Perjuangan HAM Bukan Hanya dengan Demo

Butet Kartaredjasa, seorang budayawan senior, mengatakan bahwa demo hanyalah salah satu cara untuk memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM). Banyak cara yang sebenarnya bisa ditempuh selain dengan demo, bisa melalui meja diplomasi, kekuatan religius, lingkungan, dan lain sebagainya. “Saya ndak pernah ikut aksi demo turun jalan, karena memang jalan yang saya pilih berbeda. Dan saya menyakini jalan saya.“ ungkapnya saat menanggapi pertanyaan salah satu audiens dalam acara “Soft Launching Omah Munir” di Bumiaji, Batu.

Butet menilai bahwa dalam setiap perjuangan di bidang apapun, selalu ada sebuah kekuatan yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama. Ia pun termasuk bagian dari kekuatan yang lain dalam memperjuangkan HAM dengan kesenian. Di masa orde baru Butet berjuang dengan ikut serta dalam teater Gandrik. “Yang perlu disadari adalah kerendahan hati, bahwa setiap jalan mempunyai kekuatannya masing-masing. Tidak bisa memutlakkan salah satu dari semuanya itu.” Terangnya.

Demonstrasi diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh seorang atau lebih untuk mengeluarkan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara demonstratif di muka umum. Hal itu telah diatur di Undang-undang Nomor 9 Tahun 1998.

Menurut Butet, kecongkaan masing-masing individu sering tidak disadari untuk menjadikan aksi turun jalan menjadi aksi yang wajib dan harga mati. “Anda mempunyai kekuatan apa? Apakah cukup dengan demo dijalanan? Kalau anda bisa menulis mengapa anda tidak menulis dikoran?” Tantangan Butet kepada para audiens yang diiringi dengan tepukan tangan yang meriah. [Salis Fahrudin]

Leave a Reply