Setengah Merdeka

   Selama menjadi anggota magang di Pers Mahasiswa, saya belum pernah menanyakan dengan serius kepada pengurus, kenapa Salam Setengah Merdeka, dan apa makusdnya? mungkin karena saya sudah pernah membaca artikel di internet tentang banyaknya perusahaan negara asing yang mengelola Sumber Daya Alam (SDA) di Indonesia. Saya termotivasi untuk mencari artikel itu karena Band Punk favorit saya, Superman Is Dead juga menyuarakan anti investor asing dan tolak reklamasi Teluk Benoa. Jadi, Salam Setengah Merdeka menjadi seperti pembenaran bagi isi pikiran saya. Ya, negara ini belum benar-benar merdeka dari cengkeraman negara asing, dari pikiran yang mengagungkan bahasa asing, bahkan dari penindasan itu sendiri yang masih ada sampai sekarang.

  Soal merdeka ini memang suatu soal yang sedikit membingungkan. Orang-orang memaknai merdeka sebagai kebebasan dari penjajahan negara lain. Sementara penjajahan itu seperti penindasan, pemaksaan kerja, dan pembunuhan. Dari awal masuknya penjajah sampai merdeka. Namun benarkah hanya seperti itu? sepertinya ada yang kita lewatkan. Jika dilihat dari awal masuknya Belanda di Indonesia pada 1589, tentu mereka datang untuk tujuan bisnis dan bukan datang kemudian langsung menembakkan amunisi ke masyarakat. Nah, bisnis inilah yang kemudian menjadi penyebab untuk melegalkan penjajahan. Belanda melihat potensi SDA, lalu mengelolanya, lalu menngambil keuntungannya.

Pramoedya Ananta Toer sepertinya juga melihat pola ini. Dalam buku Jalan Raya Pos, Jalan Deandels, Pram menulis, VOC atau Kompeni awalnya adalah kepala kantor dagang. Si Kompeni ini lama kelamaan menjadi semakin kuat. Di abad 19 ia mendesak kedudukan rempah-rempah Maluku, Banten, dan Aceh. Rempah-rempah seperti beras dan garam menjadi komoditi untuk pasar internasional. Dan kopi, menjadi sumber keuangan utama Kompeni. Kompeni memanfaatkan Residen dan Asisten Residen yang dianggap Pram sebagai istilah yang aneh, karena arti sebenarnya adalah penduduk  untuk menekan Bupati supaya bisa menaikkan setoran. Dan ketika Kompeni ingin setorannya lebih dari yang sebelumnya, konsekuensinya: jumlah pekerja paksa juga harus naik, lebih banyak lagi.

  Pola yang lebih buruk lahir setelah komando diambil alih oleh Deandels. Ia mencabut hak residen dan asisten residen untuk mengurusi kontingent, dan kontingent harus disetorkan ke gudang-gudang kompeni. Bupati pun tidak luput, kekuasaannya dikurangi. Residen, Asisten Residen, dan Bupati akhirnya digaji oleh kompeni. Sehingga mereka tak bisa mendapatkan gaji dari hasil pekerjaan rakyat seperti sebelumnya. Mereka yang tadinya adalah penguasa daerah lalu berevolusi menjadi pegawai Kompeni.

  Deandels melanjutkan komandonya dengan menerapkan Cultuurstelsel alias tanam paksa. Akibatnya, pekerja paksa yang terus-terusan bekerja sudah tak kuat lagi, mereka ambruk ditempat. Tak ada yang menguburkan. Karena masyarakat yang menguburkan juga sudah tak kuat, karena kelaparan. Kemuliaan manusia sebagai makhluk Tuhan telah hilang dalam angka ribuan.

  Pola yang buruk itu mendapatkan perlawanan dari mereka yang tidak ingin ditindas, dan yang menganggap penindasan adalah suatu hal yang salah. Sejarah perlawanan yang berkobar-kobar itu mengantarkan kita kepada proklamasi kemerdekaan 1945.

  Kita mungkin lebih mudah menerima kebenaran bahwa Indonesia merdeka dari penjajahan, dengan semua kegagahan pahlawannya. Atau mungkin di sisi lain kita hanya tidak mampu untuk jujur bahwa merdeka itu hanyalah soal tidak dijajah. Sementara merdeka itu sendiri sebenarnya adalah salah satu bentuk dari keadilan. Dari realitas yang tidak adil, yang menindas. Kita tidak mampu untuk jujur dengan ketidakmampuan untuk mengelola sumber daya alam, rempah-rempah, atau makanan kita sendiri. Walaupun tidak semuanya dari kita yang tidak mampu jujur. Seperti Pram, dalam sampul belakang buku yang saya baca itu, ada kutipan yang tampaknya benar dari Pram sendiri. Kutipannya, “Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain”.

  Dan bukankah merupakan hal yang aneh jika kita merayakan kemerdekaan setiap tahun dengan karnaval yang megah, lomba-lomba menyiksa seperti makan kerupuk yang digantung dengan tali itu dan perayaan lainnya tanpa membicarakan kejujuran itu?

  Bahkan saking besarnya anggapan suci kita terhadap kemerdekaan, dengan khusyuknya kita menerima kemerdekaan sebagai pemberian Tuhan. Seperti dalam pidato upacara 17 Agustus di kecamatan tempat saya Pengabdian Masyarakat. Pada suatu pagi Bapak yang berpidato yang tidak saya ketahui siapa namanya mengucapkan syukur kepada Tuhan yang maha pemberi petunjuk, yang telah memberikan kemerdekaan kepada semua masyarakat.

   Memang dalam agama, kita diwajibkan untuk bersyukur atas segala berkah yang diberikan Tuhan. Tapi apakah itu artinya kita tidak diharuskan untuk membaca, melihat, dan memahami sejarah?

   Hal itu tentu tidak bisa di terima oleh seorang penulis angkatan 45. Idrus namanya. Dalam Cerita Pendeknya yang berjudul Jawa Baru Idrus mengisahkan betapa susahnya orang-orang hidup di Jawa saat dijajah Nippon (Jepang). Di jalan raya, di depan rumah makan, di mana-mana terlihat orang setengah telanjang dan setengah mati, bergelimpangan, setiap hari, mencari makan. Anak muda mencari makanan di kali, tapi yang dicarinya adalah bangkai ayam, bahkan bangkai manusia juga. Anak gadis melacurkan dirinya demi membeli beras bagi sanak saudara. Kemudian dia pun mati, karena sudah layu.

  Surat kabar hanya memberitakan perang, namun kesusahan dan kematian orang-orang diabaikan oleh para jurnalis. Dalam rapat besar Jawa Hokokai pun, sia-sia saja membicarakan keadaan rakyat apalagi pengubahan Pengurus Jawa Hokokai. Bahkan radio di waktu itu mengumumkan betapa susahnya kehidupan rakyat, mereka tidak mengeluh, mereka sabar, dan bakti itu keluar dari hati yang suci.

  Idrus menulis, Jawa terkenal dengan beras, mengapa kita kekurangan? Belum pernah terjadi seperti ini…Semua orang menengadahkan tangan ke langit, meminta rezeki dari Tuhan Yang Maha Kuasa, seperti Tuhan lupa memberi mereka rezeki. Setiap tahun padi menguning juga, beras digiling juga.., Tuhankah yang salah?

  Mungkin sudah saatnya kita berpikir kembali tentang kemerdekaan kita. Memulainya dengan Salam Setengah Merdeka barangkali merupakan sebuah awal yang tepat untuk mengganjal pikiran kita yang selama ini menganggap merdeka hanyalah soal tidak dijajah. Atau kita menunggu waktu lain yang lebih tepat, seperti menunggu waktu yang tepat untuk melawan penjajah. Di sela penantian itu kita rayakan saja kemerdekaan dengan pesta-pesta.

  Tapi, di pagi ketika saya mengikuti upacara 17 Agustus itu sepertinya sudah menunjukan tandanya. Dari awal upacara dimulai terdengar suara diesel milik warga di pinggir lapangan. Peserta upacara adalah orang-orang berseragam rapi dari muda sampai tua. Di sekitar lapangan terlihat orang berjualan di depan rumahnya, ada warga berjalan-jalan, ada juga pedagang yang mau pergi ke pasar. Di pertigaan jalan, orang-orang berkumpul menyaksikan upacara, begitu juga di sisi yang lain. Upacara jadi tontonan di pagi hari.

  Seorang ibu dengan santai berjalan melewati lapangan tempat upacara sambil membawa botol plastik air mineral. Seorang polisi dan seorang tentara pun mengejarnya, kemudian membantunya menyeberang. Saya melihat kemerdekaan pada Ibu itu. [Wahyu Agung Prasetyo]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply