Menyoal Kultus Munir dalam HAM

Fotografer : Ahmad Ilham Ramadhani
Fotografer : Ahmad Ilham Ramadhani

“Peringatan HAM itu cuma menjadi refleksi bahwa memang dulu ada pejuang HAM. Lantas apa yang bisa kita lakukan? Kita bisa apa? Hak rakyat sedang direbut. Para cukong bermain dengan para elit. Masihkah kita diam? Saya kira tidak. Karena diam adalah pengkhianatan.”

Demikianlah kata-kata itu terlontar dari Rianda Barmawi, seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) dari Universitas Muhammadiyah Malang yang kala itu tengah menjadi salah satu panelis dalam diskusi bertajuk “Munir Muda Melawan Lupa” (10/12).

Peringatan Hari HAM Internasional yang berlangsung sehari itu, digunakan oleh para penggiat Omah Munir dengan mengadakan serangkaian acara. Serangkian agenda dibuat untuk mengenang perjuangan aktivis HAM, Munir. Sekitar pukul 22.20 WIB, ketiga panelis diskusi hadir di tengah acara. Farisca Eka R aktivis dari UIN Malang, Fatimah Suganda aktivis Intrans Institute, dan Rianda Barmawi.

Diskusi umum tentang HAM itu dihadiri oleh beragam elemen masyarakat. Mulai dari anak-anak, pemuda, hingga orang tua. Dalam diskusi umum tersebut, ketiga panelis menyatakan bahwa Munir merupakan sosok aktivis HAM yang hidup pada rezim Orde Baru. Munir mengadvokasi kasus buruh di mana pada era Soeharto, serikat buruh sangat dikekang oleh pemerintah, serta kasus pelanggaran HAM lainnya. “Sejak Orde Baru, HAM sudah menjadi isu tidak disukai penguasa” ujar Haris El-Mahdi, Dosen Sosiologi Universitas Brawijaya.

Fatimah Suganda, salah satu panelis mengatakan bahwa pada kasus advokasi buruh yang dilakukan Munir, akan berubah jika para buruh memiliki kekuatan. Mereka akan dituduh sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Saat itu PKI telah mendapatkan citra buruk semenjak terjadinya tragedi-tragedi kekerasan yang terjadi pada tahun 1965. Perjuangan Munir memperjuangkan hak para buruh pun akhirnya mendapat kemenangan. Pada tahun 1992 saat rezim Orde Baru, kasus advokasi Munir pun untuk pertama kalinya berhasil dimenangkan.

Senada dengan Fatimah, menurut Rianda kali ini rezim Orde Baru memang sudah tumbang. Namun, antek-antek atau kroni-kroninya masih ada di kalangan masyarakat. “Itulah yang hingga kini membuat kekerasaan semakin merajalela,” ujar mahasiswa yang akrab disapa Rian itu. Ia menuturkan masih banyak kekerasan yang dilakukan oleh kalangan aparat yang terjadi secara semena-mena. Contohnya saat terjadinya aksi demo dan aksi penolakan pelanggaran HAM, masih banyak korban berjatuhan.

Belum genap setahun, kasus kekerasan dan pelanggaran HAM masih sempat terjadi. September 2015, kasus pembunuhan aktivis tambang Lumajang misalnya menjadi sorotan publik. Salim Kancil tewas dan satu korban lainnya terluka parah. Kasus lain, di Kota Malang, tepatnya di daerah pesisir Malang Selatan juga terjadi pelanggaran HAM. Untung, salah seorang pegiat aktivis lingkungan, berusaha mempertahankan hak hidupnya atas lingkungan. Untung mengalami intimidasi dan diskriminasi sosial.

Fatimah mengungkapkan bahwa peringatan Munir sebagai aktivis HAM seharusnya tidak hanya sekedar menjadi kultus, peringatan yang dijadikan seremonial tiap tahunnya. “Seharusnya perjuangan Munir dapat menjadi spirit kita,” ujarnya. Menurut Fatimah, Munir dapat menjadi sesuatu yang imortalitas. “Imortalitas itu muncul karena orang sudah menanggalkan, membuang motif-motif privat untuk melebur bersama masyarakat untuk memperjuangkan hak publik,” ungkapnya.

Bagi Fatimah, imortalitas terjadi ketika manusia telah tiada, namun masih ada perjuangannya yang bersifat berkelanjutan. ”Yang membuat sesuatu menjadi abadi adalah sustainable, keberlanjutan perjuangan dari orang-orang yang berjuang tersebut. Bukan sekedar menjadi ikon-ikon yang bersifat ritus,” ujar aktivis yang pernah menjadi Intership Volunteer Asia Justice and Rights Jakarta itu.

Dalam konsep imortalitas ini, raga yang tidak abadi bisa menjadi abadi apabila meninggalkan jejak-jejak pengabdian. “Munir sedih di liang lahat sana. Perjuangan saya (Munir_red) tidak diteruskan. Kalian hanya mengenang. Bukan itu permintaan Munir. Tapi, melanjutkan perjuangan Munir itulah yang utama,” tegas Rian. [Luluk Khusnia]


Editor : Ahmad Ilham Ramadhani


UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply