Reformasi, yang Patah Tumbuh yang Hilang Berganti

Bulan Mei, 19 tahun yang lalu merupakan bulan paling bersuka cita bagi para mahasiswa. Protes mereka yang begitu lama membuahkan hasil. Sang diktator yang begitu lama menumpuk kekuasaan dan kekayaan akhirnya tumbang. Nama sang diktator itu adalah Soeharto. Menurut Deutsche Welle, sang diktator yang murah senyum itu dalam kurun waktu 33 tahun telah mengungguli diktator-diktator lainnya dalam hal kekayaan. Tercatat Rp, 200. 000 000 000 000 yang telah ia miliki, sebanding dengan apbn Pemerintahan Jokowi dalam kurun waktu setahun.

Proses tumbangnya resim inilah yang kelak dikenal dengan istilah reformasi. Sebuah kata yang berarti perbaikan yang begitu cepat baik sosial, masyarakat, ataupun hukum. Mungkin kalian semua mengenal istilah ini ketika mengikuti Orientasi Pengenalan Akademik Kampus, sumpah mahasiswa yang sering didengungkan itu juga muncul di era reformasi. Namun disini saya mencoba lewat pendekatan yang berbeda membahas fenomena ini. Saya akan mencoba membahas melalui bantuan lirik lagu dari ┬áBanda Naira “Yang patah tumbuh, yang hilang berganti”.

Yang patah jelasnya sebuah rezim, orde baru namanya. Satu orde yang hanya dipimpin oleh seorang pria, sang diktator, Soeharto. Ia adalah mantan pasukan belanda KNIL dan Seorang letkol di awal tahun 1965. Di tahun itu pula ia tiba tiba begitu berprestasi hingga mengalahkan pamor sang proklamator, Soekarno. Kisahnya diawali drama penculikan dan pembunuhan 10 seniornya di angkatan darat, hingga pembantaian 2.000.000 orang atas tuduhan anggota PKI di awal awal masa pemerintahannya.

Di tahun itu pula Indonesia resmi mempraktekkan ekonomi terbuka. Keran investasi asing mulai dibuka pasca krisis yang diwarisi oleh orde lama. Melalui Undang-undang Modal Asing No. 1 Tahun 1967 dimulai lah kontrak karya satu perusahaan penambangan emas di Timika Papua. Yang kelak dinamai Freeport. Langkah selanjutnya ia tekankan konsepsi pembangunan jangka panjang dan pendek yang dikenal dengan Pelita, Pembangunan lima tahun yang mirisnya jarang dilihat di tempat lain selain Jawa.

Langkah lainnya di bidang politik adalah pembatasan ekspresi politik. Jika orde lama ataupun reformasi banyak partai yang bermunculan. Di masa orde baru ekspresi politik dibatasi jadi tiga. Mereka yang agamis atau beragama Islam maka masuk ke dalam partai PPP, mereka yang sosialis atau loyalis Soekarno masuk di partai PDI, yang terakhir dan selalu memenangkan Pemilu yaitu partai dari Soeharto sendiri, Golongan karya, Golkar.

Selain Golkar ada beberapa analisis lagi yang menjelaskan bagaimana orde baru bisa memimpin dan mempertahankan kekuasaannya. Yang paling populer adalah konsep ABC, A mewakili ABRI, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang kini dirubah menjadi TNI. Pada masa Orba, kekuasaan ABRI tak sebatas milter saja namun sampai ke ranah legislatif. Ada 30 persen wakil ABRI di Senayan. Konsep ini juga yang dikenal sebagai dwi fungsi ABRI.

B mewaikili birokrasi, di masa Orba siapapun yang menjadi PNS, secara otomatis berkewajiban ikut dan memilih partai yang memiliki lambang beringin ini. Dan huruf terakhir yaitu C, mewakili cendana. Alamat rumah sang diktator Soeharto. Ia dan kroni-kroninya menumpuk kekayaan yang sempat saya singgung diatas.

Krisis ekonomi global dan kurang harmonisnya hubungan antara militer dengan Istana adalah latar bagaimana kekuasaan orba mulai melemah. Selain itu gerakan mahasiswa dan aktivis mulai naik pamor selain isu kejahatan HAM yang menjadi ciri khas orde ini. Di bulan Mei 1998, Ibu kota lumpuh, orang-orang melakukan aksi demonstrasi besar-besaran di Senayan. Dalam keadaan tersebut juga diikuti oleh penjarahan dan pemerkosaan terhadap etnis tertentu. Jakarta lumpuh. Tepat di bulan itu pula sang jendral menyatakan berhenti dari jabatannya dan mulai bangkitlah era reformasi. Reformasi tumbuh, hilanglah kekuasaan Orba.

Dulu, kala mahasiswa yang ikut demo dan menduduki senayan, segelintir orang seperti Fahri Hamzah, Budiman Sujatmiko, dan Khofifah Indah kini malah menduduki jabatan disana. Kala pemangku kebijakan di eksekutif merupakan alumnus aktif mengkritik Orba, apa benar orba telah benar-benar hilang?. Sosok Soeharto bisa saja telah tiada namun semangatnya mulai menghantui. mazhab pembangunan yang dulu jadi konsep utama orba, kini jadi isu populis yang di pakai oleh rezim sekarang, ketimpangan pembangunan yang dulu terpusat di Jawa kini memusat pada orang-orang tertentu. Berdasarkan survei lembaga keuangan Swiss, Credit Suisse, 1 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 49,3 persen kekayaan nasional.

Kebebasan ekspresi dan naiknya peran sipil yang dulu jadi semangat reformasi, kini menjadi mulai mandek lewat pasal karet yang diketok oleh para alumnus reformasi itu sendiri. Belum lagi popularisme militer yang kian hari kian mentereng, entah dengan isu PKI atau ekstrimis.

Ya, orba hilang dengan sosok Soeharto yang makin menua. Namun semangatnya tetap muncul, patah, tumbuh, hilang, berganti dan berlipat ganda. Perlawanan makin panjang umur sepertinya. [Asrur Rodzi]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

One thought on “Reformasi, yang Patah Tumbuh yang Hilang Berganti

Leave a Reply