Raghnar Lotbrok, Viking, dan Taruhan Politik Agama Konservatif

Raghnar Lotbrok, dengan janggut panjang kuning terkepang, membawa sebilah kapak datang menemui Rollo, saudara seperjuangannya. “Mari kita berlayar ke Barat, lihat apa yang aku miliki”, terang Ragnar pada Rollo, sambil mengeluarkan sebuah Kompas Matahari dari kantong kirinya dan menjelaskan cara kerjanya. 

Rollo tak lekas percaya, sebab menurutnya kompas itu hanya berguna bila ada matahari. Ia ragu bila badai tiba kompas itu tak bekerja. Raghnar tak kehabisan akal, ia telah menyiapkan lebih dahulu sebuah batu permata yang dapat memantulkan cahaya matahari. Nantinya batu itulah yang akan membantu mereka bila badai tiba dan suasana gelap. Rollo belum sepenuhnya yakin.

Musim panas tiba, musim dingin berlalu. Orang-orang Nordik berkumpul di ruang musyawarah, letaknya tepat di tengah Kattegat, pusat kota mereka. Earl Haraldson, tetua Suku Nordik memimpin perkumpulan itu. Raghar, Rollo beserta keluarga mereka turut hadir dalam perkumpulan. “Dalam dua minggu kedepan, kita akan bersiap untuk kembali menjarah ke Timur”, ujar Earl Haradson, disertai sorak tepuk tangan anggota suku.

Raghnar tidak ikut bertepuk tangan. Dua alisnya mengkerut, dan matanya tajam memandang Earl yang sedang duduk di atas singgasananya. Raghar tak ingin Earl kembali membawa sukunya kembali menjarah ke Timur. Ia ingin suasana baru, pelayaran menuju Barat, sebagaimana rencana yang telah ia sampaikan kepada Rollo, saudaranya. Maka, ia tak segan mengacungkan tangan dan berbicara. “Sudah 400 tahun lamanya kita menjarah Timur. Tetapi ada alternatif lain jika kalian memilih. Kita akan menuju Barat”, tegas Raghnar di tengah forum. Forum seketika redup, dan orang-orang menatap aneh Raghnar. Satu menit kemudian, gelak tawa pecah dan seisi ruang kembali riuh.

Raghnar ditolak dan dianggap gila. Sebab menurut keyakinan Nordik, usulan Raghnar adalah legenda turun-temurun yang tak mungkin menjadi nyata. Sekalipun terjadi, masyarakat meyakini hal itu hanya akan menyebabkan mereka bertengkar dengan para Dewa. Setelah forum perkumpulan dibubarkan ia dipanggil oleh Earl Haraldson ke ruangan khususnya. Dengan penuh keyakinan, ia datang dan dengan kukuh tetap akan melaksanakan rencananya.

“Raghar Lothbrok, apa yang Anda inginkan? Sebuah kapal? Hak tinggal di ruang khususku? Atau apapun yang Anda inginkan, silahkan ungkapkan. Tindakanmu yang selalu bicara tentang pelayaran menuju barat, itu telah mempermalukan derajatku sebagai Earl. Mengapa kamu terus membicarakan itu?”, tanya Earl Haraldson dengan ketus.

“Saya tak menginginkan apapun, tetapi saya percaya bahwa Barat adalah tanah kaya. Saya yakin bila kita dapat menuju Barat, akan membawa keuntungan tersendiri bagi kita”, tegas Raghnar.

“Saya tidak peduli apa yang Anda percayai. Apakah anda memahami posisi Anda yang hanya seorang petani? Anda tidak akan mendapat dukungan apapun. Apapun yang akan Anda lakukan, Anda harus berkaca!”, Earl kembali membalas dengan tegas.

“Ya, tentu saya menyadarinya, dan saya mohon izin pamit”, jawab Raghnar sambil meninggalkan ruangan Earl.

Keesokan harinya, Raghnar bersama Bjorn, anak pertamanya datang menemui Floki. Seorang tukang perahu ulung yang tinggal di pesisir Kattegat. Raghnar menemui Floki guna menindaklanjuti rencananya untuk berlayar menuju Barat. Floki menerima tawarannya, dengan syarat ia diikutsertakan dalam pelayarannya menuju Barat. Setelah mereka sepakat, Floki berseru “Odin merestui perjalanan kita!”, ucapnya dengan semangat.

Raghnar dan Politisasi Agama

Menuju Barat, dan sampai di sebuah daerah pertanian luas lagi hijau. Anglo-Saxon (250 SM). Itulah tempat pemberhentian awal pasukan pelayaran pertama Raghnar menuju Barat. Floki dengan senang turun dari kapal ke daratan, dan dengan kencang berkata “Odin merestui kita”. Lalu disusul oleh turunnya para anggota pasukan lain, termasuk Raghnar dan Rollo.

Tanpa euforia lebih, mereka lekas menuju  ke kawasan yang lebih dalam dan mendirikan tenda untuk beristirahat sejenak di dalam hutan. Cukup satu malam, menjelang pagi mereka telah bersiap masuk ke kawasan perkotaan. Perisai, pedang dan perlengkapan senjata lain juga turut mengiringi mereka.

Sesampainya di kota, mereka menemukan sebuah pemukiman tenang dengan masyarakat khas pertanian yang sedang bekerja mengangkut air bolak-balik menuju ladang. Postur mereka jauh lebih kecil dibandingkan pasukan Raghnar. Maka tanpa pikir Panjang, Raghar lekas memberikan perintah untuk menghabisi mereka dan segera mengambil jarahan harta mereka di sekitar pemukiman.

Tidak butuh 5 menit, mayat para pemukim itu telah memenuhi tanah. Harta-harta mereka telah dikumpulkan. Setelah mendapat harta jarahan, Raghnar lekas memberikan perintah agar mereka kembali ke kapal untuk membawa harta itu pulang. Raghnar mengambil inisiatif untuk menyekap satu sandra. Seorang biarawan tampan bernama Althestan. Ia menyekapnya sebab ia tertarik ketika penjarahan berlangsung, Althestan tak panik menyelamatkan hartanya, ia justru khawatir jika Injil yang ia sembunyikan di Gudang juga dicuri.

Di Kattegat, Althestan diangkat oleh Raghnar sebagai budak. Ia memiliki tugas untuk membantu pekerjaan rumah tangga Raghnar, seperti memasak ikan hasil tangkapannya. Sampai suatu malam, Raghnar penasaran terhadap perilaku Althestan ketika penjarahan berlangsung. Ia bertanya mengapa ia hanya peduli pada sebuah buku yang berisi kertas dan tak memiliki nilai. Althestan hanya menjawab sebab itulah keyakinannya dengan Tuhan Sang Maha. 

Althestan tak hanya menjelaskan soal tindakannya. Ia juga menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukan oleh Ragnar dan pasukannya terbilang kejam. Menjarah dan membunuh orang tak berdosa. Lebih spesifik ia menjelaskan bahwa Raghnar dan pasukannya termasuk ke dalam golongan kafir. Adapun perilaku Althestan saat menyelamatkan kitab adalah berdoa kepada Tuhannya melalui perantara Injil itu. Sebab menurut kepercayaan Krisitani yang dianut oleh Althestan, dengan cara berdoalah Tuhan menyelamatkannya dari marabahaya orang kafir.

Raghnar yang sedang tertidur mendengarkan cerita Althestan, sontak tiba-tiba saja terbangun, bibirnya tersenyum lebar pertanda ketertarikan. Ia menemukan hal baru, yaitu Tuhan baru yang hanya berjumlah satu. Sementara keyakinannya adalah Tuhan berjumlah banyak dan memiliki tupoksi beragam. Tiga bulan kurang lebih lamanya mereka saling berbagi pengetahuan tentang dua jenis Tuhan mereka. Raghnar semakin memahami, bahwa keyakinan yang ia miliki jauh lebih memiliki spirit untuk berkembang dibandingkan dengan keyakinan Althestan yang sangat lemah dan tunduk. Bagi Raghnar, keyakinan suku mereka adalah kekuatan untuk berperang dengan tangkas, seperti yang digambarkan oleh Odin. Adapun dewa-dewa lain seperti Thor dan Loki memiliki tugas lain, yang sama-sama dalam spirit berkembang. 

Setelah memahami hal itu, Raghnar semakin giat menjarah wilayah Barat. Alasannya tak lain adalah sebab keunggulan kekuatan Tuhan yang Raghnar yakini. Benar saja, dalam pelayaran keduanya, ia tak perlu menyiapkan strategi yang begitu rapih. Kota yang ia datangi dalam pelayaran keduanya, merupakan pusat kota. Raghnar dan pasukannya tepat menjarah pada waktu ibadah umat kristiani setempat. Tanpa perlawanan tangkas, dengan mudah mereka menjarah harta masyarakat setempat. Sementara masyarakat setempat sedang khusyuk meminta perlindungan tanpa perlawanan.

Dalam penjarahan-penjarahan selanjutnya, intensitas dinamika Raghnar dengan keyakinannya terlihat semakin menarik. Semakin lama ia interaksi, semakin ia menyadari bahwa peran agama dalam kuasa politiknya adalah merupakan jalur terbaik untuk menguasai suatu masyarakat. Maka kadang ia tak peduli ketika melihat Rollo dalam satu scene-nya dibaptis menjadi Kristen sebagai syarat  mendapatkan legitimasi wilayah. 

Nasib Umat Agama Konservatif

Raghnar dan perkembangan dinamika spiritualnya memiliki hal menarik. Pertama, akibat analisis politiknya ia dapat menggerakan sukunya mendapatkan kekayaan hingga Paris. Kedua, ia banyak memperoleh ilmu pengetahuan baru melalui nalar rasionalnya. Ketiga, ia dengan mudah mengetahui celah musuh akibat konservatifme umat kristiani saat itu.

Dalam hal ini, film Viking ini memiliki kelebihan dalam penggambaran politik praktis yang kerap kita temui dalam dunia riil. Tanpa khutbah. Misalnya, apa yang digambarkan film itu pernah terjadi dalam peradaban Agama Islam saat Kolonialisme Prancis masuk ke Timur Tengah pada abad 17 pertengahan. Islam yang saat itu mengalami penurunan Ilmu Pengetahuan dan maraknya penyelewengan kekuasaan menyebabkan mereka terjajah dan kaget.

Prancis, dengan seperangkat Tentara yang dibawa oleh Napoleon tidak hanya menjajah mereka melalui militer. Mereka juga berhasil membangun laboratorium-laboratorium penelitian Sains, membangun pusat kesenian teatrikal, dan mengembangkan industri tekstil, mode dan fashion yang sebagian bahan bakunya kapuk milik masyarakat Mesir.

Mereka bertengkar satu sama lain, lantaran polemik antar ulama yang mempertanyakan apakah Ilmu Pengetahuan yang dibawa oleh Prancis termasuk haram atau tidak.

Tak hanya sampai situ, Napoleon juga berencana untuk menjadikan Mesir sebagai bagian dari provinsi Prancis. Dibantu oleh Jenderal Jacques Menou, Napoleon berhasil mempengaruhi ulama setempat dengan tawaran ia dapat membantu agar politik Mesir lebih stabil. Di tengah penjajahan Prancis, memang saat itu politik Mesir sedang kisruh akibat kedatangan Prancis. Mereka bertengkar satu sama lain, lantaran polemik antar ulama yang mempertanyakan apakah Ilmu Pengetahuan yang dibawa oleh Prancis termasuk haram atau tidak. Sebagian ulama Ortodoks meyakini bahwa Ilmu itu tak patut dipelajari, sementara sebagian lainnya meyakini bahwa hal itu perlu dipelajari.

Sama seperti Kristen pada abad pertengahan, Islam atau agama lain pun sempat mengalami “era kegelapan” yang menyebabkan dampak keterjajahan akibat keterbelakangan ilmu pengetahuan yang diselimuti oleh fanatisme konservatif. Tentu saja, perkembangan Teknologi akibat adanya revolusi industri di Prancis juga Inggris menyebabkan peradaban Eropa jauh lebih maju dalam wilayah Teknologi dibandingkan peradaban lain yang masih bertengkar soal ketuhanan.

Demikianlah bagaimana kisah Raghnar bermula dan berjaya. Ia memiliki kecakapan analisis politik yang baik. Dan film disarankan agar ditonton oleh khalayak penikmat genre drama. Terlebih mereka yang sedang banyak belajar soal isu-isu Agama. []


Judul: Viking

Jenis Film: Action, Adventure, History, Drama

Sutradara: Andrei Kravchuk 

Produksi: Octagon Films, Take 5 Productions

Tahun : 2016

Resentator: Ajmal Fajar Sidiq


Daftar Pustaka:

Ketchley, N. (2017). Egypt In Time Of A Revolution. New York: Cambridge University Press.

Marsot, A. L.-S. (2007). A History Of Egypt From The Arab Conquest To The Present. New York: Cambridge University Press.

Nawawi, R. S. (2002). Rasionalitas Tafsir Muhammad ABduh. Jakarta: Paramadina Press.

Tinggalkan Balasan