Menulis untuk Keabadian, Apa Guna?

Pada 30 April 2006, rumah dan pekarangan Pramoedya Ananta Toer dipenuhi banyak orang. Mereka datang untuk mengiringi kepergian Pram. Ya, Pramoedya Ananta Toer sudah mati, pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia itu benar-benar sudah mati. Yang ditinggalkannya adalah karya-karyanya, buku, novel, esai, keluarga, dan jejak-jejak kenangan tentangnya.

Delapan tahun setelah Pram mati, saat itulah saya baru mengetahui nama Pramoedya Ananta Toer. Saya mengenal langsung Pram hanya dari karyanya sendiri “Bumi Manusia”, “Jalan Raya Pos, Jalan Deandels”, “Drama Mangir”, “Calon Arang”, dan video dokumenter “Mendengar si Bisu Bernyanyi” garapan Lontar Foundation. Saya mengenal Pram sebagai sosok yang tegas, disiplin, dan berani. Beberapa karyanya mengandung nafas-nafas perlawanan, terhadap ketidakadilan, dan terhadap apapun yang tidak memanusiakan. Pram melawan mulai dari jaman belanda, jepang, orde lama, sampai orde baru. Beberapa Karya Pram dibakar, ia sendiri juga sering dipenjarakan oleh pemerintahan, di setiap zamannya.

Jika boleh dikatakan sebagai refleksi nafas-nafas perlawanan Pram, saya ingin bercerita tentang apa yang saya lakukan dan sedang saya pikirkan. Saya pernah menulis, dari status facebook, sampai liputan di Majalah Pers Mahasiswa INOVASI UIN Malang. Terakir kali, saya menulis tentang 19 tahun perjuangan masyarakat malang selatan untuk merebut kembali tanah yang dikuasai oleh BUMN. Saya dan teman saya juga pernah menulis tentang pengadaan lahan kampus tiga UIN Malang yang berujung pada kasus korupsi. Yang kedua ini disensor pihak kemahasiswaan karena dianggap tidak memberi kontribusi positif, kami pun sempat diberi pilihan, gak terbit atau tetap memilih berita ini terbit dan INOVASI vakum? Mirip-mirip Pram kan ya?

Tapi saya tidak akan bercerita tentang motivasi saya maupun kebanggaan-kebanggan saya dalam menulis. Saya akan bercerita tentang beberapa hal yang mengganjal di pikiran saya setelah menulis. Bisa dibilang saya mau curhat.

Awalnya saya berpikir, jika kita tidak menulis berarti kita menimpangi masyarakat. Kenapa? Jadi begini alasannya, ketika masyarakat ditindas oleh penguasa, pengusaha, pemerintah atau siapapun itu, tidak semua masyarkat bisa bersuara. Ya, sekarang memang jamannya media sosial, semua orang bisa bersuara dan memberitakan sesuatu (istilah kerennya jurnalisme warga). Tapi masalahnya adalah nggak semua orang bisa secara kemampuan, pengetahuan dan modal. Kalau bicara suara bersuara kan yang jadi ukuran apkah suara itu terdengar oleh masyarakat luas dan bagaimana suara itu mempengaruhi masyarakat?

Nah, disinilah yang membedakan masyarakat yang ditindas dengan yang menindas. Yang menindas (penguasa, pengusaha, pemerintah) punya pengetahuan, modal dan akses yang lebih untuk menyuarakan kepentingan mereka sendiri lewat media sosial, sementara masyarakat yang tertindas tidak. Maka dari itu, semakin masyarakat yang tertindas ini tak bisa bersuara maka mereka akan semakin tertindas. Dan ketika kita tidak menyuarakan suara masyarakat yang tertindas, ketika kita tidak menulis, maka kita juga menyumbang keberlanjutan dari ketertindasan masyarakat itu. Jadi, jika kita tidak menulis berarti kita menimpangi masyarakat. Gitu nggak sih?

Jadi solusinya apa? Ya segera nulis aja, gunakan semua pengetahuan yang kita miliki untuk membantu orang-orang disekitar kita, menyuarakan masyarakat yang tertindas, dan menciptakan perubahan. Dan apakah sudah selesai? Nah, ini yang saya pikirkan berikutnya. Saya berpikir dan bertanya, apa gunanya kalau hanya menulis? Apakah perubahan itu benar-benar akan terwujud?

Kalo kata Pram, “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Nah, ini nih kayaknya perlu dipahami gak cuma sepotong-potong saja. Mengapa? Ya karena kalau cuma dipahami sepotong-potong saja, orang akan memaknai Pram sebagai orang yang hanya bekerja untuk keabadian. Orang yang terpukau dengan kata-kata Pram ini akan memaknai “keabadian” untuk menulis itu sendiri. Singkatnya, menulis untuk menulis. Ketika kita menulis, kita akan diingat, tak dilupakan, dan tak hilang dalam sejarah. Ya emang dari dulu gitu kan? Itu cuma satu hal yang masuk akal saja. Tidak kurang, tidak lebih. Bukankah Pram juga bilang dalam satu kutipan di novel rumah kaca, “hidup sungguh sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.” Tentu, termasuk tafsiran kita terhadap Pram.

Jadi kalau Pram berkata “menulis adalah bekerja untuk keabadian,” maka saya akan memaknai “yang abadi adalah keberanian untuk melawan ketidakadilan.”

Sebenarnya ada dua ketakutan ketika saya hanya menulis untuk menulis saja, walaupun  yang saya tulis itu adalah bentuk perlawanan. Pertama, ketika saya sudah menulis, suara dalam tulisan itu tidak sampai ke orang yang saya lawan, sehingga perubahan tidak akan tercapai. Dan ketika saya tidak menyadari pentingnya perubahan di atas sekedar menulis, saya hanya akan menulis untuk keabadian saja, yang artinya menulis untuk mengabadikan ketimpangan-ketimpangan itu, saya tak pernah bisa benar-benar membantu mereka. Padahal yang lebih penting, tentu perubahan itu sendiri kan?

Dan sepertinya bukan berlebihan kalau saya memiliki ketakutan lainnya, ketakutan yang lebih buruk dari sekedar mengabadikan ketimpangan. Yaitu ketakutan ketika kita merayakan ketimpangan. Saya memikirkan hal ini ketika mengikuti lomba esai bertema kekerasan yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Agama dan Demokrasi Universitas Paramadina, januari kemarin. Adalah hal yang membanggakan ketika saya masuk dalam nominasi finalis, tapi memang hal yang harus saya terima adalah, saya melombakan dan merayakan ketimpangan.

Lalu saya berpikir, walaupun sudah sampai di sini, sebenarnya apa sih gunanya saya menulis? Menginspirasi orang? lha memang perubahan bisa tercapai kalau hanya dengan menginspirasi? Jangan-jangan kita ini menulis, melombakan, merayakan, dan menginspirasi itu kita lakukan sebagai bentuk ketidakmampuan dan ketidakmauan kita untuk benar-benar mencapai perubahan?

Terus harus bagaimana lagi? Ya jangan sekedar menulis, tapi bergeraklah juga untuk mencapai perubahan itu. Caranya? Baca dulu buku, artikel, jurnal, penelitian, apapun itu yang berhubungan dengan ketidakadilan yang ingin kita lawan. Bertemu langsung dengan masyarakat yang tertindas. Bantu sebisa kita dulu, susun rencana-rencana perubahan, dan laksanakan. Dan ini harus dilakukan dengan niat yang tulus dan terus menerus. Kalau tidak, ya kita akan gampang jatuh di tengah jalan.

Apa melenceng jauh dari pembahasan awal tentang menulis lalu ke pergerakan? Saya kira tidak, jika kita mempercayai bahwa yang terpenting adalah keberanian untuk melawan ketidakadilan, maka menulis atau pergerakan hanyalah salah satu alat untuk melawan. Untuk mecapai perubahan itu sendiri. Memang enak kalau ngomong saja ya, yaudah, mari menulis dan bergerak bersama.[]

Leave a Reply