Pemira (mau main-main) Lagi?

Walau belum ada baliho resmi terkait Pemilu raya (Pemira) yang dipampang di halaman kampus yang katanya berlebel ulul albab, namun beberapa mahasiswa pasti sudah mengetahuinya. Apalagi mahasiswa warung kopi yang juga anggota organisasi ekstra mayoritas. Atau bahkan saat ini anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) mungkin sedang sibuk mendesain baliho atau pamflet sosialisasi Pemira. Wajar, Pemira memang bukan acara main-main. Tapi mungkin saja dianggap main-main oleh beberapa pihak.

Bolehkah penulis anggap main-main? Oke, mohon ijin pada para pejabat OMIK, OMEK dan para penikmat kopi untuk bernyanyi. Main-main yang pertama, main politik. Pemira sebagai sebuah pesta demokrasi, kelihatannya lebih tepat disebut pesta politik. Pesta eksistensi politis para mahasiswa yang sudah sedikit membaca buku politik atau melabeli dirinya aktivis. Iya aktivis politik. Tak seperti sistem Pemilihan Umum walikota atau gubernur yang jelas-jelas diusung oleh partai politik tertentu, Pemira UIN Maliki Malang menggunakan sistem independen. Setiap individu berhak mencalonkan diri dengan tanpa melibatkan partai. Iya memang karena di kampus kita tidak ada partai politik. Adanya Organisasi Ekstra Kampus (OMEK).

Pada peraturan sebelumnya, mahasiswa pemilih (bukan calon) tahu secara jelas background partai atau riwayat ideologis sang calon. Perubahan sistem pencalonan menjadi individu, yang ingin meminimalisir gesekan antar mahasiswa, nyatanya hanya malah melahirkan calon-calon boneka. Siapa dia dan apa programnya ketika meduduki kursi di Organsasi Intra Kampus (OMIK) malah tak jelas. Boro-boro bicara program yang ditawarkan oleh para calon, para pemilih hanya disogoki visi misi bikinan warung kopi yang tertera dalam balutan stiker dan pamflet warna-warni. Lihat saja waktu kampanye kalau para pembaca yang budiman ingin membuktikannya sendiri.

Tiap mahasiswa memang berhak mencalonkan dirinya untuk menduduki jabatan ketua di struktural OMIK (himpunan jurusan, dewan eksekutif maupun senat mahasiswa) dalam lingkup Republik Mahasiswa. Namun, tak semua mahasiswa sudi mengambil formulir yang susah payah dicetak Komisi Pemilihan Umum.

Ketidakmauan mencalonkan diri bukan tanpa alasan. Ada semacam pemikiran, “buat apa nyalon kalau yang terpilih nantinya itu-itu saja”. Mungkin bukan hanya penulis yang memiliki pemikiran pesimis seperti itu. Walau secara kasat mata tak terlihat, sudah menjadi rahasia umum jika organisasi ekstra mayoritas yang akan naik menduduki kursi ketua OMIK. Dukungan penuh dari organisasi ekstra diberikan pada setiap calon. Penggalangan suara berupa memimjam Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) rekan sekelas jadi agenda rutin untuk mencalonkan rekan seideologisnya. Bahkan bersedia menjadi relawan Komisi Pemilihan Umum, walau begitu, penulis tetap mengapresiasi calon dari organisasi manapaun atau tanpa organisasi yang ingin maju karena niat dirinya sendiri, bukan dorongan politis organisasinya.

Bila bercermin pada Pemira 2016, kurangnya calon terlihat dari beberapa kursi ketua HMJ hanya diisi satu calon, seperti jurusan menejemen pendidikan islam, pendidikan agama islam, pendidikan guru raudlatul athfal, biologi dan fisika. Calon presiden dewan eksukutif mahasiswa pun dengan santai melenggang ke kursinya karena tak ada saingan.

Tapi penulis yakin, tahun ini, para pejabat KPU akan tiba-tiba muncul memperkenalkan diri lewat baliho sosialisasi Pemira, seperti yang sudah-sudah. Bukan begitu bapak-bapak pejabat? Tiba-tiba saja mejeng foto ganteng dan cantik, tampil sebagai pejabat demokrasi mahasiswa. Entah kapan memilihnya dan siapa, kami tak tahu. Belum lagi para pejabat di tiap Tempat Pemungutan Suara (TPS). Mungkin saja kawan ngopi yang jadi relawan mereka. Tapi penulis maklum, musyawarah mahasiswa saja, hanya beberapa mahasiswa yang tahu. Sungguh. Musyawarah mahasiswa yang eksklusif. Entah jadinya demokrasi di kampus dengan genteng hijau ini milik siapa. Dari mereka, oleh mereka dan untuk mereka.

Pesta politik tahunan ini akhirnya cuma jadi tontonan mahasiswa lainnya. Masih lekat dalam ingatan, insiden lempar-lemparan kursi di ruang sidang student center (SC) dan membuat kampus mendadak ramai. Mereka jadi tontonan mahasantri mahad yang baru saja usai sholat magrib berjamaah. Tapi mau bagaimana lagi? Lempar argumen tak mempan, kursi melayang.

Oke, mari kita lanjutkan ke main-main yang kedua. Masih menyoal partisipasi mahasiswa terhadap Pemira. Bukan soal calon, tapi pemilih. Tingkat golput mahasiswa fakultas syariah tahun 2016 jadi contoh. Redaksi Q-post UAPM Inovasi mencatat persentase golput sebesar 61 persen dan yang menggunakan suara hanya 39 persen. Artinya, 1658 daftar pemilih, hanya 642 mahasiswa yang mencoblos. Angka ini tak jauh beda dengan hasil poling redaksi Patriotik UAPM Inovasi tahun 2014 lalu dimana angka golput mencapai 62,1 persen. Sungguh menyedihkan mengingat besarnya dana kampus yang digelontorkan untuk mencetak surat suara dan uang-uang lain yang penulis tak tahu kemana muaranya. Iya siapa yang tahu. Apalagi mahasiswa yang hanya kuliah pulang, kuliah ke kos atau kuliah lalu ke tempat nongkrong dengan sajian coklat panas.

Menggunakan hak suara memang kebebasan setiap mahasiswa sebagai individu yang merdeka. Namun yang penulis yakini, tidak ada kata netral. Memilih berarti jelas memilih siapa calon yang ia dukung. Menjadi golongan putih (golput) berarti tidak memilih atau bisa dikatakan sebagai sikap pembiaran calon-calon itu untuk menang. Atau ada alasan lain untuk golput yang bisa dikatakan netral diluar keyakinan penulis? Jika ada, mohon maaf yang sebesar-besarnya pada para golput yang budiman.

Permasalahan selanjutnya, mengapa mahasiswa melakukan golput atau yang penulis klaim pembiaran? Penulis hanya menduga salah satu alasannya karena program-program OMIK tak begitu dirasakan oleh mahasiswa. Mungkin jawabannya akan lain ketika melihat maraknya stan bazar sepi yang sekarang sedang tren dikalangan mahasiswa.

Tapi, apa hanya itu yang dibutuhkan mahasiswa saat ini? Dengan gelontoran dana kemahasiswaan, mungkin para pejabat hasil pemilihan (main-main) nantinya bisa browsing ke mbah google agar bisa lebih variatif dalam membuat kegiatan. Atau mau bikin aksi menolak foto selphie kegiatan-kegiatan hasil jerih payah para pejabat?

Kalau dicocoklogikan, sejarah ‘main-main’ Pemira layaknya teori evolusi Pak Darwin. Jerapah yang berleher panjang dan bisa menggapai daun di dahan pohon yang tinggi yang bisa bertahan hidup. Lalu, anggap saja pemira adalah seleksi alam. Dan jerapah adalah para calon. Calon yang memiliki modal alamiah seperti dukungan massa lah yang menang. Yang bisa bertahan hidup dalam Pemira dan melanjutkan karirnya di organisasi sebagai ketua. Lumayan lah untuk poin SKKM atau sekedar kece-kecean sebagai bekal nembak cewek. Calon yang tak punya kekuatan akan kalah dan kembali menjadi mahasiswa biasa dan masuk kelas untuk kuliah.

Yah, politik kadang memang kejam. Politik makan daun ala jerapah juga membuat jerapah leher pendek jadi pesimis dan mati. Sungguh cocoklogi sore hari yang membosankan untuk dipahami apalagi dialami tiap tahunnya dalam pemira.

Dari nyanyian di atas, pembaca sekalian apa ada yang kepikiran untuk bikin #aksibelapemira layaknya riuh aksi di Ibu Kota? Mungkin bapak ibu pejabat OMEK bisa diajak biar ramai. Walau Pemira, penulis anggap main-main, tapi harapan para mahasiswa bukanlah main-main. Sekian.[Imam Abu Hanifah]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

4 thoughts on “Pemira (mau main-main) Lagi?

  1. Semoga tulisanmu bukanlah propagandamu kawan.
    .
    Panulis ulung tidak akan pernah menjual karyanya untuk kepentingan sekelompok orang. Apalagi sampai menyudutkan kelompok lain dan mengatasnamakan diri sebagai kaum tampa kepentingan. kayak dukun aja Hahaha. .
    Semua itu sudah basi kawan. .
    Berfikir dong.. anda yg hidup di lingkungan orang yang berkarya kok diam saja. Tenang melihat internalmu sudah dimasuki kepentingan lain.
    .
    Mahasiswa butuh karya tulis yang jernih. Mahasiswa cerdas tidak akan percaya dengan karya penulis bayaran.
    .
    Tetap seyum aja kawan.
    .
    #bukanpenulisbayaran #aspirasikorban #antihoax

    1. Ketauhilah Kawan!
      Senjata kaum imprealis adalah kapitalis, yaitu tidak lain senjata dan peluru.
      Senjata kaum proletariat adalah demonstrasi dan mogok kerja.
      Senjata Mahasiswa bukan lagi Karya Tulis (Tidak jernih) karena sudah terkontaminasi dengan konspirasi dan intervensi, heuheu
      .
      .
      .
      #bukanpenulisbayaran #aspirasikorban #momenpolitik #propagandatulisan

    2. Santai. Jelas saya berkepentingan di tulisan saya. Kenapa tidak? Pemira UIN dan produk birokrasi mahasiswanya juga tak jelas outputnya selain sorak-sorak pelantikan dan LPJ yang sembunyi-sembunyi. Dan monggo anda, yang berujar bahwa mahasiswa butuh karya yang jernih untuk membuat karya yang jernih. Sulit menafsirkan argumen anda dari sepotong sindiran di atas. Terimakasih

  2. Kalau saya sih gak peduli sama yg namanya pemira, lagipula mereka tidak mengutik kehidupan saya, yg penting itu kuliah yg rajin

Leave a Reply