Puisi-Puisi Ifa; Katanya

IIlustrasi: Ifa Maghfirotus S.

KATANYA

Ketika mereka sibuk berunding

Merundingkan kebijakan yang adil, katanya

Namun, apa kabar kami?

Yang menanti hal yang tak pasti

Katanya ini negara demokrasi

Namun, kami tak punya hak untuk menetapkan

Katanya hanya menyampaikan,

Bukan sok berwenang

Kami hanya menyorakkan keadilan

Tapi, mengapa kami dikecam?

Kami memang tak punya wewenang

Tapi, tak lantas mereka bisa bersikap sewenang-wenang

Kami sadar

Kami hidup di negara yang mana keadilan menjadi aib yang harus dibungkam

Kami sadar

Kami hidup di negara yang mana para penjilat menjadi kebanggaan

Kami pun sadar

Kami hidup dalam negara yang katanya demokratis,

Tapi, mengapa kau apatis ?

Semuanya hanya sebatas “katanya”

Namun, tidak ada wujudnya

Pasuruan, 2021


IIlustrasi: Ifa Maghfirotus S.

TERTINDAS

Ancaman!

Buruk sekali

Segala akal senyap, tak menyadari

Pun bertindak, lagi tak berani

Adalah sebab diskriminasi

Minoritas terus tenggelam

Dalam kenangan kelam

Takkan ada di permukaan

Berbalik seratus delapan puluh derajat,

Para penguasa terus mengambang, tenang

Tanpa rasa peduli mereka tertawa senang

Pasuruan, 2021


IIlustrasi: Ifa Maghfirotus S.

BUSUK DAN TAK DIANGGAP

Percaya atau tidak ?

Soal kata ‘ya’ atau ‘tidak’

Memilih ‘setuju’ atau ‘menolak’

Gejolak perdebatan batin membuat kata ‘ya’ menjadi pilihan

Menyerahkan impian pada kata ‘ya’

Meng-iya-kan pada kekuasaan yang tak bertanggung jawab

Membiarkan impian hancur berkepanjangan,

demi kata ‘ya’ yang sesaat

Kata ‘ya’ atau ‘tidak’ memang singkat, tapi sesat

Jika kata ‘ya’ menjadi ‘tidak’

Dan ‘tidak’ menjadi ‘ya’

Berpikir dangkal yang menjadi sebab

Dan esok, yang menjadi korban

Ratusan jiwa menggantung tanpa alasan,

Sebab kata ‘tidak’ yang beralasan

Sebagian yang lain memilih ‘ya’

lalu menggusur segala ‘tidak’

Mereka yang ‘ya’ akan sadar

Mereka hanya menjadi budak para penjilat negeri

Mereka hanya menjadi ampas santan,

Yang setelah diperas lalu dibuang

Mereka hanya, hanya dan hanya menjadi sampingan

Mereka hanya menjadi sumber keuntungan

Padahal, mereka tak tahu keuntungan dari mereka sendiri

Awalnya,

Menjadi prioritas

Menjadi kesayangan

Menjadi kebanggaan

Setelah itu,

Mereka dihempas

Mereka tersingkirkan

Mereka hanya menjadi kotoran

Yang busuk dan ‘tak’ dianggap

Pasuruan, 2021

Tinggalkan Balasan