Kau, berjalan limbung ketika kau terbangun akibat mimpi buruk yang tiba-tiba mengharuskan  kau sadar. Badanmu yang semula telentang di atas ranjang, tiba-tiba berada tergeletak di atas lantai. Kedua kaki dan tanganmu yang bekerjasama menopang tubuhmu untuk berdiri tegak, tanpa sengaja menuntunmu menuju balkon apartemen. Dari lantai kedua belas gedung itu, kau melihat batas antara pagar dan daratan adalah setinggi 50 meter. Kedua kaki dan tanganmu, memegang pagar pembatas, tapi kau tidak sadar, seolah ia digerakkan oleh Jin. Tubuhmu tak sanggup melawan, tubuhmu malfungsi.

Empat detik setelahnya: Empat, Tiga, Dua, Satu. Tubuhmu takluk, dan kau melewati pagar pembatas. Kedua tangan yang mengikat tubuhmu pada pembatas, seketika lepas. Kedua kakimu yang berpijak pada ujung pembatas, seketika lepas. Kau terjun bebas, tanpa pengaman. Di halaman apartemen, tak ada orang lain, yang kau lihat pada tempo terakhir terjun bebasmu hanyalah sebuah deretan mobil yang diparkir berjejer. Kau tergeletak. Saat kau sadar posisimu sedang berada di atas batako, kepalamu yang terbentur pecah, dan darah mengucur tanpa henti. Dan kau kembali tak sadar.

Tubuhmu yang sedang berbaring di atas ranjang menegang. Kau terbangun, dan sarafmu merekam kejadian itu pada neuron sensorikmu, Transmisi selanjutnya terjadi pada interneuron, dan kemudian menuju neuron motorik. “Ini cuma mimpi, astaga serem banget mimpi malam ini,” ujarmu sambil tercengang. Kau bangun, menuju kamar mandi, mencuci muka, lalu kembali ke kamar. Sampai di kamar, kau lekas memeriksa gawaimu, “Pertanda apa ini?” Kau kembali mengenang kejadian yang sempat mampir ke dalam tidur malammu tadi.

Tak ada tanda-tanda, “cuma mimpi lewat, kayaknya aku lupa baca doa,” ujarmu. Tak ada kabar buruk. Setelah kau memeriksa gawaimu, yang kau temukan hanya sebuah pesan dari grup kelas. “TUGAS BESOK, DEADLINE JAM 09.00 : SIAPIN PPT, DOSENNYA KILLER, KALO GAGAL NGULANG!!” Kau tak peduli, sebab bagimu itu hal biasa. Kau sempat menulis besar-besar sebuah pamflet yang kau tempel di tembok kamarmu, “Kuliah adalah menuntaskan bakti kepada orang tua, santai, amati dan kuasai.” Atau pada pamflet kedua, kau tuliskan, “Dosen killer adalah dosen yang kurang gaji, sumpel aja mulutnya pake sebungkus Surya,” dan kau kembali terlelap.

Kau menuju tidurmu yang kedua. Kali ini kau berdoa lebih dahulu, sebab kau berharap tak ada mimpi buruk untuk kedua kalinya. Tiga menit kemudian, kau merasa tubuhmu regang, kau merasa kembali terbangun, kau merasa doamu tak ampuh. Dengan langkah cepat, kau menuju dapur, “aku harus minum obat tidur, kalo enggak, besok presentasi gak bangun.” Kau membuka laci P3K mu, kau ambil selempang Nytol, kau buka perlahan. Kau kumpulkan dalam genggamanmu, 10 butir obat. Kau ambil air segelas, dan kau tegak obat sekaligus. “Bodo amat, yang penting bisa tidur nyenyak,” ucapmu dengan nada kesal. 

Menurut keterangan dokter yang kau kunjungi tempo hari, sebab kau mengalami susah tidur akibat insomnia kronis, kau hanya diperkenankan minum obat tidur sebesar 12 Mg sebelum tidur. Tetapi kini, kau teguk sekaligus 10 butir, maka kau telah melewati batas dosis sebanyak sepuluh kali lipat. Menurut keterangan dokter yang kau kunjungi pula, kau akan mengantuk tepat 10 menit setelah kau minum obat itu per satu butir tiap malam. Tetapi kini, kau meneguk berlebihan. Dalam jangka waktu satu menit, kau langsung merasakan efek mengantuk, sekaligus pusing. Kau berjalan limbung menuju tempat tidurmu. Sampai di ujung kamar, tepat di sebelah jendela yang menghadap balkon, kau terhuyung-huyung, dan kau menuju balkon lalu jatuh menuju parkiran. Kepalamu pecah dan berdarah untuk kedua kalinya.

Tubuhmu yang sedang berbaring di atas ranjang menegang. Kau terbangun, dan sarafmu merekam kejadian kedua itu pada neuron sensorikmu, Transmisi selanjutnya terjadi pada interneuron, dan kemudian menuju neuron motorik kembali. “Ada apa lagi ya Tuhan, kenapa harus bangun dan mimpi yang aneh lagi,” keluhmu untuk kedua kalinya. Tetapi, kau tidak menuju kamar mandi, sebab kini kau yakin, “pasti ini pertanda buruk” tegasmu. Kau kembali mengecek gawaimu. Namun lagi-lagi tak ada pertanda. Masih dalam notifikasi yang sama, dan kau tentu tetap tidak peduli. Kali ketiga kau tidur, kau mengganti doamu. Kali ini, kau teringat doa ampuh yang kau simpan sejak lama yang kau dapatkan dari gurumu. Nasehat gurumu, kau hanya dapat menggunakan doa itu dalam suasana genting. Sebab menurutmu ini adalah keadaan genting, maka kau gunakan doa itu.

“Kali ini, pasti tidur nyenyak, doa terakhir. Terima kasih guru atas senjata pamungkasmu,” ujarmu setelah berdoa. Lima menit selanjutnya kau tertidur lelap.

Kau berhasil tidur nyenyak, dan kau terbangun tepat pada pukul 6 pagi, persis seperti kebiasaanmu di tiap hari. Kau bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap-siap menuntaskan tugas notifikasi yang telah kau terima kemarin. 1 jam adalah jarak tempuh menuju kampusmu, hal itulah yang membuatmu selalu bergegas di pagi hari. Presentasi tepat pukul 9 pagi. Jika kau bangun jam 6, maka kau memiliki kesempatan 3 jam untuk sampai di kampusmu. Hari ini, kau ingin sampai lebih cepat, “lumayan sejam untuk review materi,” ujarmu. Setelah selesai mandi, kau lekas mengemas segala kebutuhan untuk di kampus nanti. Kau tak lupa bahwa kau perlu mengabari teman kelompokmu lebih dulu. Setelah semua siap, kau buka gawaimu. Dan kau menemukan bom notifikasi. Jumlah pesannya adalah 50 pesan dari kontak yang berbeda dan dalam waktu yang bersamaan.

“Turut berduka cita atas meninggalnya Ahmad Rizal Pratama. Teman seperjuangan kita, sahabat baik, kawan dan saudara kita. Semoga husnul khotimah, diterima amal baiknya dan diampuni dosa-dosanya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.” 

Demikian notifikasi yang kau terima.

“Rizal?!!” Sontak kau terkejut, lalu kau pingsan setengah sadar. Kau bangun setelah jam pelajaran rampung. Tanpa sadar setelah kau siuman, ranjangmu basah kuyup.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on print

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close
LOKER ISU REDAKSI
merupakan wadah yang disediakan bagi seluruh sivitas akademika Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dan masyarakat umum yang ingin menyalurkan isu untuk diangkat menjadi berita.
Klik di sini
MARI BERKONTRIBUSI
kami menerima karya dari kalian yang ingin menyuarakan gagasannya melalui tulisan
Klik di sini
Previous
Next