Menyoal Pemberlakuan Jam Malam di Student Center UIN Malang

Pemberlakuan jam malam bagi Organisasi Mahasiswa Intra Kampus (OMIK) pada pukul 07.00-20.00 WIB kembali disosialisasikan oleh pihak Kemahasiswaan di ruang sidang Student Center pada bulan November 2017. Menurut Abdul Aziz, Kepala Bagian Kemahasiswaan, kebijakan ini dikeluarkan sebagai pendisiplinan diri, penertiban kantor OMIK, dan antisipasi tindak asusila. Namun, kebijakan ini dikeluhkan oleh beberapa anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) karena merasa jam malam telah membatasi hak mahasiswa untuk berkreasi.

Ivan Najib, Ketua Umum UKM Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Tursina menyayangkan kebijakan jam malam tersebut. Menurutnya, kebijakan tersebut dapat berimbas pada keaktifan anggotanya. “Waktu berkumpulnya itu yang kurang,” ucapnya. Najib menambahkan, dengan jam kuliah yang berbeda-beda, para anggota Mapala Tursina sulit untuk berkumpul bersama. “Jam segini (11.03 WIB_red) belum pada datang. Akhirnya di sini sepi. Nah, nanti kumpul itu pasti jam habis kuliah, mungkin jam enam. Cuma dua jam kita kumpul, saya rasa itu minim,” ujar mahasiswa Jurusan Akuntansi itu.

Senada dengan Najib, Muhammad Habibur Rohman, Ketua Umum UKM Teater Komedi Kontemporer (TK2), berpendapat bahwa pemberlakuan jam malam akan membatasi kreativitas anggotanya. “Kita jadi lebih terbatasi. Kita maksimal berhenti kuliah jam lima sore, dan paling tidak teman-teman kumpul habis magrib. Kita dari habis magrib sampai jam delapan, kiranya hanya dua jam kumpul,” keluhnya.

Rohman menambahkan, permasalahan utama yang ia rasakan adalah tidak adanya fasilitas penunjang untuk berlatih dikarenakan UKM harus ditinggalkan pada pukul 20.00 WIB. “Kita otomatis kehilangan fasilitas yang ada di kantor (UKM_red), peralatan dan sebagainya, sehingga kurang maksimal,” imbuhnya.

Menanggapi keterbatasan waktu berkumpul bagi anggota UKM, seperti yang dikatakan oleh Najib dan Rohman, Aziz mengatakan bahwa mahasiswa bisa memanfaatkan jam kosong perkuliahan untuk berkegiatan di UKM. “Meskipun mahasiswa setiap hari kuliah, tidak mungkin mahasiswa itu kuliah dari jam tujuh pagi sampai jam delapan malam. Kan masih bisa besok pagi,” ucap Aziz. Ia pun mengakui untuk mahasiswa baru yang mengikuti UKM, adanya keterbatasan waktu dikarenakan wajib mengikuti Program Pengembangan Bahasa Arab (PPBA). “Kuliah PPBA itu dari jam dua sore sampai jam delapan malam, gak bisa diganggu,” imbuhnya.

Aziz juga menjelaskan bahwa kebijakan jam malam diberlakukan bukan tanpa alasan. “Dulu, UKM itu dijadikan tempat tidur. Yang terjadi adalah UKM-nya kumuh. Jika mahasiswa tidur di sana kan tidak menutup kemungkinan juga ada mahasiswi yang tidur di situ, karena pengurus UKM itu laki-laki dan perempuan,” jelas Aziz.

Masih menurut Aziz, kebijakan jam malam sebenarnya sudah diterapkan sejak lama. Ia mengatakan, “Itu keputusan dari Surat Keputusan (SK) Rektor pada zaman Rektor Prof Imam. Tidak boleh UKM dijadikan tempat tidur. Saya kira aturan ini tidak mungkin diubah, karena itu kemunduran. Kita ini sudah maju, menjadikan UKM itu benar-benar tempat kerja”.

Terkait adanya potensi tindakan asusila seperti yang dikhawatirkan oleh pihak Kemahasiswaan, Najib mengusulkan  agar jam malam perempuan dan laki-laki dibedakan. “Jadi, seluruh anggota yang perempuan tidak boleh tidur atau beraktivitas di kantor pada saat malam hari, jadi gak ada perempuan, kalo yang laki-laki biarin tetap beraktivitas,” ucap Najib.

Namun, Aziz berpendapat, jika mahasiswa masih melakukan kegiatan di malam hari, maka sama saja sudah menyalahi kodrat manusia. “Malam-malam di sini mau apa? Kan mereka punya kos-kosan, ya mending pulang ke kos-kosan, sesuai  dengan aturan Al-Quran, siang dipakai untuk bekerja, malam untuk istirahat. Jangan menyalahi kodrat manusia,” jelasnya.

Lain halnya dengan yang dikatakan oleh Aziz, Najib justru beranggapan bahwa jam malam sudah menjadi suatu kebutuhan. “Kebutuhan bersama bagi organisasi. Bukan masalah pribadi yang untuk tidur, tapi kreativitasnya anak-anak ini. Kasihan ketika mau rapat harus keluar. Yang disayangkan di situ,” ucapnya. Najib menambahkan, Mapala juga menaungi SAR (Search And Rescue), yang harus terus stand by. “Semisal hari ini ada bencana di Pacitan, malamnya akan ada koordinasi dengan Mapala se-Malang Raya, koordinasi dulu, di sini rapat, apa yang mau kita jalankan di sana, berangkat kita bareng-bareng dari sini”, imbuh Najib.

Menyadari adanya keluhan dari mahasiswa terkait jam malam, pihak Kemahasiswaan akan terus melakukan pertemuan dengan anggota UKM guna menyosialisasikan dan mengingatkan kembali tentang kebijakan jam malam. “Kita akan kontinu, secara terus-menerus melakukan pertemuan-pertemuan dengan  UKM. Tidak hanya itu kita juga akan mengajukan kegiatan pelatihan kepemimpinan dan keorganisasian. Perkiraan pada bulan Maret dan April,” ucapnya saat ditemui di Kantor Kemahasiswaan pada hari Senin (19/2).

“Kita masih cari-cari jalan lagi, soalnya kemauan Mapala untuk ini (jam malam_red) juga tinggi, Lha di sini ini tempat kita bisa kumpul bareng. Gunanya sekretariat kan itu, untuk kumpul anggota. Basecamp lah anggapannya gitu. Kalau kumpul kurang, ya efeknya kreativitas juga berkurang,” pungkas Najib. []

Riyandanu
Seorang remaja laki-laki yang diberkahi sedikit kalori

Leave a Reply