“Peliharaan” itu Bernama Perempuan

Perempuan dengan tata krama halus dan lemah lembut sangat disukai masyarakat. Setidaknya, persepsi itulah yang berkembang di mayoritas masyarakat Indonesia. Mereka lebih suka perempuan yang murah senyum, pemaaf, sopan, dan penyabar. Mereka lebih suka  Si Bawang Putih daripada Si Bawang Merah. Lebih suka Si Fitri daripada Mischa dalam salah satu drama seri pada stasiun televisi swasta Indonesia. Kalangan ibu-ibu bahkan pernah diberitakan melempari Mischa dengan telur ketika bertemu di luar lokasi suting. Hal itu lantaran sangat bencinya mereka pada Dinda Kanya Dewi yang memerankan peran Mischa –perempuan  perebut suami orang– itu. Bayangkan, seberapa besar kecintaan mereka terhadap karakter Fitri, sehingga mereka kesal pada sosok lawan mainnya, Mischa.

Karena mayoritas masyarakat lebih suka dengan karakter perempuan yang demikian, tokoh-tokoh utama pada drama, sinetron, film, dan lainnya pun menjadi sama. Tokoh utama hampir bisa dipastikan selalu lekat dengan karakter yang sangat baik. Sebut saja sinetron Suci, yang pemeran utamanya memiliki kesabaran tak terhingga menghadapi suaminya yang “ringan tangan”. Atau sinetron Inayah, yang diperankan oleh Shandy Aulia , perempuan dengan karakter penyabar meski dipaksa menikah dengan lelaki tua. Itu hanya satu judul sinetron saja. Masih banyak sinetron lain yang demikian. Sinetron-sinetron itu mencitrakan perempuan yang baik, seperti yang masyarakat inginkan dan pikirkan.

Saat kecil, saya mengagumi Si Bawang Putih. Saat dewasa nanti, saya ingin menjadi seperti dia. Sabar ketika dijahili Si Bawang Merah dan selalu tersenyum. Tapi, ketika saya benar-benar memasuki usia dewasa, bertemu dengan macam-macam teman perempuan seperti Bawang Putih, persepsi saya berubah. Saya tak lagi kagum. Saya malah dibuat kesal setengah mati. Banyak kenyataan berbeda yang saya temui. Perempuan yang  memilih diam, sabar, dan tetap mempertahankan perasaannya setelah diselingkuhi. Perempuan yang mau-mau saja disuruh belajar memasak oleh pacarnya. Memangnya pacarnya cari tukang masak? Hmmm… Atau perempuan yang tetap berjalan anggun dan sopan di depan lelaki yang menggodanya. Arrgh! Sialan. Mereka tidak sadar perilaku seperti itu akan menguatkan posisi perempuan yang timpang sejak dulu di mata sosial.

Memangnya seperti apa posisi perempuan di mata sosial? Seperti benda, guys! Kamu tuh jalan-jalan ke mana saja jadi objek tatapan mata lelaki. Pakai baju apa saja, jadi bahan obrolan mulut lelaki. Duduk atau berdiri macam apa saja, jadi objek fantasi liar lelaki. Bejat memang!

Suatu ketika, teman lelakiku berkata, “Yah, semua cowok pasti punya pikiran jorok. Tapi tidak semua dari mereka mempraktikkannya.”

Di mata orang-orang, perempuan itu pasif. Perempuan itu… ya yang dilamar, dipacari, dinikahi, diperkosa, dipuji, di-make up-i, dll.

Untuk kalian para perempuan, sesekali cobalah bersikap bebas. Ekspresif gitu, loh! Kalau ada sesuatu yang lucu mengocok perut, tertawa saja terbahak-bahak. Jika ada lelaki menatap tubuhmu sepanjang jalan atau bahkan menyenggol bagian tubuh pribadimu, maka teriak dan lemparkan sepatumu padanya. Atau kejar lalu tonjok tuh lelaki, biar nggak kebiasaan. Tapi, bersikap seperti ini butuh keberanian. Berani untuk tahan menjomblo bertahun-tahun. Hahaha

Sudah saya katakan, lelaki zaman sekarang itu sukanya cewek penurut, sopan, penyabar, suka senyum, dan pengertian. Perempuan yang mudah dikendalikan dan dipelihara. [Uswatun Hasanah]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Tinggalkan Balasan