Menuntut Hak-Hak Buruh Perempuan

Buruh perempuan yang tergabung dalam Front Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI) melakukan aksi unjuk rasa pada peringatan Hari Buruh Internasional (01/05). Aksi ini dilakukan di depan kantor Wali Kota Malang. Evi Afida, buruh Perusahaan Rokok Pakis Mas menuntut diwujudkannya situasi lingkungan kerja yang ramah perempuan. Evi, juga menginginkan adanya regulasi yang menjamin keamanan dari potensi kekerasan.

Evi menjelaskan, selama tiga tahun terakhir hak-hak yang dimiliki perempuan tidak diberikan. “Selama ini kami tahu bahwa ada hak untuk cuti haid dan sebagainya, tapi tidak diberikan.” Ujar Evi. “Makanya hari ini dibicarakan lagi,” tegasnya sambil memicingkan mata.

Keluhan Evi selaras dengan Undang-Undang No. 13 tahun 2003 pasal 81, yang menyebutkan, pekerja/buruh perempuan yang dalam masa haid dan merasakan sakit tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada masa haid. Selain itu, dalam pasal 82 berbunyi, pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh istirahat selama satu setengah bulan sebelum melahirkan anak dan satu setengah bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan.

Dalam sebuah forum mediasi antara FPBI dan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Malang, Nur Soleh, koordinator lapangan FPBI menuntut pemenuhan hak-hak terhadap buruh perempuan seperti cuti haid dan hamil. “Saya juga mengusulkan untuk memberikan hak cuti terhadap buruh-buruh perempuan ketika haid atau hamil sesuai dengan UU No.13 tahun 2003. Ya, kita lihat saja perkembangannya di tahun ini,” tuturnya di dalam Kantor Wali Kota.

Di waktu yang berbeda, Kepala Disnaker Kabupaten Malang, Yoyok Wardoyo mengatakan bahwa tuntutan itu akan dikomunikasikan kepada Perusahaan Pakis. “Karena kita  membiasakan mediasi untuk menyelesaikan masalah industrial,” terang Yoyok.

Maryam Jameelah anggota Resister Indonesia menjelaskan Disnaker Kota Malang belum bisa menyelesaikan masalah pemberian cuti haid dan hamil. “Disnaker kota Malang masih belum care dengan isu-isu perempuan seperti itu (cuti haid dan hamil_red) dan kayaknya mustahil mereka bakal menyelesaikan masalah itu”. Hal inilah yang membuatnya dan para buruh melakukan aksi untuk menuntut hak-hak mereka, “Salah satu cara agar tuntutan itu didengarkan adalah dengan buruh perempuan harus turun ke jalan,” tambah Maryam. []

Dwi Yulia Istiqomah
berkawandengankenangan..com

Leave a Reply