Para Pembangkang

Al-Qur’an melukiskan dengan getir itu semua:

(Ingatlah) ketika kami mengambil janji dari kamu dan kami angkat gunung (Thursina) di atas kamu (seraya kami berfirman): Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepada kamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa (QS. al-Baqarah: 63)

Surat itu tidak saya kutip dari Al-Qur’an, tapi dari buku “Kitab Pembebasan” karya Eko Prasetyo.

Eko menceritakan kembali kisah para nabi dengan semangat progresif. Buku itu disajikan Eko dengan judul bab yang progresif nan provokatif seperti, “Ibrahim, Pejuang Militan”, “Yusuf, Sang Pemberontak”, “Musa, Melawan Penindasan” dan lainnya. Tentu saya tertarik membaca buku –dan membelinya­– itu karena judul bukunya, penulisnya, dan sedikit harapan untuk mencari pembenaran. Siapa tahu, tafsiran Eko benar-benar menunjukan kebenaran. Begitulah ungkapan dari rasa penasaran saya ketika memandang buku itu.

Jika saya ingat-ingat lagi tentang kisah para nabi, maka akan muncul ingatan tentang cerita ustadz di tempat ngaji saya pada masa kecil. Kisah yang entah mengapa tidak begitu ingin saya jadikan sebagai inspirasi masa kecil.

Di buku yang belum selesai saya baca itu –dan saya baca tidak urut dengan babnya– saya seperti merasakan suatu keresahan dengan tafsiran Eko. Di dalam kisah “Bani Israil, Para Pembangkang” misalnya. Seperti yang kita tahu, Bani Israil adalah suku yang ditoreh janji Tuhan dan diberi kemerdekaan untuk terbebas dari keterpurukan juga penindasan Fir’aun. Melalui Musa, sang utusan Tuhan, perintah-Nya disampaikan kepada Bani Israil. Dan kepada Musa, Bani Israil membangkang dan mempertanyakan perintah itu dalam perjalanan 40 tahun sebagai kaum Nomad di Semenanjung Sinai.

Pertanyaan Bani Israil adalah, “Bagaimana kami menyembah Allah  sedang kami tidak melihat-Nya dan tidak ada juga cara kami untuk dapat menyaksikan-Nya?” Musa menjawab bahwa kebesaran Tuhan ditandai dengan tuntunan agama dan pertolongan-Nya dari penindasan Fir’aun.

Bani Israil tak puas dengan jawaban Musa, lalu dengan insting kreatif mereka membuat patung anak lembu dan menyembahnya. Dan Eko tak sekadar menafsirkan kisah Musa dari kitab yang ia sebut sebagai “Qur’an”. Eko juga menafsirkan Qur’an melalui analis Eric Fromm, Karl Marx, Antonio Gramsci, Herbert Marcuse, John Duns Scotus, dan masih banyak lainnya. Soal boleh atau tidaknya analisis itu digunakan, saya tidak membahasnya.

Selagi tak mendapatkan jawaban yang diinginkan, Bani Israil membikin jengkel Musa dengan meminta makanan yang yang beragam seperti sayur, ketimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah. Saking jengkelnya, Musa berkata, “Pergi saja ke kota di mana Fir’aun dulu menganiaya kalian”.

Melalui analisis Marx, Eko menyatakan bahwa perjuangan kebebasan bisa melahirkan perbudakan, ketika tidak diikuti oleh pemutusan hubungan eksploitatif, dan tidak dipelopori oleh kaum buruh. Dari analisis itu muncullah pertanyaan, apabila perjuangan itu sudah dilakukan Bani Israil, lalu kenapa Bani Israil dengan enteng melawan dan mengabaikan perintah Musa yang sama-sama telah berjuang dengan mereka?

Kemudian, Eko menjawabnya dengan analisis hegemoni milik Gramsci. Analisisnya, Fir’aun telah menghegemoni kesadaran Bani Israil dengan menanami kesadaran palsu kepada mereka. Sehingga Bani Israil tak mampu menaati perintah Musa dan menyembah berhala pengganti Fir’aun.

Dari titik inilah keresahan itu muncul. Saya mengira kalau Eko menafsirkan kisah ini dengan analisa yang agak jauh dari konteks permasalahannya.

Soalnya, lebih lanjut lagi, Eko menafsirkan tidak gentarnya Bani Israil dengan ancaman Tuhan yang mengangkat sebuah gunung di atas kepala mereka –yang diterangkan di Surat al-Baqarah ayat 63– sebagai pembangkangan. Eko juga mengutip tafsiran Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi. Ketika Bani Israil mencurigai perintah untuk mencari pelaku pembunuhan –yang dianggap perintah yang asal-asalan– sebagai keinginan untuk mengendalikan kuasa Tuhan.

Setelah membalik-balik halaman buku itu, saya memahami jauhnya analisis yang digunakan Eko disebabkan oleh ketidakmauan Eko untuk memahami bahwa pertanyaan Bani Israil adalah konsekuensi normal ketika manusia yang berakal berpotensi untuk mengalami gesekan dengan iman yang kadang tidak masuk akal.

Dari kalimat per kalimat yang saya baca, saya memahami bahwa Musa hanya tidak mampu memberi penjelasan yang bisa diterima Bani Israil, yang kemudian Musa menyuruh mereka kembali ke Fir’aun dengan jengkelnya. Saya curiga bahwa ancaman Tuhan adalah senjata untuk mencegah Bani Israil untuk membuka pikirannya lebih jauh. Walaupun Bani Israil tidak gentar.

Konteks awalnya adalah tidak diterimanya jawaban dari sebuah pertanyaan. Lantas mengapa Eko menggunakan analisis Marx dan Gramsci untuk menjelaskan dasar mengapa Bani Israil melawan Musa dan menyembah berhala? Jangan-jangan anggapan pembangkangan dan keinginan untuk mengendalikan kuasa Tuhan hanyalah pengalihan isu supaya Bani Israil tidak mendapatkan jawabannya, supaya Bani Israil dijadikan tokoh jahat karena berani bertanya.

Dan memang kita memahami bahwa akal adalah satu hal dan iman adalah hal lain. Tapi, kenapa harus ada anggapan pembangkangan dan keinginan untuk mengendalikan kuasa Tuhan, apabila kita bisa lebih jujur dengan kenyataan bahwa kita tidak bisa memaksakan kehendak atas apa yang kita yakini? Sederhananya, kenapa kita tidak bertoleransi saja?

Mungkin Bani Israil tidak akan memainkan tokoh jahat jika mereka berada di posisi sebagai korban kekerasan 65. Pertanyaan “Bagaimana kami menyembah Allah  sedang kami tidak melihat-Nya dan tidak ada juga cara kami untuk dapat menyaksikan-Nya?” itu akan setara dengan pertanyaan Lanny, perempuan etnis Tionghoa, korban kekerasan 65. Pertanyaan Lanny adalah “Mengapa? Di mana Tuhan? Mengapa Dia membiarkan ini terjadi?” Lanny bertanya dengan wajah serius. Kita bisa melihat keseriusannya dalam film 40 Years of Silent karya Robert Lemelson. Namun, tak ada yang bisa menjawab keseriusan itu, termasuk saya.

Mengapa saya mengandaikan kisah Bani Israil dalam kekerasan 65? Itu karena saya teringat dengan perkataan Eko dalam forum Diskusi dan Bedah Buku “Kitab Pembebasan” di Wisma Kalimetro, Sabtu (17/9) lalu. Eko menyampaikan harapannya supaya pembaca merasa bahwa kisah para Nabi itu tidak hanya terjadi di masa lalu, tapi juga muncul saat ini. Kata saat ini, tidak bisa menghentikan pemahaman saya bahwa kisah para nabi bisa muncul di masa kekerasan ‘65.

Eko berkata bahwa sesungguhnya nabi itu datang dengan sebuah mandat sosial. Jika Musa datang dengan mandat sosial, maka bukankah seharusnya Musa lebih jujur memahami keadaan dan mengambil langkah bijak dengan toleransi?

Saya tidak tahu mengapa Musa demikian. Saya bukan Musa, atau Eko yang merasa hidup bersama para nabi setelah menulis buku itu. [Wahyu Agung Prasetyo]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply