Perempuan “Sial”

Zakarku puas, menggenggam bebas
kerna tubuh sintal bisu terhempas
dan deritanja tersimpan, takkan terungkap

Zakarku kini tegar, kekar
setelah teror, makar, luas tersebar

(Sadjak Zakar – Joss Wisibono)

Kepulan asap menghitam di langit Jakarta. Si jago merah enggan mengampuni setiap kemarahan yang membabi buta di penghujung hari. “Pyaaar,” kaca mobil itu pecah. Kayu seukuran betis pria dewasa dilempar oleh massa yang marah. Lengkap sudah, menambah dramatis 13-14 Mei 1998.

Sebuah bis melaju di jalan berpemandangan padang ilalang. Penumpangnya hendak pulang, melepas lelah setelah seharian bekerja. Rem bis mendecit, dipaksa berhenti oleh segerombolan massa yang tak kalah bengis dari serigala. Mereka naik, memboikot bis dengan teriakan. Muka-muka kelelahan berganti pucat.

Saya –yang sialnya, juga perempuan- membayangkan apa yang di benak mereka, ketika si muka bengis memilih mana penumpang cantik, mana juga yang kurang menarik. Perempuan-wantita berpeluh ketakutan itu digeret ke padang ilalang. Yang cantik, ditelanjangi lantas diperkosa. Dan yang dinilai kurang menarik, dipaksa berjalan dengan kondisi telanjang. Betul, saya membayangkan mereka mengutuk untuk menjadi cantik, sifat khusus kaum perempuan. Pun mereka mengutuk Tuhan yang memberi mereka payudara. Yang tak ayal, menyenangkan massa saat harus berjalan tanpa bra.

Menjadi perempuan sudah merupakan kesialan. Apalagi menjadi perempuan dalam kerusuhan. Belum lagi dibumbui dengan konflik rasial. Skak matt. Menurut Ita F. Nadia dari tim relawan, dalam dua hari terjadi setidaknya 44 kasus yang pemerkosaan. Hal tersebut terdapat dalam laporan Tempo edisi 18 Juni 1998, sebulan pasca kejadian. Tak cukup disitu, 5 dari mereka bahkan dibunuh. 3 lainnya, memiilih mengakhiri hidupnya, menganggap tak ada lagi yang tersisa.

Lagi, menjadi perempuan memang merupakan kesialan. Denny JA, dalam sajaknya Sapu Tangan Fang Yin, juga berkisah tentang perempuan Tionghoa yang diperkosa.  Ia menjerit, menendang, dan menjambak sebisanya. “hahaha hihihi,” suara mereka saat menindihnya. Fang yin tak sadarkan diri di tangan pemerkosa. Saya bertanya-tanya, kepuasan macam apa yang diperoleh dari sex yang mendeskriminasi perempuannya hingga tak sadarkan diri? “Setelah mereka memuntahkan spermanya, mengancing kembali celananya, beranikah mereka menatap korbannya? Bayangkanlah. Kepuasan seksual apakah yang mereka dapat? Bayangkanlah. Laki-laki ini, setelah zakarnya mengendor, kemudian menipu dirinya: Aku sudah menunjukkan kekuasaanku pada perempuan-perempuan Cina yang aku perkosa itu!” kata Made Supriatma

Hari ini 14 Mei 2016. Tepat 18 tahun sudah Indonesia diwarnai trauma erangan, rintihan dan ketakutan. Saya lagi-lagi membayangkan malam-malam perempuan, terutama Tionghoa atas sejarah kelam negaranya. Atas nama revolusi, lantas mengesampingkan sifat kemanusiaan. Atas  nama pembebasan, lantas tak lagi manusiawi.

Tapi toh rupanya Indonesia tak banyak berubah. 18 Tahun ternyata tak cukup untuk memberi pengetahuan pada warga negaranya, bahwa perkosaan, benar-benar hanya menyisakan luka. Kali ini Yuyun, siswi SMP yang hendak pulang dari sekolah korbannya. Ia juga ditelanjangi, diperkosa lantas dibunuh. Pelakunya, 14 remaja yang masih belia. Alangkah gagalnya Indonesia mengkader warganya.

Negara ini memang penuh dengan kisah ditelanjangi-diperkosa-dibunuh. Perempuan masih menjadi objeknya. Kalau saya boleh berkomentar, ini berkat sosialisai masyarakat atas jenis kelamin yang benar-benar mapan. Lelaki lebih kuat dari perempuan, dan bahwa perempuan harus berdandan sedemikian rupa untuk memikat lelaki. Harus pandai memasak untuk menyenangkan lelaki. Memposisikan perempuan sebagai objek dari lelaki yang dianggap lebih kuat.

Pandangan-pandangan kesetaraan perempuan memang banyak berkontribusi mengubah pola pikir ini. Meski kenyataannya, sosialisasinya tak kunjung merata. Seorang kawan pernah bertanya, “Jika sosialisasi kesetaraan perempuan telah menyeluruh, apa perempuan tak lagi membutuhkan perlindungan lelaki?” sebelum menjawab pertanyaan ini, ijinkan saya tertawa “HAHAHA.” Kalau seluruh masyarakat sudah paham bahwa lelaki dan perempuan setara, dan perempuan bukanlah objek dari lelaki, kami butuh perlindungan dari apa? Kalau relasi antar lelaki dan perempuan berdasarkan dialog dan kesepakatan keduanya, kami harus berlindung dari apa? Dan kalau kalau seluruh lelaki menggunakan kemanusiannya, dan memandang perempuan sebagai manusia pula, saya serius, saya tak butuh perlindungan apa-apa.[Latifatun Nasihah]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply