Puisi-puisi Edel; Edelweiss Kering di dalam Vas Kaca

Edelweiss tercerabut, hanya seikat

angin angin gunung menjadi semrawut

lebah-lebah kalang kabut

pikirku berserabut, sembunyi lari dari prajurit Istana Putri Edelweiss tinggal

Kuantar dirimu yang mengering ke rumah, pulang kembali

pada hunian kecil di kaki Semeru

abadi di ruang tamu, di atasnya tergantung kandil emas warisan omah.

Edelweiss kering di dalam vas kaca,

biarlah debu menumpuk, bagai selimut salju di puncak Titlis

di kelopakmu kala mengering, lalu putih yang terlapis pucat.

Mencipta efek kaku seperti mayat,

tepat seperti diriku saat dengar kabar dari angin bahwa kau melesap.

Edelweiss kering di dalam vas

usai sudah lewati masa; dua musim panenkopi lereng

mama terus mengigau; meracau.

Edelweiss anakku… Edelweiss berbibir ranum

tak berpulang.

Terakhir, Edelweiss berbibir ranum hendak menantang diri

untuk mendaki Semeru; tangan dan kakinya terlampau panjang untuk Semeru

Menangislah mama, restu tak kunjung bergetar dari merah bibir penginang

kembali dan pulang menjadi lain hal; sama-sama sampai, namun bukan ke rumah.

Barangkali kau pulang ke Istana Raja Meru, atau pulang ke induk macan alas di guanya.

Turun angin gunung penghantar kabar;

pasca penobatan raja baru di Istana Raja Meru, putra mahkotanya terpikat padamu; dipinangnya kau dan hidup bagai putri di dunia dongengan. Menjadi Putri Edelweiss di dongengan Ibu untuk anaknya; diceritakan sepanjang aliran terjunan Tumpak Sewu akan bermuara; ada saatnya uzur dan berakhir.

Saat kembali, tubuhmu telah ditumbuhi Edelweiss liar.

Kelambu masa telah dibuka, kau dalam pemandian embun cahaya.

Biarlah kami memandang selalu; Edelweiss kering di dalam vas kaca.

Elegi Jajanan Pasar

(1)

Langit tetap biru, namun udara di kamar-kamar membiru. Saatnya diumumkan penerima hadiah utama atas pedagang paling berdedikasi; liburan abadi ke Surga untuk budhe, gratis! Ternyata pencabutan ruh semudah mencabut jajanan maulid nabi di langgar. Apakah hidup manusia jua semurah jajanan pasar? Bergairah, menggugah rasa, lalu layu, lebihnya murah.

(2)

“Semurah-murahnya jajanan pasar; tetap meruang di lambung para penjual di pasar, kuli angkut, tengkulak, setiap pagi.” Jajanan pasar manis, masih lebih manis bibir pelapak-pelapak sebelah melihat budhe layu; tersenyum manis satu pesaing telah lesap.

(3)

Jajanan pasar; sumsum, klepon, cenil megal-megol di nampan dagangan budhe, gembira penuh pelanggan. Gula merah gemulai menyaluti cenil-cenil centil. Sekahan keringat budhe padakain gombal saling menyerap rindu, meninggalkan noda basah pertanda pengapnya ruang pasar dan perasaan.

(4)

Megal-megol dalam ramai jajan pasar budhe menarik pelanggan, lalu dengki dari penjual di lapak sebelah. Upah dagangan seharian berbalas buah tenungan dukun Surowiti; gelapnya lemaskan megal-megol dan kesintalan jajanan pasar budhe, harum pandan berganti anyir jeroan Bandeng. Sampai modarnya sandang pangan; urip budhe.

(5)

Hidup semurah jajanan pasar. Begitu pula budhe; gemulai bagai jajanan pasar, lalu  nyawa yang selembek jajanan pasar.

Sepulang Mengaji dari Langgar

(1)

Pukul 5 sore, usai mengaji, lapar makin meraung. Umpatan lapar mengutuk tangan memukul gemas perut. Kenapa hawa kutukan merisak tanganku? Cak Inggih masih menghukum Ulfah, tiada lancar hapalan surah pendek sampai khatam, memori terkotak bagai air tambak tersekat tanggul. Terpaku, masih terlikat di lantai langgar. Kami; arek Kroman Gang 7 masygul, telah khatam seluruh surah-surah Juz 30!

(2)

Sepulang ngaji, sejurus jalan menuju rombong Cak Adhim, penjual pentol sari laut pantura; pentol udang, pentol cumi, pentol gurita, pentol telur bader. Masih berenang dan mengambang di dandang dagangan, menikmati masa utuh sebelum terlumat mulut-mulut lapar. Agar tercipta tampilan pentol sintal nan menggugah; dimandikan air siraman kaldu, kemudian siraman kalbu Cak Adhim seorang.

Keterangan:

Cak adalah kata sapaan khas untuk orang laki-laki di daerah Gresik dan Surabaya, Jawa Timur. 

Arek merupakan kata dari Bahasa Jawa Timuran yang memiliki arti ”Anak-anak”.

edeliya relanika
Nama saya Edeliya Relanika Purwandi, biasa dipanggil Edeliya. Saya berumur 19 tahun dan berasal dari Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Saya adalah mahasiswa di Universitas Brawijaya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, jurusan Ilmu Komunikasi. Saya telah menulis beberapa karya puisi, esai, dan cerpen serta dimuat di sejumlah media. Dare to know? Instagram: @edeliyarerelala Tumblr: iniedeliyarelanika.tumblr.com

3 thoughts on “Puisi-puisi Edel; Edelweiss Kering di dalam Vas Kaca

    1. Terima kasih atas apresiasinya dari UAPM Inovasi dan Mas Dede. Dengan dimuatnya dimuatnya puisi ini, dapat memacu saya untuk terus aktif berkarya dan membenah diri menjadi yang lebih baik

Leave a Reply