad sebuah hierarki. Di mana hierarki ini dilihat goenawan sebagai sesuatu yang mengganggu, karena hierarki sering ditentukan oleh penguasa. Dan setelah kuasa dari penguasa itu hilang, karya seni menjadi berdiri sendiri.

Namun karya seni tidak berdiri sendiri begitu saja. Karya seni mulai mencari hierarkinya sendiri. Dalam kuliah umum di teater salihara 08 mei 2014 lalu, Goenawan mengatakan bahwa selalu ada pencapaian lain yang dinilai oleh kaum sejawat pada karya seni. Goenawan mencontohkan seperti pengrajin di Bali yang setara tentu ada satu karya yang dinilai lebih ulung. Kemudian karya itu memiliki status yang lebih.

Mungkin begitulah seharusnya jika kita berpikir dan berbicara tentang penulis dan karyanya. Atau kita bisa kembali memikirkan bagaimana kita mengawali diri untuk menjadi penulis. Karena mungkin disitu juga ada salah satu permasalahan yang tidak kita pahami.

Saat memulai menulis untuk mengungkapkan isi pikiran, mungkin tidak terpikirkan bagaimana seharusnya kita menulis. Tapi ketika kita menulis dan ada yang ingin kita ubah, tidak ada salahnya untuk memikirkan keharusan itu. Karena jika tidak demikian, bisa saja yang terjadi adalah kekecewaan. Kekecewaan ketika tulisan kita tidak dinilai lebih, ketika tulisan kita tidak mengubah sesuatu, ketika tulisan kita tidak dianggap bermanfaat, bahkan ketika kita tidak tahu lagi apa yang harus kita tulis.

Ketika hal itu terjadi, biasanya kita akan meminta bantuan kepada seseorang atau sebuah kelompok untuk belajar menulis. Normalnya kita akan memilih yang memiliki keharusan untuk mengajari kita. Di sini yang paling memungkinkan tentu sebuah kelompok. Tapi kita tidak memikirkan alasan di balik kelompok itu untuk mengajari kita, dan ketika tahu alasan itu yang ternyata bertentangan dengan alasan kita kita akan kembali merasa kecewa. Kekecewaan dari alasan dan keinginan untuk menulis yang diubah menjadi sebuah tuntutan dan keterpaksaan. Singkatnya, kita akan selalu merasa kecewa sebagai penulis.

Lalu apa yang terjadi berikutnya? Akankah esok menjadi hari di mana alasan dan keinginan kita untuk menulis akan hilang? Atau kita tetap berpura-pura menjadi penulis, padahal alasan dan keinginan kita sudah redup? Akan menjadi iya jawabannya, jika kita tidak mampu terbebas dari kekecewaan yang menenggelamkan kita dalam keputusasaan. Dan akan menjadi tidak jawabannya, jika kita bisa mengubah kekecewaan itu menjadi sebuah kekuatan dan tetap berjuang. Seperti Pram yang menulis di dalam penjara.

Leave a Reply