Rektor: Tri Dharma Tak Lagi Relevan

Rektor Mudjia Rahardjo menyampaikan cita-cita UIN di masa mendatang, dalam agenda konferensi pers International Conference of Islamic Scholar (ICS) di Gedung Ir. Soekarno
Rektor Mudjia Rahardjo menyampaikan cita-cita UIN di masa mendatang, dalam agenda konferensi pers International Conference of Islamic Scholar (ICS) di Gedung Ir. Soekarno

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Mudjia Rahardjo membuka sesi konferensi pers, pada acara International Conference of Islamic Scholars (ICIS). Dalam kesempatan itu (23/11), dia menyampaikan dirinya bersama jajaran civitas akademika UIN Malang, akan bekerja keras untuk membuktikan bahwa di Indonesia ada universitas yang mampu menjembatani berbagai kepentingan masyarakat. Oleh karenanya, tugas universitas pun menjadi semakin kompleks. “Tugas universitas kalau hanya bertumpu pada tiga hal, yakni dengan tri dharma perguruan tinggi sudah tidak relevan hari ini,” ucapnya. Dia pun beranggapan, tugas perguruan tinggi saat ini bertambah menjadi sebagai institusi penyuara kebenaran dan institusi penegak moral.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata Kebenaran diartikan sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar) ada. Sedangkan moral, didefinisikan sebagai baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. Pada kenyataannya, Penilaian akan kebenaran dan moral pun mengandung banyak perspektif. Seperti pada 22 Oktober lalu, ketika Wali Kota Bogor, Bima Arya mengeluarkan surat edaran yang melarang perayaan Asyura kepada penganut Syiah di wilayah Bogor.

Sebagaimana yang diwartakan oleh bbc.com, surat edaran tersebut dikeluarkan atas dasar pertimbangan kondusifitas keamanan dan ketertiban masyarakat di Bogor. Surat edaran itu juga sebagai respon dari putusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) kota Bogor dan sejumlah ormas Islam, yang menolak segala bentuk kegiatan keagamaan Syiah di wilayah Bogor. MUI dan Ormas islam itu menilai bahwa kebenaran dan moral dari kelompok Syiah adalah salah dan sesat.

Padahal, dari kelompok Syiah sendiri menganggap apa yang mereka lakukan adalah benar, “Semestinya yang menganggu (acara Asyura) yang datang dengan ancaman yang harus dibubarkan, bukan kita yang duduk, berzikir, membacakan sejarah, yang diganggu," ujar Ahmad Hidayat, sekretaris jenderal Ahlul Bait Indonesia dalam liputan bbc berjudul ‘Ajaran Syiah, menurut MUI, tidak dilarang di Indonesia’. Kebenaran versi MUI Kota Bogor itulah yang nyatanya berbeda dengan kebenaran yang diakui kelompok Syiah, karena memahami sebuah kebenaran dan moral, harus dilihat dari berbagai sudut pandang yang kompleks.

Nende Widya, mahasiswa jurusan kimia semester satu yang mengikuti seminar ICIS menganggap, Islam itu moderat, “Islam itu nggak terpaku dalam satu kotakan saja, dan tidak mendoktrin,” ungkapnya. Mudjia pun mengamini hal itu dengan menyatakan islam adalah agama Rahmatan lil ‘Alamin.

Dalam lanjutan konferensi pers, Mudjia menyampaikan UIN menuju era baru, yaitu kampus internasional. “Saya ingin sekali, universitas ini betul-betul jadi tempat belajar dan tempat orang mencari ilmu bagi siapa saja. tidak hanya orang yang ada di dalam sini, tapi seluruh masyarakat di seluruh dunia,” ucap Mudjia. “itu sebabnya, di tengah-tengah acara ini hadir para tokoh, negarawan,  birokrat pemerintahan, juga kyai,” tambahnya. Di acara ICIS ini, memang direncanakan akan dihadiri oleh 350 ulama dari 32 Negara. Tapi sayang, beberapa tokoh yang ditampilkan dalam pamflet ICIS, tidak bisa hadir dalam ICIS yang ke-4 ini, seperti Joko Widodo, Sutiyoso, Megawati Soekarno Putri, atau B.J. Habibie, [Salis Fahrudin]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply