Merayakan Hari Musik, Merayakan Kembali Folk

Sejak saya merantau ke Malang, saya kerap kali akrab dengan bis antar kota yang selalu saya tumpangi, baik pulang ataupun pergi. Sepanjang perjalan itu, saya selalu tertarik kepada jalan pantai utara. Tiap melewati batas kota, saya selalu berbincang dengan diri saya, atau sesekali melempar bahan obrolan ke penumpang lain; obrolan masa lalu kota-kota,  supir-supir truk angkutan pabrik, atau buruh-buruh lepas yang dilempar ke sana kemari untuk menghidupi keluarganya. Semacam sebuah tradisi pribadi; melihat kehidupan bernegara tanpa kehadiran negara.

Belakangan, saya ingin menulis cerita itu, namun selalu ada hambatan. Sebuah ketakutan akan keangkuhan gambaran cerita yang seolah-olah mewakili mereka. Alhasil, saya mengambil inisiatif lain. Saya kerap mencari tulisan ataupun karya seni lain yang dapat mewakilkan keinginan saya. Pada saat yang sama itu, saya bertemu dengan Silampukau. Duo musisi asal Surabaya yang liriknya dikenal jujur, lugas dan ekspresif.

Pertemuan saya dengan Silampukau, barangkali sama halnya pertemuan Seegers ketika ia menyaksikan Mountain Dance and Folk Festival di Asheville, North Carollina (1936). Sama-sama kagum dan lekas berkata, “What the fuck, what the genre of this music?!” dan yang mendengar akan menjawab, “It’s Folk!”. Namun sayang perbedaan kami, Seegers adalah musisi Jazz (asal amerika), sedang saya hanya penikmat musik. Jadi, ia pantas menjelaskan lebih dari saya apa sebenarnya itu music Folk.

Sebagai musisi Jazz terlatih, Seegers merasa aneh ketika ia hadir dalam festival itu. Ia merasakan hal berbeda. Kala itu, Seegers dibuat terpukau oleh seorang musisi Folk yang dengan lincahnya memainkan ritme dan melodi Banjo diiringi lirik lagu yang baginya bagai sebuah “suara rakyat” yang diiringi oleh instrumen alat musik. Mendengarnya, membuat ia serasa hadir di tengah rakyat Amerika.

Seegers kemudian mengatakan, “Dibandingkan hal-hal sepele dari lagu yang paling populer, kata-kata lagu ini memiliki semua isi kehidupan manusia. Mereka menyanyikan pahlawan, penjahat, pembunuhan, bodoh… Di atas itu semua, mereka tampak jujur dan lugas.” Selepas itulah, Seegers segera memutar haluannya kepada Folk.

Folk sebenarnya bukan sebuah genre, ia lebih luas dari itu. Ia merupakan tradisi lama. Tradisi lisan masyarakat yang dilempar melalui mulut ke mulut dan sampai ke telinga pendengar. Folk adalah dongeng tutur masyarakat. Dua Kamus Besar Bahasa Inggris, seperti Oxford Dictionary dan Merriam Webster juga misalnya memaknai musik Folk dengan definisi ini. 

Kilas Balik Folk Indonesia

Bila kita melihat kilas balik bagaimana Folk mulai berkembang di Amerika  pada tahun 60-an misalnya, kita akan mengenal banyak nama besar yang mengisi panggung musik Folk dunia, seperti Bob Dylan, Joan Baez hingga Peter Seegers. Mereka adalah generasi Folk Kontemporer pertama, yang lagu-lagunya terdengar di tiap sudut kota melalui radio generasi muda saat itu.

Pertanyaannnya adalah siapakah musisi Folk Indonesia generasi pertama? Denny Sakrie dalam bukunya  “100 Tahun Musik Di Indonesia” menetapkan bahwa generasi pertama musik Folk di Indonesia adalah bermula dari Gordon Tobing. Gordon Tobing, musisi Folk pertama yang lahir di Medan, Sumatera Utara pada tahun 1925.

