Nasionalisme Tidak Harus Menghilangkan Ideologi Lain

Walikota Malang, Sutiaji mengisi materi di acara Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Malang (13/8).  Dalam acara tersebut Sutiaji membawakan materi dengan tajuk Nasionalisme dan Kemandirian Bangsa. Menurutnya, mahasiswa saat ini mesti memiliki jiwa nasionalisme tinggi dan menghilangkan ideologi ekstrim. “Yang paling penting mahasiswa mesti menjadi pilar tunas bangsa. Maka ideologi ekstrim kanan radikal, ekstrim kiri sosialis dan komunis, akan jadi ancaman bagi bangsa kita,” tegasnya.

Sutiaji juga menjelaskan jika ideologi-ideologi ekstrim tersebut tersebar secara masif melalui internet dan berita hoaks. “Ada kegelisahan ketika ada yang tak benar, dengan kekuatan yang ada pada diri kita, jangan diam dan jangan sampai terbawa arus, seperti berita hoaks dan sebagainya,” ujarnya di depan 3.701 mahasiswa baru.

Berbeda dengan In’amul Musthofa, Redaktur Intrans Institute  saat ditanya tentang nasionalisme, dia menuturkan bahwa seseorang bisa dikategorikan berjiwa nasionalisme adalah dia yang merujuk kepada landasan dan tujuan negaranya sendiri, “Sekali lagi kita mesti melihat lagi tujuan nasionalisme dibangun seperti apa,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan jika negara Indonesia didirikan dengan melindungi, mencerdaskan, mensejahterakan rakyatnya serta ikut andil dalam perdamaian dunia. “Kalau orang yang benar-benar nasionalis, mesti acuannya keempat ini, jadi otomastis orang itu tau kenapa negara ini didirikan, dan kenapa harus memperjuangkannya,” jelas In’am. In’am melanjutkan begitu seseorang melupakan prinsip dari sejarah negara didirikan dia tidak bisa dikatakan nasionalis. “Kalo sekedar upacara hormat kan itu simbolis, kalo sekedar cinta indonesia dan tidak memperjuangkan yang empat tadi ya hoaks aja,” jelas laki-laki yang juga menjadi Direktur Intrans Institute tersebut.

Menurut In’am pula jiwa nasionalisme tidak perlu menghilangkan ideologi lain, termasuk ideologi kanan atau ideologi kiri. “Jiwa nasionalisme itu bisa kompatibel dengan kanan, bisa pula dengan kiri,” kata In’am. In’am menambahkan jika menjadi nasionalisme tidak mesti membabat ideologi kanan atau kiri, tapi memahami fikiran pendiri negaranya. []

Leave a Reply