Mohammad Najih: Orba Tidak Hilang, Hanya Ganti Baju

  Omah Munir, Rabu (7/9), dipadati sejumlah 253 pengunjung yang menyaksikan pemutaran dan diskusi Film Garuda’s Deadly Upgrade dan His Story. Acara tersebut menjadi salah satu rangkaian kegiatan Malang Menyimak Munir: Pekan Merawat Ingatan 12 Tahun Munir. Acara yang bertempat di Jalan Bukit Berbunga 2, Kota Batu ini digelar untuk mengingat Munir Shaid Thalib, seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang meninggal dunia. Munir diracun saat menaiki maskapai penerbangan Garuda tujuan Amsterdam, Belanda. Kasus pembunuhan Munir pun masih dirasakan janggal oleh teman-teman sesama aktivisnya.

  Warga sipil membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) untuk mengusut siapa dalang di balik pembunuhan Munir. TPF menemukan ada keterlibatan Badan Intelejen Negara (BIN) dan militer dalam kasus pembunuhan Munir. Namun, sampai saat ini temuan TPF tak kunjung diproses oleh negara.

  Mohammad Najih, salah satu pengisi diskusi menerangkan, keterlibatan BIN dan militer mengindikasikan belum terlepasnya “baju” Orde Baru (Orba) pada era reformasi ini. “Orba tidak hilang, hanya ganti baju,” ucap salah satu teman Munir di Universitas Brawijaya Malang itu.

 Najih juga menambahkan, masih banyak purnawirawan TNI, kaki tangan Soeharto yang menjabat di pemerintahan. Lebih lanjut, ia menjelaskan masih belum terlepasnya “baju” Orba juga ditandai dengan banyaknya kasus pembunuhan sejumlah aktivis dan wartawan yang tak diungkap. Pembunuhan aktivis buruh Marsina, Udin Jurnalis Harian Bernas, Jafar Sidiq Hamzah Ketua Internasional Forum Aceh (IFA), Theys Hiyo Eluai aktivis Gerakan Papua Merdeka, dan sederet kasus lainnya yang tak terselesaikan.

  Masih adanya “baju” Orba pada era reformasi ini juga diamini oleh Jati, salah satu peserta diskusi. Menurutnya, terbunuhnya para aktivis, salah satunya Munir, juga sebagai tanda masih adanya penerapan teori Machiavelli yang diterapkan pada masa Orba. “Bunuh warga sipil yang menentang, kalau perlu menghilangkan efeknya sampai 3 generasi,” ucapnya ketika memberikan pernyataan dalam diskusi.

  Machiavelli merupakan tokoh filsafat politik yang terkenal dengan bukunya yang berjudul Sang Penguasa. Buku tersebut membahas cara untuk mempertahankan kekuasaan dengan cara apapun, termasuk pembunuhan bagi orang yang tidak dikehendaki.

  Selain itu, masih banyaknya partai politik yang diketuai purnawirawan TNI juga menjadi penguat dugaan belum terlepasnya “baju” Orba. “Lihat Hanura, Gerindra. Mereka semua pecahan Golkar. Ketua mereka purnawirawan TNI,” imbuh Jati.

  Kasus Munir tidak pernah diusut tuntas oleh pemerintah. Pada penyelidikan tahun 2005 lalu, pengadilan hanya memutuskan Pollycarpus Budihari Priyanto, salah satu pilot Garuda sebagai tersangka yang turut serta membunuh Munir. “Putusan hakim kala itu mengatakan Pollycarpus turut serta, berarti masih ada tersangka lain,” ungkap Najih.

 Acara peringatan 12 tahun meninggalnya Munir tersebut juga digelar dalam upaya menuntut keadilan atas korban-korban pelanggaran HAM. Dalam presss release, terdapat beberapa tuntutan yang disampaikan. Antara lain, meminta Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo untuk segera membuka hasil Tim Pencari Fakta atas kasus aktivis HAM Munir, memecat seluruh Tim Mawar dari jabatan apapun di pemerintahan, serta menonaktifkan pelaku-pelaku kejahatan HAM masa lalu dari jabatan-jabatan poltik.

   Rangkaian kegiatan Malang Menyimak Munir: Pekan Merawat Ingatan 12 Tahun Munir, akan dilanjutkan dengan aksi Kamisan pada hari Kamis (8/9). Sabtu (10/9) mendatang juga akan diadakan Nonton Bareng serta Diskusi Film Kiri Hijau Kanan Merah dan Tuti Koto A Brave Woman. [Achmad Gilang Rizkiawan]

 

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply