Puisi-Puisi Husni; Bubur Kayu, Itulah Aku

Api yang Terbakar

 

Ku tatap sekelilingku

Ku tak melihat yang ditangkap mataku

Namun ku melihat tatapan kosong para jelata

Ditindas  mata pongah tikus berdasi

Sungai kecil tak sadar menganak air di sudut mataku

Qalbuku berkecamuk

Diantara marah dan sedih

Antara benci dan cinta

Api menyala di jiwaku

Membara terbakar oleh ulah naga nusantara

Para penguasa negara tanpa rasa

Membunuh halus orang yang berkeringat untuk perutnya

Wahai para pemegang tahta

Kau orasikan cinta bangsa

Kau teriakkan patriotisme

Kau pekikkan nasionalisme

Dan dengan nikmatnya kau telan ludah sendiri

Tuhan sampaikan pekikkan kami untuk para pemegang kursi

 

 

Rona Belantara

 

Hari ini hari kau dilahirkan di bumi pertiwi

Darah biru pekat mengalir di dalam diri

Walau kau menangis tak megerti

Tapi semua tahu kau akan berarti

Kau membunga di tengah belantara

Mekar dengan pancaran surya

Lilitan benalu tak membuatmu sirna

Kau semakin merekah dan merona

Memang,

Aku tak bisa lagi mendengar nadamu

Tapi aku masih bisa bercengkrama dengan akalmu

Kau pelita bagi wanita-wanitaku

 

 

Kau Siapa?

 

Kau wanita gagal

Kau khianati dirimu sendiri

Kau lakukan yang kau hujati

Kau caci mulut moyangmu

Kau kritisi suara Tuhanmu

Lalu,

Santainya kemudian kau puji eluhkan

Bahkan mentaati

Dan,

Kau menjadi pahlawan bangsa?

Hah, untuk apa?

Penggerak wanita bisa?

Penentang perempuan paling berani?

Gadis paling peduli?

Hey, membuih di luar sana

Entah.

 

 

Bubur Kayu

 

Ku menatap dibalik dinding istana

Wajah-wajah cantik bergaris kasar

Tatapan pasrah tak meronta

Melangkah dengan lilitan di kaki

Bergerak kecil-kecil

Bahkan langkah manusia besi Jepang lebih besar darinya

Tak kuasa ku tahan gejolak diri

Melihat wanita di negeri tak kuasai diri

“A” dan “I” pun tak mengerti

Hati ini berteriak menyorak

Hey, ambil lah pena dan bubur kayu ini!

Kamu akan melihat dunia dan isinya

Suara hati siapa yang tahu?

Aku seorang putri yang mencintai istananya

Aku seorang dayak yang mencintai hutannya

Aku seorang manusia yang mencitai manusianya

Aku seorang wanita yang mencintai wanitanya

 

 

Itulah Aku

 

Tak lama tubuhku tegak di bumi

Tak luas tanah ku tapaki

Tak banyak tetesan air tubuh ku perasi

Tak banyak untuk ibu pertiwi

Ku tak pandai berkuda dan bersenjata

Gerakan yang ku tahu hanya pena

Tinta pembakar gejolak pahlawan sebenarnya

Itu yang aku ciptakan

Tak eluhkan puji dan tahta

Inginku darah biru dan merah sama

Harapku cantik dan tampan bersua

Tanpa sekat dalam

Gadis berakal bujang

Wanita bernapaskan pria

Bukan menyamai pun melangkahi

Bercita makan kertas juga

Agar tak bergantung penuh

Agar bisa mencerdaskan timangan

Darah penerus perjuangan

Bukankah guru pertama anakmu itu adalah wanita?

Lalu kenapa dengan bodohnya kau batasi ilmunya?

Hanya itu harapku

Itulah buah akal yang ku luapkan dengan tinta

Dia abadi, mengabdi untuk negri

Masih bertanya kenapa aku pahlawan?

 

 

Citaku untuk Anakku

 

Di alam yang tak lagi muda

Sudah banyak darah berjuangan tersimbah

Di jagat nan luas juga di tanahmu

Biar di luar sana mereka masih berdarah-darah

Kalian jangan

Tak pernah ku citakan pemberontakan

Apalagi pada anak-anakku

Mintalah dirimu agar kau punyai juga dirimu sendiri

Mintalah kertasmu agar bantu para lelaki

Tetap hargai bukan melangkahi dan menguasai

Sejatinya kau dan dia saling melengkapi

Bukanlah bersaing dan menyakiti

Tak usah khawatir

Kalian berposisi sendiri-sendiri

Kau perjuangkan hakmu tanpa lupa kewajibanmu.[]

Leave a Reply