Pasung Jiwa Sang Penari

sumber gambar : pixabay.com
sumber gambar : pixabay.com

Ahhh, perempuan… Masa telah mengubah segalanya. Aku kehilangan. Kehilangan identitas, kehilangan peran sebagai perempuan. Melepas jauh kungkungan adat. Memperbudak diri dengan harta, hingga lenyaplah harga diri yang dijunjung tinggi. Tiada lagi rahim berkualitas yang akan menumbuhkan generasi-generasi unggul…

Praaannnggg…!!!

Perempuan itu tiba-tiba menjatuhkan vas bunga di atas meja yang berada persis di sampingnya. Suara vas bunga yang dibanting itu tiba-tiba membuat suasana rumah kian mencekam. Apalagi, bunyi petir yang menyertai hujan malam itu terdengar semakin menggelegar.

“Berhenti manja, Andini. Kamu sudah besar. Sudah berapa kali ibu memperingatkan itu? Kamu bukan bayi lagi yang setiap malam harus ibu temani tidur. Tidur sana dengan kakakmu. Baru pulang kerja malah disambut dengan rengekanmu. Kamu pikir ibu tidak lelah bekerja seharian?” bentak Maryam sambil melepaskan pelukan anak bungsunya itu.

“Dini takut. Pengen tidur sama ibu. Ibu jahat, gak kayak dulu lagi,” ujar bocah perempuan berusia tujuh tahun itu sambil terisak.

Maryam tak menghiraukan tangisan anaknya. Dengan tenang, dia melenggang menuju kamarnya, meninggalkan Andini yang masih berdiri di ruang tamu. Maryam meraih gagang pintu kamarnya, lantas masuk sambil membanting pintu dengan keras.

***

Maryam, begitulah perempuan yang kini berusia 33 tahun itu akrab disapa. Perempuan keturunan Jawa itu terlahir dari keluarga ningrat dan terpandang di desanya. Kulit kuning langsat dan parasnya yang rupawan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap mata yang memandangnya. Maryam kecil tumbuh menjadi seorang gadis desa, mewarisi kecantikan yang dimiliki sang ibu. Kecantikannya semakin terpancar sejak Maryam menginjak usia remaja. Keahliannya dalam menari juga telah dikenal banyak orang, bahkan hingga seberang desa. Hampir di setiap perhelatan yang digelar, muncul Maryam sebagai penari. Tak heran bila dulu banyak laki-laki yang terpikat dan mencoba mengajukan lamaran. Sayangnya, tidak ada satu pun di antara mereka yang berhasil memikat hati Maryam.

Maryam muda memiliki jiwa sosial yang tinggi. Ia memegang teguh prinsip yang diajarkan dalam agamanya, bahwa sebaik-baik manusia adalah dia yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Dua kali dalam seminggu, ia mengajarkan perempuan-perempuan di desanya untuk membuat kerajinan tangan, menjahit, dsb. Biasanya, hasil karya mereka akan dipasarkan ke desa lain. Setiap akhir pekan, Maryam juga tak segan mengajarkan bocah-bocah perempuan di desanya untuk menari. Semua itu dilakukan Maryam tanpa mengharap sepeser rupiah pun. Mungkin semua aktivitas itulah yang membuat Maryam sedikit melupakan persoalan jodoh.

Neng, gak kepengin nikah toh? Padahal sudah banyak laki-laki yang datang melamar, tampan-tampan pula. Cocok sama Neng Maryam,” tanya seorang tetangganya di sela-sela waktu ketika Maryam mengajarkan membuat kerajinan tangan.

Ah, masih belum terpikir ke sana, Bu. Masih terlalu muda untuk menikah. Saya masih senang menghabiskan waktu dengan aktivitas-aktivitas seperti ini,” jawab Maryam sambil tertawa santai.

Hingga pada suatu ketika, Maryam menjatuhkan pilihannya kepada seorang laki-laki berusia lima tahun lebih tua darinya. Saat usianya memasuki 22 tahun, Maryam menerima laki-laki bernama Saifuddin sebagai jodoh yang dibawakan oleh kedua orang tuanya. Entah apa yang kemudian melatarbelakangi Maryam untuk rela dinikahkan dengan laki-laki itu. Padahal, Saifuddin terkenal sebagai laki-laki yang suka bermain perempuan. Bahkan kabarnya, ia pernah menghamili seorang perempuan dan meninggalkannya begitu saja tanpa mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Itu sama sekali bukan perjodohan yang diinginkan oleh Maryam. Ia sempat beberapa kali menanyakan alasan kedua orang tuanya untuk menikahkannya dengan Saifuddin. Namun, Maryam tak pernah mendapatkan jawaban pasti. Ia tak habis pikir dengan keputusan kedua orang tuanya. Orang tua mana yang rela menikahkan anak semata wayangnya dengan laki-laki seperti Saifuddin?

“Apa salahnya menikah dengan laki-laki itu? Dia tak kalah tampan dibandingkan semua laki-laki yang dulu pernah datang melamarmu? Apalagi dia juga anak tunggal seorang tuan tanah. Hidupmu akan lebih terjamin, Nak,” begitu dalih yang diungkapkan oleh ayah Maryam.

“Maryam tidak suka dengan laki-laki itu. Bukankah ayah juga tahu betapa biadab kelakuannya? Masihkan ayah dan ibu rela membiarkan Maryam hidup dengan laki-laki seperti itu?” protes Maryam.

“Berani kamu meninggikan suara di depan orang tuamu? Apa itu yang dulu pernah kami ajarkan kepadamu? Sudah Maryam, lakukan saja apa yang sudah menjadi keputusan ayah dan ibu. Menurutlah dengan kami! Tidak semua orang punya masa lalu yang baik. Namanya juga manusia, pasti ada luputnya,” jawab ibunya.

Tak ada satu pembelaan pun yang dapat dilakukan Maryam untuk menolak keputusan kedua orang tuanya. Pada akhirnya, ia harus mengikuti jalan hidup yang telah dirancang ayah dan ibunya. Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya, ia harus selalu menurut dengan mereka.

“Tak bisakah sekali saja aku menjadi seorang ‘pembangkang’? Dari dulu hingga sekarang tak pernah sekali pun aku membantah. Apa yang kalian mau selalu aku lakukan. Tapi, untuk urusan perjodohan ini, aku benar-benar tak habis pikir. Haruskah seorang anak selalu menuruti kemauan orang tuanya?,” gerutu Maryam dalam hati.

***

Tidak ada yang dapat dilakukan Maryam untuk membatalkan perjodohan itu. Ia terpaksa menikah dengan Saifuddin. Setelah pernikahannya, Maryam tak lagi tinggal bersama kedua orang tuanya. Orang tua Saifuddin telah menyiapkan sebuah rumah yang dapat ditinggali pasutri itu, tak jauh dari desa tempat tinggal Maryam.

Maryam berharap kedua orang tuanya tak salah memilihkan pendamping hidup untuknya. Ia berusaha menerima Saifuddin dengan segala masa lalu itu, membuang jauh-jauh pikiran buruk tentang laki-laki yang kini menjadi suaminya. Berharap Saifuddin mampu menahkodai bahtera rumah tangga mereka dengan penuh tanggung jawab.

Sayangnya, harapan Maryam hanya utopia belaka. Sejak awal pernikahannya, Saifuddin mulai menampakkan watak aslinya. Ia mulai enggan untuk mencari pekerjaan. Kegiatannya setiap hari hanya bisa duduk bermalas-malasan di depan televisi, terkadang membaca koran, bahkan pergi hingga larut malam entah ke mana. Setiap kali dingatkan tentang tanggung jawabnya sebagai seorang suami, Saifuddin malah membentak Maryam. Alhasil, tak jarang mereka terlibat adu mulut.

“Buat apa kerja? Toh uang juga akan datang dengan sendirinya. Kau lupa bahwa orang tuaku adalah tuan tanah. Tenang saja, kau tak akan kelaparan hidup denganku. Jangan berani-berani memerintahku. Ingat, kau sekarang istriku. Sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk menuruti apa kata suaminya. Mengerti?” ujar Saifuddin.

“Masih bertanya untuk apa bekerja? Kamu kepala keluarga di sini. Gak malu masih mengharapkan uang dari orang tuamu? Seharusnya kita bisa hidup mandiri. Apa perlu kita bertukar posisi, aku yang bekerja?”

“Diam! Perempuan itu cukup bekerja di rumah saja, melayani suami. Gak perlu sok mau mencari kerja segala,” bentak Saifuddin.

Maryam tak mampu berkutik lagi. Ia terpaksa diam dan mencoba berdamai dengan keadaan, meskipun suaminya selalu menyulut emosi dalam setiap pembicaraan. Jika dilawan, maka kemarahan suaminya akan semakin menjadi.

Pernah sesekali ia meminta izin untuk mengunjungi kedua orang tuanya, juga ingin bertemu dan bercengkrama dengan para tetangga di sana. Namun, Saifuddin tak memperbolehkannya. Jangankan pergi mengunjungi orang tuanya yang tak jauh dari desa tempat tinggal mereka, bepergian sebentar keluar rumah saja juga dibatasi.

“Apakah semua kehidupan setelah menikah seperti ini? Kedudukan suami harus selalu di atas. Perempuan kalah dengan laki-laki? Tidak lagi bebas melakukan hal-hal yang diinginkan, selalu dibatasi?” gerutu Maryam.

***

Lima tahun sudah pernikahan dua anak manusia itu berjalan. Saifuddin telah mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan di sebuah kota besar sejak tahun kedua pernikahannya. Lokasi kantor yang lumayan jauh dari desa tempat tinggalnya, membuat Saifuddin lebih memilih untuk tinggal sementara di kota. Ia kembali ke desa untuk menemui istri dan kedua anaknya hanya setiap akhir bulan saja. Itu pun hanya dua hari.

Namun, beberapa bulan terakhir, Saifuddin tidak pernah lagi menyambangi Maryam dan kedua anaknya. Maryam juga tak pernah lagi menerima uang yang biasanya dikirimkan tiap bulan oleh suaminya itu. Pikirannya semakin tak karuan. Tak ada kabar apapun dari suaminya. Ia berusaha berkali-kali menghubungi nomor ponsel suaminya, namun tak ada jawaban sama sekali. Sempat terbersit keinginan untuk menemui suaminya di kota. Namun, sayangnya ia tak pernah tahu di mana tempat tinggal ataupun kantor tempat suaminya bekerja.

***

Maryam kehilangan kontak dengan suaminya. Tidak ada lagi komunikasi di antara mereka. Tidak ada lagi uang yang rutin dikirimkan tiap bulan. Kondisi itu telah berlangsung enam bulan lamanya. Maryam tak sanggup lagi hidup dengan ketidakpastian seperti itu. Pikiran-pikiran buruk mulai membayanginya. Entah apa yang telah terjadi pada suaminya, hingga tak pernah menyambangi dirinya dan kedua anaknya selama itu. Sementara Maryam juga harus memikirkan bagaimana ia bisa menghidupi dirinya dan kedua anaknya ketika suami yang diharapkannya tak kunjung datang. Apalagi, uang tabungannya semakin menipis.

Ia tak punya keberanian untuk sekadar meminjam uang kepada mertuanya lantaran merasa terlalu sering merepotkan. Meminta bantuan kepada kedua orang tuanya pun sudah tidak memungkinkan lagi. Kondisi perekonomian mereka tak lagi sebaik dulu. Setahun lalu, mereka terpaksa menjual rumah dan beberapa tanah yang dimiliki untuk membayar hutang keluarga. Kini, kedua orang tua Maryam tinggal di sebuah rumah kecil dan sederhana tak jauh dari rumah yang telah dijualnya.

***

Maryam tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya, ia memutuskan untuk menemui kedua orang tuanya. Bukan untuk meminjam uang demi memperbaiki kondisi perekonomian mereka, melainkan untuk sekadar melepas rindu dan menceritakan apa yang telah terjadi. Selama sepekan, Maryam menginap di rumah orang tuanya, bersama kedua anaknya, Dewa dan Andini.

Di desa tempat kelahirannya itu, tiba-tiba Maryam bertemu dengan seorang kawan lamanya. Karena sudah lama tak bertemu, keduanya pun saling bercerita tentang kehidupannya masing-masing. Hingga pada akhirnya, ia tak sengaja menceritakan masalah yang tengah dialaminya.

“Kebetulan sekali, Maryam. Aku sepertinya ada pekerjaan yang cocok buat kamu. Hasilnya mungkin gak seberapa, tapi setidaknya bisa lah sedikit-sedikit membantu kondisi perekonomianmu,” ujar perempuan bernama Laila itu.

“Oh ya? Tak penting berapa pun gajinya, yang penting aku bisa mendapatkan uang untuk menghidupi kedua anakku. Tapi, pekerjaan seperti apa ya?”

“Sebelum kamu menikah, kamu sempat menjadi penari, kan? Kebetulan aku punya kenalan di daerah pinggir kota, dia pemilik sanggar tari. Dia membutuhkan seorang perempuan yang bisa menari untuk ditempatkan di sanggarnya. Siang hingga sore mengajar tari. Sanggar ini lumayan sering dapat order tampil di hajatan, loh. Nah, kalau ada order-an semacam itu biasanya kamu bakal kerja sampai tengah malam, bahkan dini hari. Bagaimana?”

“Iya, Laila. Tawaranmu sepertinya menarik. Aku juga sudah tak sabar ingin menari lagi,” jawab Maryam dengan wajah sumringah.

“Baiklah, aku akan memberitahukan kabar ini ke temanku itu. Kalau begitu, mungkin minggu depan kita bisa berangkat bersama ke sana untuk menemuinya,” ajak Laila.

***

Sepekan kemudian, Maryam dan Laila berangkat menuju tempat sanggar itu dengan membawa serta Dewa juga Andini. Di sana, Laila mengenalkan Maryam kepada pemilik sanggar yang diceritakannya beberapa waktu lalu.

“Mas Dendy, ini perempuan yang seminggu lalu saya ceritakan. Namanya Maryam. Dia penari yang cukup terkenal di desa saya. Kemampuannya menari sudah gak perlu dipertanyakan,” ucap Laila sambil tersenyum meyakinkan.

“Oh, jadi ini yang namanya Maryam. Lumayan cantik. Perkenalkan, nama saya Dendy. Senang bertemu dengan Anda,” sapa laki-laki bertubuh tegap itu sambil menjabat tangan Maryam.

Setelah cukup lama saling berbasa-basi, Dendy kemudian memutuskan untuk menerima Maryam bergabung ke dalam sanggar miliknya.

“Baiklah, saya kira Maryam sudah bisa bekerja di sini mulai besok. Kalau kinerjamu bagus, saya pastikan gajimu juga akan besar. Oh iya, selama bekerja di sini, Maryam tingga di mana ya?, ujar Dendy.

“Hmmm…mungkin untuk sementara, saya akan menumpang di tempat kos Laila.”

“Jadi begini, kebetulan saya punya rumah kosong di dekat sanggar ini. Sudah hampir setahun rumah itu tidak saya tinggali bersama keluarga. Mungkin Maryam bisa tinggal di sana. Masih layak huni, kok. Gak perlu memikirkan biaya sewa. Tinggali saja rumah itu, hitung-hitung biar ada yang menghuni dan merawat, biar gak rusak dan kosong,” tawar Dendy.

Ah, tidak perlu, Pak. Terima kasih. Setelah ini mungkin saya akan segera menyewa rumah,” tolak Maryam.

“Maryam, jangan menolak. Terima saja tawaran dari Mas Dendy,” bujuk Laila.

“Benar kata Laila. Terima saja tawaran saya. Kebetulan sekarang saya membawa kunci rumah itu. Nanti biar Laila yang mengantarkan Maryam ke sana,” ucap Dendy.

***

Sebelas tahun berhenti menari, tak membuat Maryam kehilangan kelenturan tubuhnya. Jiwanya kembali layaknya ketika dia belum menikah dengan Saifuddin, ketika dia masih dikenal sebagai penari. Setiap gerakan dalam tariannya seakan menjadi roh yang mengembalikan jiwa mudanya. Alunan gending dan musik tradisional yang menyertai tariannya mampu menghapuskan setiap masalah yang telah menimpa Maryam dan keluarganya.

Semua masalah yang muncul dalam hidup Maryam selama sebelas tahun belakangan membuat perempuan desa itu mengutuk pernikahannya dengan Saifuddin. Sejak pernikahan itu, Maryam merasa telah kehilangan jiwanya. Banyak waktu yang sebenarnya masih ingin ia pergunakan untuk mengabdikan dirinya untuk orang lain, namun lenyap begitu saja semenjak pernikahan itu terjadi.

Usia tak meleburkan kemolekan Maryam. Ia masih menjadi incaran kaum laki-laki. Baru sebulan dia bekerja di sanggar itu. Semenjak kehadiran Maryam, sanggar itu semakin mendapatkan banyak order-an untuk menyuguhkan pertunjukan tari.

Hampir setiap hari Maryam pulang dini hari. Tentu anak-anaknya telah tertidur pulas saat ia kembali ke rumah. Itu semua dilakukan demi kedua anaknya, demi keberlangsungan hidup mereka. Gaji menjadi penari dari sanggar itu memang tak terlalu besar. Bahkan terkadang, Maryam merasa gajinya tak sebanding dengan rasa lelah yang dirasakannya. Tapi, bagaimana pun, ia harus tetap melakukan itu. Posisinya sekarang telah berubah, menjadi ibu sekaligus kepala keluarga bagi kedua anaknya.

***

Hidup di pinggiran kota memang berbeda dengan hidup di desa. Itu yang dirasakan Maryam semenjak menjadi penari di sanggar milik Dendy. Ia masih ingat betul dengan kehidupannya di desa. Terasa sunyi penuh damai dan ketenangan. Tidak ada hingar-bingar kehidupan layaknya di kota. Namun, ada satu hal yang tak ia sukai. Di desanya sangat menjunjung tinggi adat. Bahwa hanya rumahlah satu-satunya tempat yang pantas untuk perempuan. Perempuan tak sepantasnya bekerja di luar rumah. Ia masih ingat betul, ibunya sering berpesan kepadanya bahwa tugas utama perempuan hanya berdandan, memasak, dan melahirkan. Maryam tak suka dengan hal itu. Baginya, terlalu sempit orang menafsirkan tugas perempuan, hanya berkutat dengan rumah dan bagaimana melayani suami saja. Maryam menginginkan kebebasan. Ia ingin membuktikan bahwa perempuan pun masih pantas untuk bekerja mencari uang. Dan itu yang sekarang ia dapatkan di tempat barunya.

Sayangnya, Maryam terlalu larut dalam kebebasan yang selama ini ia cari. Ia terbawa arus hingar-bingar kota. Biaya hidup di kota yang cukup tinggi pun pada akhirnya semakin membuat Maryam gila mengejar harta. Ia tak ingin hidup melarat dengan kedua anaknya. Bahkan, semua cara ia halalkan. Ia tak segan menggadaikan kemolekan tubuhnya demi mendapatkan rupiah.

Maryam terlibat hubungan gelap dengan Dendy. Ia menjadi perempuan simpanan bosnya itu. Iming-iming harta yang dijanjikan Dendy membuat Maryam tak mampu menolak setiap kali laki-laki itu memintanya berhubungan seks. Maryam membiarkan laki-laki itu menikmati tubuhnya begitu saja, tanpa ada ikatan yang jelas di antara mereka.

Perempuan desa itu telah dibutakan dengan harta dan kebebasan. Dendy bukan satu-satunya laki-laki yang pernah menjamah tubuhnya. Maryam memiliki beberapa laki-laki yang menjadi penonton setianya ketika menari. Hampir setiap selesai tampil dalam sebuah acara, ia selalu pergi bersama salah satu di antara laki-laki itu. Maryam tak jarang diajak menuju sebuah losmen hanya untuk memuaskan birahi para penonton setianya. Dan setelah itu, bisa dipastikan Maryam akan mendapatkan bayaran.

Segalanya telah berubah. Maryam bukan lagi perempuan desa yang baik-baik. Tidak ada lagi prinsip agama yang dulu sempat ia pegang teguh. Bahkan ia melupakan apa yang selalu ibunya pesankan kepadanya, “Nak, di mana pun kamu berada dan dalam situasi apa pun, jagalah harga dirimu sebagai seorang perempuan”.

***

Suara tangisan Andini masih terdengar dari luar kamar. Rupanya bocah manis itu benar-benar ingin merasakan pelukan ibunya yang lama tak ia rasakan. Maryam sama sekali tak menghiraukan tangisan anaknya itu. Ia terdiam lama menatap tubuhnya di depan cermin. Tiba-tiba, tak sengaja air matanya jatuh membasahi kedua pipinya yang masih berpoles make-up itu.

Maryam lantas merebahkan tubuh di atas tempat tidurnya. Menatap langit-langit kamarnya. Menerawang jauh masa lalunya. Hari itu, kemarahannya sempat membuncah. Ia mendapatkan kabar dari Laila bahwa Saifuddin ternyata telah menikah lagi dengan perempuan lain, dan itu yang menjadi alasannya untuk meninggalkan Maryam. Tak ada yang bisa Maryam lakukan. Ia membenci laki-laki itu dan tak ingin mengingatnya lagi. Saifudin hanyalah satu di antara deretan panjang sejarah kelam hidup Maryam.

Hujan masih deras mengguyur malam, membuka kembali ingatannya tentang apa yang ia lakukan selama ini. Tetiba ia tersadar. Ia bukan Maryam yang dulu lagi. Ia merasa kehilangan harga dirinya sebagai perempuan. Ia terjebak dengan keinginannya sendiri hingga lupa akan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.

“Tuhan, apa yang sudah aku lakukan selama ini? Perempuan seperti apa aku ini? Berani membiarkan tubuhku digerayangi banyak laki-laki hanya demi mendapatkan uang. Aku bekerja demi kedua anakku. Tapi, justru aku yang terlampau melupakan mereka. Aku bukan ibu yang baik. Aku menelantarkan anak-anak yang terlahir dari rahimku sendiri. Bukankah seharusnya aku bisa mendidik mereka dengan penuh kasih sayang? Bahkan aku jarang mengurus mereka. Seandainya aku lebih punya banyak waktu di rumah. Aaaahhhhh….perempuan macam apa kau, Maryam? Dosa apa yang telah kuperbuat dulu hingga hidupku hancur berantakan seperti ini? Dasar bodoh!!! Aku menghinakan diriku sendiri. Aku perempuan yang tak ada harganya lagi,” debat Maryam.

Maryam menangis sejadi-jadinya sambil memukuli tubuhnya. Mengutuk dirinya sendiri yang begitu hina dan rendah. Seandainya waktu dapat diputar kembali, bukan hidup seperti ini yang ia mimpikan… [Luluk Khusnia]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com