Tobing mengawali karir musiknya dengan belajar secara otodidak. Pada tahun 1950, ia memutuskan merantau ke Jakarta untuk bertaruh di dunia musik. Ia dan kawan-kawannya membentuk kelompok vokal bernama Sinondang Tapian Nauli. Meski sempat membuat satu file rekaman di Lokananta, tetap akhirnya grup ini tidak bertahan lama.

Selanjutnya Tobing membuat grup vokal kedua kalinya bersama sang isti Theresia Hutabarat. Grup ini dinamakan Impola. Memasuki tahun 60-an, Tobing dan istrinya berhasil membawa grup vokal ini ke kancah Internasional. Pada tahun 1969 misalnya Impola terpilih sebagai wakil Asia yang akan mewarnai pentas music di Art Festival Of Pert. Festival yang disenggelarakan oleh Tim Ahli Seni Australia.

Kesuksesan Tobing membawa musik Folk Indonesia ke kancah internasional, ternyata juga mengilhami banyak musisi Indonesia untuk turut serta dalam gelanggang musik Folk. Terlebih, fungsi Folk yang dianggap sebagai media tutur rakyat itu sangat cocok dipakai pada era 60-80an. Beberapa musisi masyhur yang ikut terjun diantaranya adalah Iwan Fals, Franky Silatahua, Remy Sylado, bahkan sampai sastrawan besar W.S. Rendra pun ikut menjajaki karir di sana bersama band besar Kantata Takwa.

Dalam era-era tesebut, musik Folk banyak berperan dalam menggambarkan suasana masyarakat saat itu. Tema yang diangkat selalu lekat dengan penindasan, represi militer, orang-orang pinggiran, bahkan sampai tema romantik kealaman yang dibawakan oleh Gombloh. Folk berhasil menjadi kanvas peradaban sampai lengsernya Soeharto dan diiringi oleh pergantian ketenaran Folk dengan musik-musik Pop.

Bangkitnya Musik Folk Indonesia

Folk tenggelam dan digantikan oleh Pop di awal era 2000an. Musik-musik Folk yang biasa di dengar oleh masyarakat, tenggelam di bawah riuh industri musik yang sedang naik daun. Industri label rekaman saat itu lebih banyak meminati musik pop. Namun menjelang tahun 2010 ke atas, musik Folk kembali mengisi dunia musik Indonesia. Bangkitnya musik Folk di Indonesia, juga disebabkan oleh naiknya industri label musik bernama “Independen Industri” atau yang kerap disebut Indie.

Proses penerbitan lagu yang semula harus melalui prosedural label rekaman yang ketat, kini sudah dapat dilakukan dengan sederhana melalui kerjasama tim seorang musisi (manajemen). Beberapa dari mereka seperti Jason Ranti, hanya menggunakan label rekaman rumahan dengan alat rekaman seadanya. Musik-musik yang telah direkam biasanya akan dimasukkan ke dalam Youtube sebagai media alternatif yang menjadi pesaing industri televisi.

Tidak hanya mengisi ruang industri perekaman, musik-musik Folk kerap kali menghadiri pentas-pentas besar seperti Syncrhonize Fest, Hammersonic, dan Sound From The Corner. Bahkan, musik-musik Folk juga sering mewarnai pentas-pentas yang diadakan oleh rakyat. Sebut saja, Jason Ranti, salah satu musisi Folk Indonesia, yang pernah bersenandung bersama mahasiswa dan msyarakat di acara #ReformasiDiKorupsi beberapa tahun lalu.

Kebangkitan ini juga banyak melahirkan musisi baru yang turut serta dalam gelanggang kebangkitan musik Folk Indonesia. Beberapa daftar musisi selain Jason Ranti di atas yang bisa disebutkan diantaranya: Iksan Skuter, Silampukau, Danilla Riyadi, Payung Teduh, sampai Iwan Fals pun masih turut berpartisipasi. Selain itu, beberapa musisi juga sudah merambah kancah Internasional, satu diantaranya adalah Stars And Rabbit.

Apapun itu, musik Folk kini kembali. Masyarakat kembali menemukan ruang ekspresi seni mereka melalui musik. Begitu pula, dongeng pitutur masyarakat kembali berlanjut. Selamat Hari Musik Sedunia, lur![]

Tinggalkan Balasan