Ribetnya Cita-Cita DJA

Entah sudah berapa bulan belakangan ini akun facebook saya dipenuhi dengan namanya. Para penulis yang tentunya sastrawan banyak sekali yang membicarakan terkait Denny JA. Saya yang awam dunia kesusastraan akhirnya mulai kepo dan mencari duduk masalah yang sesungguhnya. Ternyata para sastrawan itu tengah membuat dan menyebarluaskan petisi penolakan puisi esai yang di gagas oleh Denny JA bersama sebagian temannya yang juga para penulis. Banyak penolakan dari para sastrawan nyatanya tak membuatnya kehabisan akal, banting setir dan berhenti menggagas genre puisi yang katanya baru itu.

Dari berbagai info yang saya baca di media online, bahkan tak tanggung-tanggung untuk mewujudkan keinginannya itu Denny JA dikabarkan rela membayar banyak penulis. Khususnya penyair, untuk ikut dalam proyek kumpulan puisi esai nasional tersebut. Bahkan Denny JA mampu membayar 5 juta untuk setiap penyair yang mau bekerja sama dalam menyumbangkan puisi mereka. Dan ada 170 penyair yang telah menyumbangkan karyanya karena tergiur oleh rupiah. Sungguh kaya sekali Denny JA itu kalau kata saya. Ya memang dia kaya, lah terus? Kenapa tidak digunakan untuk membantu orang miskin dan anak-anak yang tidak bisa merasakan membaca buku yang bagus dan gratis saja? Toh dia sastrawan kan, saya rasa nalurinya akan peka dengan hal-hal yang berbau sosial. Loh kamu siapa ngatur-ngatur hidup Denny JA? Saya Dwik yang baru mulai belajar sastra. Hehe

Proyek ini bukanlah proyek pertama yang digagas oleh Denny JA dan bikin gaduh dunia sastra. Sebelumnya Ia sudah bikin gaduh dengan terbitnya buku “33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh” yang mencantumkan namanya. Dan Dia lah yang mendanai sendiri seluruh penerbitan buku itu.

Dari sebuah artikel di m.liputan6.com memang tak ada larangan untuk berkarya, tapi soal keinginan Denny disebut sebagai tokoh sastra dan klaimnya bahwa puisi esai adalah yang pertama, itu yang merusak, karena puisi esai sudah ada sejak lama. Bahkan dalam sejarah kesusastraan dunia Alexander Pope, penyair inggris abad XVIII telah menuliskan bentuk puisi semacam puisi esai dalam bukunya yang berjudul “An Essay on Man”. Pope menuliskan esai filosofis dengan bentuk puisi, menggunakan kuplet dengan pentameter iambik. Terdiri dari empat epistel (bab) yang membicarakan pelbagai topik tentang kemanusiaan.

Fakta ini meruntuhkan klaim DJA dalam kata pengantar proyek buku puisi esainya yang pertama, “Atas Nama Cinta” yang dikutipkan sebagai berikut:

“Kebutuhan ekspresi kisah ini membuat saya memakai sebuah medium yang tak lazim. Saya menamakannya “Puisi Esai”. Ia bukan esai dalam format biasa, seperti kolom, editorial atau paper ilmiah. Namun, ia bukan juga puisi panjang atau prosa liris. Medium lama terasa kurang memadai untuk menyampaikan yang dimaksud.” (Denny JA, 2012:11)

Kecacatan klaim tersebut rupanya tidak menghentikan Denny JA untuk kembali mendorong paksa konsep puisi esai yang bermasalah tersebut ke dalam lingkungan pembicaraan sastra dan sastrawan Indonesia melalui Program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional yang digagasnya.

Denny JA juga bersikeras menyebut bentuk yang digagasnya sebagai puisi esai, padahal karakteristik yang dipakai adalah karakteristik puisi naratif, dengan plot, tokoh, dan ceritanya. Catatan kaki yang disyaratkan sebagai ciri ke-esai-an puisi esai juga bukan ciri utama atau keharusan esai. Esai kerap tak memiliki catatan kaki. Mendukung program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional DJA sama artinya dengan mendukung kekeliruan definisi dan konsep tersebut, yang pada gilirannya merupakan tindak perusakan sastra sebagai kajian keilmuan.

Penolakan terhadap puisi esai juga dikarenakan rekam jejak penggagasnya yang bermasalah. Program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional ini bukanlah proyek buku pertama yang pernah dibuat DJA. Sebelumnya, DJA mensponsori proyek penulisan sebuah buku berjudul “Membawa Puisi Ke Tengah Gelanggang” yang sarat glorifikasi akan peran DJA sendiri dalam kesusastraan Indonesia. Buku yang penggarapannya ia serahkan kepada Narudin Pituin, seorang finalis Duta Bahasa yang kerap mendaku sebagai kritikus meski kompetensi dan kredibilitasnya dalam lapangan kritik sastra sendiri masih dipertanyakan banyak pihak. Buku tersebut dibagi-bagikan gratis kepada sejumlah sastrawan, yang kemudian berujung pada pengembalian buku yang dimaksud oleh sebagian penerimanya sebagai bentuk protes.

Dapat dikatakan DJA telah berkali-kali melakukan upaya perusakan sistematis terhadap sastra Indonesia dan pelecehan terhadap kerja-kerja kesusastraan. Kegigihan DJA untuk maju dan mencari pengakuan terkait puisi esai menyebabkan para penyair muda Indonesia bersatu dan membuat sebuah petisi yang disebar secara online. Dan sampai saat ini secara nasional petisi tersebut telah ditandatangani lebih dari 1.500 orang.

Hingga sampai detik ini pun kasus ini belum juga mencapai titik terang. Pada tanggal 16 Februari 2018 lalu, bahkan dilakukan debat pro vs kontra untuk membicarakan puisi esai oleh Nurudin Pituin vs Saut Situmorang. Debat itu dilakukan di Jl. Guntur 49, Manggarai, Jakarta Selatan. Seperti apa serunya? bagi orang kayak saya ya ndak seru sama sekali. Saya penikmat sastra, pecinta sastra dan saya merasa bahwa memang sudah ada sejak lama puisi naratif itu. Mbok ya mending uangnya itu di gunakan untuk memberi bantuan orang-orang Syiah yang harus terusir dari tanah kelahirannya, daripada terus mendebatkan klaim puisi esai yang menurutnya baru. Dan akibat hal ini yang tidak juga selesai membuat saya berpikir kembali tentang qoutes yang ditulis oleh Puthut Ea “Banyak masyarakat modern menertawakan dan mengejek kepercyaan suku-suku terasing yang dianggap menyembah gunung, pohon, atau laut, sambil diam-diam mereka menyembah uang, jabatan, dan kekusaan”. Punya uang, punya kuasa, apakah hal itu yang memang didewakan oleh DJA sehingga ia bersikeras untuk mencari pengakuan dengan membayar beberapa orang untuk membantunya agar puisi esai diakui sebagai genre baru yang telah Ia gagas? Lalu dengan hal itu pula yang akan mengukuhkan kedudukannya sebagai 33 sastrawan paling berpengaruh di Indonesia?[]

Dwi Yulia Istiqomah
berkawandengankenangan.wordpress.com

Leave a Reply