Peringatan New York Agreement: Menuntut Kebebasan Menentukan Nasib Sendiri

Kamis pagi (15/08) massa aksi peringatan New York Agreement memadati Stadion Gajayana Malang. Massa aksi merupakan gabungan dari Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP). Massa aksi terdiri dari 43 orang. Mereka berkumpul pada pukul 08.30 WIB lantas melakukan longmarch dengan tujuan akhir Balai Kota Malang. New York Agreement merupakan perjanjian antara Indonesia dengan Belanda tentang kekuasaan atas wilayah Irian Barat (Papua) yang dimediatori oleh Amerika Serikat dan ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 1962.

Dalam jurnal berjudul Kekerasan dan Konflik di Papua: Akar Masalah dan Strategi Mengatasinya yang ditulis oleh Yoseph Yapi Taum, latar belakang perjanjian ini adalah adanya perebutan kekuasaan atas wilayah Irian Barat yang merupakan daerah jajahan Belanda dengan sebutan Dutch New Guinea. Dalam Jurnal tersebut juga dijelakan jika sejak Maret 1962 perjanjian ini berlangsung alot dan pada tahun 1969 hingga saat ini terus menimbulkan konflik sosial sampai perampasan hak asasi manusia.

Masih dalam jurnal yang sama tertulis jika masyarakat Irian Barat beranggapan bahwa sejak awal Papua bukan bagian integral Negara Kesatuan RI (NKRI). Sebelum berintegrasi dengan NKRI di tahun 1969, yaitu dua puluh empat tahun setelah NKRI diproklamasikan.

Menurut Human Rights Watch tahun 2007, Perjanjian New York sendiri berisi beberapa hal diantaranya; (1) Irian Barat akan ditempatkan di bawah perwalian sementara PBB yang disebut United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA). (2) Pasukan Indonesia di wilayah Irian Barat di bawah koordinasi UNTEA. (3) Pasukan Belanda secara berangsur akan ditarik dari wilayah Irian Barat. (4) UNTEA mengalihkan wilayah Irian Barat kepada Indonesia selambat-lambatnya pada tanggal 1 Mei 1963. (5) Indonesia harus mengadakan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) untuk menentukan sikap rakyat Papua.

Jurnal yang ditulis oleh Yoseph pada tahun 2015 itu juga menjelaskan bahwa pada tahun 1964 orang asli Papua elite yang berpendidikan Belanda meminta bahwa Papua harus bebas tidak hanya dari Belanda tetapi juga dari Indonesia. Pemungutan suara pilihan bebas yang diterapkan berdasarkan Perjanjian New York 1962 oleh PBB dilaksanakan pada tahun 1969 melalui projek yang disebut Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) dengan melibatkan lebih dari 1025 jiwa yang dipilih sebagai perwujudan dari perwakilan rakyat Papua dari perkiraan jumlah penduduk pada saat itu sebanyak 800.000 jiwa.

Padahal, jika ditelisik sesuai dengan New York Agreement pasal 18d, pemungutan suara dilakukan satu orang satu suara (one man one vote). Proses ini yang dianggap penyebab timbulnya konflik dan kekerasan yang pertama di bumi Papua oleh jurnal yang ditulis Yoseph.

Yoseph juga menuliskan jika konflik dan kekerasan politik terjadi antara orang Papua dengan otoritas pemerintah RI, khususnya tentara melalui pendekatan keamanannya. Warga Papua beranggapan bahwa PEPERA juga pantas ditolak sebab terbukti bahwa dilaksanakan di bawah ancaman, intimidasi dan pembunuhan sadis.

Peringatan New York Agreement dengan tuntutan salah duanya memberikan kebebasan dan hak menentukan nasib sendiri, serta menarik militer organik maupun non organik di bumi papua yang dilakukan di Malang berakhir dengan tindakan represif oleh aparat dan warga sekitar. Aksi yang mulanya akan berakhir di Balai Kota Malang ini dibubarkan di samping kantor Bank BCA di Jalan Kahuripan Kota Malang.

Mikael Jeksen Siafu, koordinator lapangan dalam aksi ini menyebutkan bahwa ada 19 massa aksi mengalami luka berat juga ringan. Luka-luka ini terjadi di hampir seluruh bagian tubuh, ada yang mengalami lemparan di kepala, sobek pada kaki hingga lecet-lecet pada telinga sampai berdarah akibat terkena lemparan batu.

Jeksen juga mengklarifikasi isu yang beredar tentang aksi mereka yang dituduh tidak memiliki izin. “Kami sudah mengirim surat kepada pihak kepolisian, tetapi ditolak. Kami juga hanya ingin mendapatkan hak untuk mengungkapkan pendapat di depan umum sesuai dengan UU No. 9 tahun 1998 tapi malah dianggap sebagai penyebab kerusuhan,” terang laki-laki yang juga mengalami luka di ibu jari dan bagian leher kanannya. []

Dwi Yulia Istiqomah
berkawandengankenangan.wordpress.com

Leave a Reply