Strategi Membangun Kampus

“Sebelum mengakhiri acara ini, kita dengarkan terlebih dahulu sambutan dari rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Kepadanya disilakan,” ucap Master of Ceremony (MC), acara pelantikan pengurus Organisasi Mahasiswa Intra Kampus (OMIK) UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang (15/3). Bapak Rektor Mudjia Rahardjo berdiri, dan berjalan menuju podium dengan diiringi oleh tepuk tangan mahasiswanya.

Bapak rektor mengucapkan puji syukur, lalu memuji orasi dan pidato perdana dari Presiden Mahasiswa UIN Maliki Malang yang baru saja dilantik. “Saya menggarisbawahi kalimatnya yang mengatakan UIN sudah bukan lagi universitas muda yang tanpa kualitas,” pujinya. Mudjia pun menambahi, UIN Malang telah memiliki kompetensi yang cukup mumpuni untuk bisa dikatakan kampus yang berstandard internasional. Bapak rektor itu lalu menceritakan tamu-tamu yang beberapa bulan lalu telah singgah di kampus “hijau” ini.

Ada Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono yang bertandang ke kampus Pasca Sarjana UIN Maliki Malang, untuk meresmikan gedung yang dinamai mirip dengan namanya, Gedung Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah itu, hadir pula ulama-ulama yang katanya dari 36 negara, dalam International Conference Islamic Student.

“Saudara-saudara, ini bukan pekerjaan gampang. Kita bekerja keras,” ungkapnya. Alasan didatangkannya orang-orang “besar” itu adalah sebagai suatu strategi untuk membangun kampus. Secara terperinci, Bapak rektor menyatakan ada dua cara. Pertama adalah recognition, yakni kampus harus dikenal oleh kalangan luas. Hal tersebut sudah dibuktikan dengan lawatannya saat ke Mesir dan India. Di sana, banyak orang sudah mengenal UIN Malang. Lalu yang kedua, yaitu reputation. Kampus harus memiliki reputasi untuk menghasilkan mahasiswa yang berkompetensi tinggi, dan mampu bersaing dengan mahasiswa dari kampus atau negara yang lain.

Tak ketinggalan, Bapak rektor mengajak seluruh komponen lapisan kampus, termasuk anggota OMIK yang baru saja dilantik untuk membangun kampus secara bersama-sama. Karena menurutnya, seluruh komponen tersebut sangat penting bagi perkembangan UIN Maliki Malang. Dalam benak sanubari saya bertanya, apakah mungkin seluruh komponen kampus tersebut harus membangun UIN Maliki Malang, dengan dua strategi yang telah bapak rektor sebutkan? Apakah cukup hanya dengan dua cara tersebut?

Saya tidak ingin mengatakan bahwa cara tersebut jauh dari ideal. Namun, menurut sudut pandang saya, terlalu naïf apabila menganggap dua cara tersebut sebagai cara terbaik untuk membangun sebuah kampus. Di organisasi tempat saya dibesarkan, saya mendapat pelajaran hidup yang cukup berharga. Bahwa sebenarnya untuk membangun sebuah bangunan yang kuat, dia harus kuat menahan cobaan, terpaan angin, atau sentuhan lembut namun menendang.

Soe Hok Gie, penulis buku Catatan Seorang Demonstran menyatakan, “Dosen yang tak tahan dengan kritik, dia hanya pantas di tempat sampah.” Kalimat yang ngeri, sekaligus pedih. Saya memiliki perspektif hidup yang menyatakan, seseorang yang tumbuh dengan kritik, jelas akan memiliki pondasi hidup yang kuat. Dia terbiasa untuk selalu melakukan introspeksi diri, memperbaiki kekurangan, atau merenungi kepahitan. “Kenapa hidup cukup rumit dan tak bisa memandang hanya dengan satu sudut pandang saja?” Saya kira, saya juga ingin membangun UIN Malang menjadi kampus internasional, namun dengan pondasi hidup yang kuat terlebih dahulu.

“Dulu mungkin mahasiswa masih cocok untuk menjadi agen oposisi, melawan birokrasi. Tapi sekarang, sudah tidak eranya,” ungkap Bapak rektor. Ia pun menambahi, kampus ini tidak akan bisa berkembang kalau atmosfernya tidak kondusif. Saya pun membatin, apalah daya daku ini, Pak, yang sudah terlanjur punya harapan untuk membangun UIN dengan pondasi hidup yang kuat? Bagaimana pula mau menjaga kekondusifan, apabila di ma’had yang agung itu, ketika ada kemalingan hanya dibiarkan begitu saja. Wajah orang yang mencuri sudah tertangkap CCTV, namun harapan penangkapan pencuri masih fiktif belaka. Bagaimana mau menjaga kekondusifan, apabila pada Program Perkuliahan Bahasa Arab (PPBA) yang istiqomah itu, masih ada mahasiswa yang sebetulnya benar-benar tidak membutuhkan program tersebut. Namun tetap dipaksa untuk makan program itu. Mau kondusif yang seperti apa, Pak? Entahlah.

Mungkin, saya harus lebih banyak mambaca buku lagi. Agar strategi membangun kampus yang telah saya punyai itu bisa sedikit bertambah atau mungkin diperbaiki. [Salis Fahrudin]


Editor : Luluk Khusnia


UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply