Militer dan Kekerasan Terhadap Wartawan

Senin (3/10), sejumlah wartawan Malang Raya melakukan aksi turun jalan di depan gedung Balai Kota Malang. Aksi turun jalan ini dilakukan terkait kasus kekerasan yang menimpa wartawan Net TV, Soni Misdananto di Madiun. Pada Minggu (2/10) Soni dipukuli sejumlah anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) dari Batalyon Infanteri 501 Raider Madiun. Ia dihajar dan peralatan kerjanya dirusak saat melakukan peliputan.

Pada aksi tersebut,  peserta aksi menyusun sepatu sedemikian rupa sehingga terlihat seperti menginjak kamera dan kartu pers sebagai simbol tindakan represif yang dilakukan militer selama ini. Indro Tjahjono, aktivis mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) 1978, berpendapat bahwa sepatu memang selalu menjadi simbol sikap represif yang dilakukan oleh aparat militer. Dulu, Indro sempat diadili karena sikap kritisnya terhadap pemerintah militeristis Soeharto. Dalam pleidoi atau tulisan pembelaannya berjudul “Indonesia di bawah Sepatu Lars”, ia mengidentikkan militer dengan sepatu larsnya.

Kekerasan yang dilakukan militer terhadap wartawan diduga karena kurangnya sosialisasi tentang hak-hak wartawan dalam memperoleh informasi. “Sosialisasi tidak sampai pada militer pada jajaran bawah” ujar Yatimul Ainun, sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) 2015, saat orasi di depan Balai Kota Malang. Selain itu, Yatimul juga menjelaskan posisi militer dan wartawan saling bekerja sama untuk membangun demokrasi.

Kekerasan yang dialami Soni juga sangat disayangkan karena menambah daftar panjang kekerasan yang dialami wartawan. AJI mencatat, mulai Mei 2015 sampai April 2016, terjadi 39 kasus kekerasan pada jurnalis dalam berbagai bentuk. Seperti pengusiran, pengerusakan alat, hingga kekerasan fisik. Sedangkan untuk tingkat kebebasan pers Indonesia menempati urutan 130 dari 180 negara di dunia untuk Indeks Kebebasan Pers 2016 versi Reporters Without Borders for Freedom Information (RSF). Posisi ini menempatkan Indonesia berada di bawah Aljazair, Angola, Chad, Guatemala, Kamerun, Zimbabwe, bahkan Afghanistan dan Israel. Di Asia Tenggara, posisi Indonesia bahkan kalah dengan Kamboja yang menempati urutan 128 dan Timor Leste di urutan 99.

Selain tindakan represif dalam bentuk kekerasan, wartawan kerap dipersulit ketika meminta data ataupun informasi kepada anggota militer. Dalam hal ini, Hari Istiawan, ketua AJI Malang mencontohkan anggota militer yang mempersulit wartawan ketika meminta data terkait gaji dengan dalih rahasia negara. “Kan lucu militer itu digaji negara tapi kita tidak boleh tau gajinya,” ujar Hari.

Dalam aksi ini, wartawan Malang Raya mengeluarkan pernyataan sikap sebagai berikut: mengutuk tindakan kekerasan aparat TNI terhadap wartawan yang tengah melakukan tugas jurnalistik; meminta pengusutan mendalam insiden penganiayaan ini; serta panglima TNI harus melakukan evaluasi terhadap jajaran bawahannya tentang tugas pokok prajurit dalam melindungi dan mengalami masyarakat, mengingat kasus pemukulan terhadap wartawan makin kerap terjadi; menghukum seberat-beratnya anggota TNI AD Batalyon Infanteri 501 Rider Madiun; serta mendesak Dewan Pers dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia melakukan upaya khusus terhadap institusi TNI untuk menghentikan tindak kekerasan terhadap pekerja media dan masyarakat sipil. [Achmad Gilang Rizkiawan]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply