Semua untuk Manusia

Ada, tak ada manusia mestinya

Pohon-pohon itu tetap tumbuh

Ada, tak ada manusia mestinya

Terumbu karang itu tetap utuh

-Tanah Sisir, Bebal.

 

Akhir-akhir ini sedang hangat pembahasan film dokumenter yang diproduksi oleh WatchDoc, Sexy Killer. Film yang disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono dan Suparta Arz ini membahas tentang pertambangan batubara di Kalimantan mulai dari penggalian dan pengoperasian yang hasilnya digunakan sebagai bahan baku untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Indonesia. Film ini juga membahas sisi lain dari pertambangan batubara tersebut.

Pertambangan yang berlokasi dekat dengan tempat tinggal masyarakat menjadi keluhan masyarakat karena memberi dampak negatif. Dalam video tersebut disebutkan sampai saat ini ada 3500 lubang bekas tambang, dari tahun 2014 sampai 2018 tercatat 115 korban melayang. Selain itu, menyebabkan penyakit saluran pernapasan akibat polusi udara, dan juga berkurangnya kualitas tanah sehingga lahan pertanian berkurang. Serta,adanya perusakan karang laut akibat dari pendistribusian batu bara.

Di sisi lain, ada sebuah desa bernama Lakardowo, salah satu desa yang terletak di Kabupaten Mojokerto ini harus hidup dengan air dan tanah yang sudah terkontaminasi limbah berbahaya dan beracun atau biasa disebut limbah B3. Pencemaran tersebut terjadi akibat aktivitas pengolahan limbah yang dilakukan oleh PT. Putra Restu Ibu Abadi (PT PRIA). Akibatnya hampir separuh warga lakardowo yang berjumlah kurang lebih 6000 jiwa mengalami penyakit kulit. Warga menggunakan air mineral untuk kebutuhan konsumsi seperti memasak dan minum agar dapat mengurangi dampak dari limbah B3.

Dari dua contoh kasus di atas, aktivitas industri dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Yakni untuk pemenuhan kebutuhan akan listrik dan untuk pemulihan kualitas lingkungan. Namun, justru pemenuhan kebutuhan tersebut juga merugikan lingkungan. Banyak akibat lain yang sudah ditimbulkan, diantaranya luas hutan semakin hari semakin sempit untuk perluasan industri pertambangan. Kemudian juga udara di kota-kota besar tercemar akibat kendaraan bermotor yang terus meningkat jumlahnya, asap pabrik, juga permukaan tanah yang terus ditutup dengan aspal, dan seterusnya.

Dalam sistem kapitalisme, usaha yang dilakukan pemilik modal ditujukan untuk memperoleh keuntungan dalam ekonomi pasar. Alat-alat produksi yang ada dikendalikan oleh pemilik swasta, pemerintah tidak dapat melakukan campur tangan untuk bisa membagi keuntungan. Dalam melakukan proses produksi, salah satu sumber yang dijadikan sebagai bahan berasal dari alam. walaupun semisal bukan bersumber dari alam, tetapi alam juga merasakan akibat dari proses produksi yang dilakukan.

Tujuan dilakukannya produksi tersebut yakni untuk manusia bisa bertahan hidup. Dan semakin lama, ketika jumlah manusia semakin banyak, jumlah produksi otomatis juga semakin bertambah, kemudian ketergantungan kebutuhan tehadap alam juga semakin besar. Sebab itu, keseimbangan harus tetap dijaga agar kebutuhan manusia bisa terus dipenuhi. Sekaligus juga agar alam dapat terus bereproduksi tanpa merusak kelestariannya.

Dilansir dari kompas.com, Kepala Departemen Kampanye dan Perluasan Jaringan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Khalisa Khalid menjelaskan, negara harus segera beralih dari industri ekstraktif ke industri berbasis pemulihan dan ramah lingkungan.
DariĀ  data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebagian besar bencana yang terjadi di Indonesia akibat krisis ekologis. Harusnya situasi ini menyadarkan seluruh elemen penyelenggara negara untuk mengambil tindakan. “Terkait dengan kerugian negara, akibat kerusakan lingkungan itu tidak dihitung. Selama ini itu (anggaran penanganan kerusakan lingkungan) tidak masuk dalam logika anggaran negara,” ujarnya. Di sisi lain, klaim pendapatan terbesar negara dari sektor energi dan sumber daya mineral dan menjadikannya sebagai sandaran utama ekonomi, justru akan membuat Indonesia semakin terjerumus dalam krisis lingkungan.

Kesadaran akan penyebab sistem kapitalisme yang sedang berjalan bisa dijadikan solusi untuk merubah keadaan saat ini, yaitu menuju keseimbangan dan kelestarian alam. Selain itu juga kesadaran akan dampak yang sudah maupun yang akan terjadi jika sistem ini terus dibiarkan juga harus diperhatikan. Kebutuhan manusia saat ini bukan alasan untuk merusak alam. Kebutuhan jangka panjang juga harus diperhatikan, terutama untuk anak cucu di masa depan.[]

Leave a Reply