Papua, Diskriminasi dan Upaya Perdamaian

Mahasiswa Papua se-Jawa dan Bali melakukan Konferensi Pers di sekretariat Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Malang (25/08). Salah satu pernyataan sikap dari Konferensi Pers itu adalah menuntut Pemerintah Indonesia untuk menghentikan agenda pencitraan yang bertujuan menjebak pelajar dan mahasiswa Papua. Ima Pelle selaku Ketua Umum IPMAPA Malang menyebutkan salah satu agenda pencitraan terjadi di Malang dalam acara yang bertajuk “Bhineka Tunggal Ika Indah di Bhumi Arema”.

Acara tersebut diselenggarakan oleh para mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Malang Tunggal Ika di Bundaran Simpang Balapan, Kota Malang (23/08). Dalam acara itu hadir David Cristian Nauw mahasiswa asal Timika, Papua yang kuliah di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang.

Seperti yang dilansir timesindonesia.co.id dalam berita Mahasiswa Asal Papua Mengaku Orang Malang Ramah, David mengatakan “Orang Malang tidak seperti yang diberitakan di medsos. Mereka ramah dan cinta perdamaian”. Namun David meluruskan pernytaannya itu dalam konferensi pers, bahwa pernyataan yang ia keluarkan hanyalah berdasarkan sudut pandang pribadi.

Ia tidak mewakili seluruh mahasiswa Papua maupun paguyuban-paguyuban Papua. “Itu hanya murni sudut pandang pribadi saya. Apa yang saya rasakan itu yang saya sampaikan di Malang,” ujar David di sekretariat IPMAPA Malang.

Awalnya David tidak tahu kalau acara itu adalah acara besar yang diliput banyak media dan dihadiri oleh pejabat-pejabat di Kota Malang. Menurut timesindonesia.co.id, acara itu dihadiri oleh Wali Kota Malang, Wakil Wali Kota Malang, Kapolres Malang Kota, Kapolres Kabupaten Malang, dan Kapolres Batu. Hadir juga Dandim 0833 Kota Malang, Ketua PD XIII GM FKPPI Jawa Timur, Ketua PCNU Kabupaten Malang, Rektor UNIRA Malang, HMI Kota Malang, serta GMNI Malang Raya.

David mengatakan kalau awalnya ia hanya diajak saudaranya untuk pergi makan dengan teman-teman. “Setelah sampai di situ, ternyata bukan seperti yang saya duga sebelumnya. Ternyata itu adalah event besar yang sudah diliput oleh media dan dihadiri oleh para tamu undangan yang lain,” ujarnya.

David mengaku kalau Ia lalai dengan pernyataan sikap IPMAPA Malang pada tanggal 21 Agustus 2019 kepada seluruh pelajar dan mahasiswa Papua di Malang untuk menolak undangan dalam bentuk apapun. Sikap penolakan ini dinyatakan untuk menghindari pembentukan opini yang tidak sesuai dengan kondisi mahasiswa Papua. “Saya lalai dan kurang mengenai informasi pernyataan sikap yang sudah diambil bersama oleh teman-teman mahasiswa Papua. Itu yang saya terlambat informasinya di situ,” ucap David.

David menambahkan, mahasiswa Papua tidak terlibat sama sekali dalam kepanitiaan acara itu. “Kegiatannya sudah diagendakan. Pakaian adat sudah disediakan oleh panitia di situ,” terang David.

Peristiwa Jebakan yang Pernah Dialami Mahasiswa Papua

Mengenai peristiwa ini, Ima Pelle selaku Ketua Umum IPMAPA Malang mengatakan, tidak ada undangan resmi dari panitia penyelenggara acara kepada IPMAPA Malang maupun Organisasi Daerah Papua. Pelle menuding ada pihak yang menjebak David dan teman-temannya untuk datang di acara itu. “Sehingga mereka itu menjebak anak-anak yang selama ini di posisi itu hanya kampus-kuliah kampus-kuliah gitu, jadi tidak ada undangan (kepada IPMAPA Malang), mereka menjebak dari luar,” ujar mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Menurut data IPMAPA Malang, peristiwa jebakan ini sudah beberapa kali dialami oleh mahasiswa Papua di Malang. Sebelumnya pada tanggal 14 Maret 2019, peristiwa jebakan acara dialami oleh mahasiswa berinisial YY dan DG dari Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang. Waktu itu Kepolisian Negara Republik Indonesia Resort Malang (Polri) mengundang Kemahasiswaan Unitri Malang dalam acara “Menangkal Konflik Horizontal antara Mahasiswa Papua Daerah Pegunungan dengan Mahasiswa Papua Daerah pantai”.

Warter Agustim selaku dosen Unitri Malang kemudian mengajak YY dan DG sebagai perwakilan mahasiswa Papua untuk mengikuti acara yang diadakan di Gets Hotel, Kota Malang. Namun setelah sampai di lokasi, ternyata tema acara itu adalah “Deklarasi Mahasiswa Papua Mendukung Pemilu 2019 yang Aman dan Kondusif, NKRI Harga Mati”. Tema acara itu berbeda dari yang disebutkan di undangan Polri.

Setelah acara itu selesai, muncul berita di media seperti suryamalang.com, lensaindonesia.com, sinarpos.co.id, dan malangtoday.net. Salah satu berita di lensaindonesia.com berjudul “Polri Ajak Mahasiswa Papua di Malang Sukseskan Pileg dan Pilpres 2019”. Hal ini meresahkan pihak Kemahasiswaan Unitri Malang serta mahasiswa-mahasiswa Papua lainnya.

Agus Suprojo selaku Kepala Biro Kemahasiswaan Unitri Malang, kemudian memberikan klarifikasi secara tertulis pada tanggal 18 Maret 2019. Dalam klarifikasi itu, Agus menjelaskan bahwa tema acara kurang sesuai dengan yang disebutkan di undangan. Kemudian Agus menyatakan “diharapkan kepada mahasiswa yang didelegasikan dapat kembali secara penuh dalam mengikuti kegiatan akademik tanpa beban psikologis.” Selain itu, pihak Kemahasiswaan akan menjalin komunikasi yang baik dengan Organisasi Mahasiswa Papua.

Menyikapi Peristiwa Jebakan Acara

Frans Huwi selaku anggota IPMAPA Malang mengatakan kalau peristiwa jebakan acara ini dibentuk untuk menggiring opini publik yang tidak sesuai dengan kondisi mahasiswa Papua di Malang. Menurut Frans, peristiwa jebakan acara merupakan rangkaian perlakuan represif dari aparat negara seperti peristiwa pemukulan mahasiswa Papua di aksi New York Agreement (15/08) dan pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya (16-17/08).

“Itu bukan semata-mata tindakan represif dan rasisme. Tapi menurut kami itu adalah tindakan penjajahan yang kemudian dilakukan secara terstruktur oleh negara,” ujar Mahasiswa Universitas Merdeka Malang itu.

Menurut Frans, negara telah menggiring opini publik bahwa mahasiswa Papua yang tinggal di Malang damai dan baik-baik saja. Negara, masih menurut Frans, ingin menutupi fakta bahwa mahasiswa Papua sering didiskriminasi karena melakukan diskusi dan aksi damai menuntut pemberian hak untuk menentukan nasib sendiri. “Tidak ada kata damai, harus diberikan hak menentukan nasib sendiri melalui referendum,” ucapnya.

Frans menghimbau kepada seluruh mahasiswa Papua untuk tidak terprovokasi dengan apapun dan siapapun. Hal ini supaya tidak terjadi lagi pembentukan opini yang tidak sesuai dengan kondisi mahasiswa Papua di Malang.

Setelah mendapatkan himbauan dari IPMAPA Malang, David meminta maaf kepada seluruh teman-teman di Indonesia. “Saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya terhadap teman-teman mahasiswa, ketua IPMAPA, anggota paguyuban lain dan seluruh teman-teman di Indonesia yang merasa tersinggung, merasa terusik, dengan pemberitaan yang beredar,” ujar David.

“Dan saya harapkan temen-temen jangan sampai menghakimi saya dan teman-teman terlalu jauh. Bisa pahami posisi kami pada waktu itu,” tambah David.

Mencari Orang yang Mengajak David

Frans dan teman-temannya di IPMAPA kemudian berusaha mencari pihak yang mengajak David ke acara “Bhineka Tunggal Ika Indah di Bhumi Arema”. Menurut Frans, IPMAPA belum bisa mengidentifikasi siapa pihak yang mengajak David. “Aktornya memang belum bisa kami identifikasi. Kami mengalami kendala mengungkap langsung karena bagi kami itu merupakan skenario yang sudah dibangun begitu rapi oleh negara,” ucap Frans.

Menanggapi hal ini, Sutriyadi selaku panitia “Bhineka Tunggal Ika Indah di Bhumi Arema” membenarkan tidak adanya surat resmi. Ia bersama teman-teman dan warga Malang berinisiatif untuk membuat acara itu. Sutriyadi mengatakan kalau acara itu bertujuan untuk menjaga persatuan bangsa dengan masyarakat Indonesia yang ada di Malang, termasuk mahasiswa Papua.

“Kegiatan itu ndak formallah, jadi proses pelaksanaan itu tidak menggunakan surat. Jadi kita ingin nyantai saja. Kita ingin duduk bareng dan makan bareng,” ujar Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Malang itu. Sutriyadi juga mengatakan kalau semua tamu undangan juga diundang tanpa surat resmi. “Ini anak-anak mau kumpul, barangkalai ada waktu untuk makan bareng di sana,” ujar Sutriyadi mengulang undangan lisannya ke tamu-tamu yang hadir di acara itu.

Terkait undangan ke David, Sutriyadi mengatakan kalau yang mengajak adalah kenalannya, warga Malang yang bernama Ading. Sebelumnya, Ading mengaku sudah kenal dengan David dan mengapresiasi pandangan David terhadap warga Malang.

“Saya mengapresiasi karena dia mengatakan kepada saya bahwa ya itulah yang dia rasakan. Persoalan itu mewakili anak Papua atau tidak, itu ndak terlalu penting buat saya. Karena tujuan dari kegiatan itu adalah keikhlasan yang sama untuk membangun persaudaraan dengan siapapun,” ujar warga Kecamatan Dau, Kabupaten Malang itu.

Ading membantah kalau ia menjebak David. Menurut Ading, ia mengajak David karena ingin menjalin persaudaraan. “Faktanya tidak demikian. Jangan posisikan si David yang memilki ketulusan seperti itu kita tunggangi untuk kepentingan pragmatis. Kalau kita anggap si David datang ke sana itu dia di jebak, itu sama halnya kita merendahkan si David,” ujar Ading.

“David itu kuliah di sini, semester tujuh lagi. Masak orang yang sudah kuliah semester tujuh itu bisa dijebak dengan ajakan makan bersama? Pasti dia tanya ke saya, apa sih Mas, tujuannya datang ke sana, untuk apa sih Mas? Dia pasti tanya,” ucapnya. Ading menambahkan kalau David ditekan oleh senior-senior di IPMAPA untuk melakukan klarifikasi atas pernyataannya di media.

Perdamaian dan Harapan

Menurut Ading, ia keberatan kalau masyarakat Malang dianggap rasis, intoleran, dan diskriminatif. “Saya tidak sepakat. Karena apa? Saya tidak menemukan itu di Malang. Saya tidak mau masyarakat Malang ini menjadi tumbal agenda setting dari kelompok yang tidak bertanggung jawab, yang hanya mewakili kepentingan mereka. Ya tentunya politik kebangsaan,” kata Ading.

Ading menjelaskan, masyarakat Indonesia harus melakukan introspeksi kebangsaan untuk persatuan dan kedamaian. “Paling tidak, ada introspeksi kebangsaan. Kita jangan cari siapa yang salah dan siapa yang bener. Tapi kita cari bersama apa yang salah, bukan kepada orang lain tapi kepada diri kita sendiri. Kalau kita memiliki kecintaan yang sama bagaimana kemudian kita bisa menyuarakan persatuan dan kedamaian,” ujarnya.

“Dari instrospeksi itu saya ingin mengambil poin begini, kalau bener mereka itu tidak ingin membangun permusuhan dengan kita, jangan batasi dong orang berbuat baik. Enggak boleh ketemu polisi, enggak boleh ketemu dengan tentara, enggak boleh ketemu RW, enggak boleh ketemu rektor. Nah pertanyaannya sekarang kalau memang ada instruksi seperti itu, lha terus dia di sini ngapain?” ucap Ading.

Ading berharap supaya kegiatan-kegiatan yang baik seperti membangun persaudaraan itu tidak perlu dicurigai dan menjadi persoalan. “Kebaikan itu nggak perlu dicurigai, karena fastabiqul khoirot, kita harus berlomba-lomba dalam kebaikan,” ucapnya.

Menanggapi hal ini, Pelle meluruskan kalau IPMAPA tidak menekan David untuk melakukan klarifikasi. “Dia (David) mempertanggungjawabkan perbuatannya atas dasar mengklaim semua mahasiswa Papua di Malang. Kami mahasiswa Papua tidak pernah menekan atau intimidasi seorang sekalipun itu dia salah besar,” ujar Pelle.

Atas peristiwa yang dialami mahasiswa Papua, Pelle berharap kepada kepada Pemerintah Kota Malang supaya menghentikan segala bentuk diskriminasi. “Kedepannya, Pemerintah Kota Malang bersama TNI dan Polri segera hentikan segala bentuk teror, intimidasi yang selama ini dilakukan kepada mahasiswa Papua,” ucap Pelle.

Kepada masyarakat Malang yang ramah, lanjut Pelle, seluruh pelajar dan mahasiswa Papua berharap supaya tidak terprovokasi oleh siapapun. Menurut Pelle, hal ini supaya tidak menimbulkan konflik antara masyarakat Malang dan mahasiswa Papua. []

Leave a Reply