Shobahul Lughoh, Tak Menjamin Mahasantri Mahir Berbahasa

Mahad Sunan Ampel Al-Aly (MSAA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan kegiatan Gebyar Bahasa selama sepekan, sejak hari Sabtu (2/4) hingga Jumat lalu (8/4). Serangkaian perlombaan digelar dalam kegiatan Gebyar Bahasa, seperti demo bahasa, debat bahasa, menyanyi dalam dua bahasa, serta duta bahasa yang disemarakkan oleh seluruh mahasantri.  “Semua mahasantri dihimbau untuk ikut berpartisipasi dalam agenda gebyar bahasa ini,” ujar Siti Alfi,  salah satu murobbiyah MSAA.

Menurut Siti Durotun Naseha, musyrifah sekaligus panitia dalam Gebyar Bahasa, sebenarnya acara tersebut merupakan puncak dari kegiatan Shobahul Lughoh, kegiatan berbasis kebahasaan yang dilakukan tiap pagi hari. Ia menambahkan bahwa kegiatan tersebut berfungsi untuk melatih kemampuan mahasantri dalam berbahasa, terutama bahasa Arab dan Inggris. Sehingga, dalam perlombaannya pun menggunakan dua bahasa tersebut. “Secara tidak langsung, mahasantri dilatih untuk berekspresi dengan berbahasa,” tambah musyrifah yang akrab disapa Eka tersebut.

Hal ini dibenarkan oleh Siti Alfi, yang menyatakan bahwa Shobahul Lughoh menjadi kegiatan yang dapat mengembangkan potensi kebahasaan mahasantri. Selain itu, juga dapat menunjang World Class University sebagai cita-cita kampus. Shobahul Lughoh bertujuan membentuk lingkungan berbahasa yang efektif,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa program tersebut berjalan efektif tiap harinya karena diikuti oleh seluruh mahasantri secara serentak di semua mabna, meskipun dilaksanakan pagi hari setelah sholat shubuh berjamaah.

Lain halnya dengan Fulanah Kholilah yang lebih melihat pada hasil dari kemampuan  mahasantrinya. Sebagai salah seorang musyrifah, ia menilai kegiatan Shobahul Lughoh berjalan kurang efektif. Pasalnya, pihak mahasantri pun terlihat kurang antusias dalam  mengikuti kegiatan tersebut. Terlebih, Fulanah juga menganggap bahwa meskipun Shobahul Lughoh dilaksanakan setiap hari, namun praktik kebahasaan masih tergolong kurang. “Kedisiplinan dari pihak mahasantri dalam praktik berbahasa kurang, akibatnya kegiatan program kebahasaan pun jadi kurang efektif,” ungkapnya.

Sebagian mahasantri pun mengeluh terkait hal ini. Laila Qomariyah salah satunya. Menurutnya, terkadang ia mudah bosan dan lelah ketika mengikuti Shobahul Lughoh, apalagi ketika banyak tugas kulaih yang juga harus dikerjakan. “Kadang saya juga ngrasa capek, apalagi pas banyak tugas kuliah,” ujar salah seorang mahasantri jurusan Bahasa dan Sastra Arab ini. Ia juga menambahkan bahwa kegiatan tersebut sebenarnya akan berjalan baik apabila materi yang dipelajari bisa dipraktikkan. “Kalau tidak ada praktik berbahasanya, ya nggak bakal dapat apa-apa,” tambahnya.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Ririn Maghfiroh. Mahasantri mabna Asma binti Abi Bakar itu berpendapat bahwa dengan tidak adanya praktik dari mahasantri untuk berbahasa, kemampuan mereka pun belum bisa diukur. Ia mencontohkan ketika ada hari wajib berbahasa, kebanyakan mahasantri lebih memilih untuk diam daripada berbicara. Hal ini lantaran mereka takut dihukum apabila tidak berbicara dalam bahasa Arab ataupun Inggris, padahal mereka belum terlalu fasih berkomunikasi menggunakan dua bahasa asing itu. “Banyak yang milih diam untuk cari aman
,“ ungkapnya.

Namun, nyatanya Alfi pun sebagai murobbiyah mengakui bahwa perlombaan dalam Shobahul Lughoh sebenarnya tidak bisa menjadi tolak ukur kemampuan mahasantri dalam berbahasa. Karena tidak semua dari mereka mahir berbahasa Arab ataupun Inggris. “Berjalan tidaknya kegiatan kebahasaan tidak menjamin keefektifan mahasantri berbahasa karena mereka mempunyai kemampuan yang berbeda,” pungkas Alfi. [Reny Zulinda]


Editor : Ahmad Ilham Ramadhani, Luluk Khusnia


UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply