Sutan Sjahrir; Merengkuh Sosialisme dengan Politik Diplomasi

Padang Panjang, 110 tahun lalu tepatnya 5 Maret 1909 adalah hari dimana sosok mantan Perdana Menteri Indonesia pertama (1945-1947) ini dilahirkan. Ia menjadi perdana menteri pada usia 38 tahun, perdana menteri termuda di dunia ini. Sjahrir adalah a man of paradox. Tubuhnya kecil dengan tinggi 145 sentimeter, dan berat badan hanya 45,5 kilogram. Namun di sana tersimpan energi dahsyat. Inteligensinya mengagumkan. Maka tak mengherankan jika Sarojini Naidu (1879-1949) menyebutkan sebagai perdana menteri atom.

Sjahrir lahir dalam keluarga yang terbilang tidak biasa. Ayahnya, Moehamad Rasad, seorang Jaksa Pengadilan Tinggi Negeri (Landraad). Ibunya, Siti Rabiah berasal dari Natal, masih keturunan bangsawan Tapanuli bagian selatan. Ayah Sjahrir memiliki istri lebih dari satu. Istri pertamanya, Kiam, berasal dari Kota Gadang. Dari istri pertamanya lahir Rohana Kudus, wartawan perempuan pertama asal Sumatera Barat yang tersohor akan suara emansipasi wanitanya.

Sjahrir beruntung mengenyam pendidikan di tengah perkembangan politik etis. Sebagai anak seorang jaksa, di usia enam tahun Sjahrir memperoleh akses pendidikan barat dari Europesche Legere School (ELS) atau sekolah rendah eropa hingga Algemeene Middelbare School (AMS). Sikap dan tabiat Sjahrir muda jelas terlihat berbeda dan nyentrik; pada satu sisi, senang menggesek biola dan bermain drama tonil, di sisi lain aktif dalam pergerakan pemuda yang kelak dinamakan Indonesia Muda.

Pada tahun 1929 Sjahrir melanjutkan kuliahnya di Fakultas Humum Universiteit van Amsterdam. Namun semenjak kedatangannya di Negeri Kincir Angin pada 1929, Sjahrir lebih banyak menghabiskan waktu di luar tembok kampus. Dunia luar, pertemuannya dengan orang lain dari berbagai bangsa, lebih menarik perhatiannya ketimbang kegiatan belajar dan diskusi di dalam ruang kuliah.

Pada bulan-bulan pertama di Belanda, Sjahrir menulis surat kepada Salomom Tas, Ketua Amsterdam Sociaal Democratische Studenten Club. Perkumpulan mahasiswa sosial demokrat Amsterdam itu berafiliasi kepada Partai Sosialis Demokrat Belanda (SDAP). Kedua pemuda itu cepat bersahabat. Sjahrir pun bergabung dengan perkumpulan yang dipimpin oleh pemuda keturunan Yahudi itu.

Bersama SDAP, Sjahrir kerap berdiskusi soal politik dan mengupas pemikiran para filsuf sosialis. Ia melahap tulisan Rosa Luxemberg, Karl Kautsky, Otto Bauer, Hendrik de Man, dan tentu saja Marx dan Engels.

Kepulangan Syahrir dan PNI-Baru

Alkisah, seorang pemuda pada tahun 1931 baru saja kembali dari negeri Belanda. Dua tahun sebelumnya, pemerintah kolonial Belanda menangkap Soekarno dan tokoh-tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI). Mereka ditangkap lantaran melakukan kegiatan politik yang dinilai mengancam keamanan negeri jajahan. Alhasil, Sukarno dipenjara dan mendekam di Sukamiskin, Bandung. Penangkapan ini bakal menyurutkan semangat kaum pergerakan. Konsekuensinya, perjuangan di tanah Nederlands-Indie mengalami kemandekan.

Sjahrir kembali ke Indonesia karena terpanggil untuk mengisi politik pergerakan kemerdekaan yang mengalami kemandekan. Wajar, bubarnya Partai Nasional Indonesia pada 1929 membuat situasi menjadi serba tegang. Pengawasan Politieke Inlichtigen Dienst (PID) yang sedemikian ketat memacetkan darah pergerakan saat itu.

Awalnya, Sjahrir menginginkan Mohammad Hatta untuk ikut pulang dengannya. Sayang, Hatta masih dalam proses penyelesaian studi doktorandus-nya. Akhirnya, Sjahrir terlebih dulu pulang ke tanah air dan tiba di Bandung pada 1931, sedangkan Hatta menyusul pada 1932.

Singkat cerita, Sjahrir, melalui  kongres di Bandung pada Juni 1932, mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia, atau lebih dikenal PNI-Baru. Dan Sjahrir terpilih sebagai Ketua dan Sukemi sebagai wakilnya. Beberapa bulan kemudian Hatta kembali ke Indonesia dan segera mengambil alih kepemimpinan, dengan Sjahrir sebagai wakilnya. PNI-Baru ini didirikan atas prakarsa Hatta-Sjahrir dan sokongan “Golongan Merdeka”, sekelompok mahasiswa pemuda yang membentuk klub studi di Bandung dan Jakarta.

Kendati pergerakannya terbilang tidak begitu berkembang semasif PNI konsepsi Soekarno, toh PNI-Baru semakin dicurigai dan dinilai lebih berbahaya. Februari 1934, Sjahrir mulai mengendurkan kegiatannya di PNI-Baru dan berkeinginan untuk kembali ke Leiden melanjutkan studinya yang terbengkalai. Namun, Sjahrir ditangkap bersama Hatta tanpa diadili dan dibuang ke Boven Digul. Hanya selang satu tahun di Digul, Hatta-Sjahrir diterbangkan ke Banda Neira dan kemudian ditahan selama enam tahun.

Peran dari Bawah Tanah

Sjahrir dan Mohammad Hatta pulang dari pengasingan di Banda Neira, Maluku, awal Februrari 1942. Sedangkan Soekarno baru kembali dari pembuangan di Sumatera pada Juli 1942. Setelah itu, mereka bertiga melakukan rapat di rumah Hatta. Hasil rapat itu menyepakati Soekarno bersama Hatta akan bekerja sama dengan Jepang, dan Sjahrir tetap menyusun perlawanan di bawah tanah.

Sebagai motor gerakan bawah tanah, Sjahrir rajin menggelar diskusi. Sjahrir sering berdiskusi di daerah Manggarai, Jakarta. Dalam buku Sjahrir: Peran Besar Bung Kecil, peserta tetap diskusi tersebut adalah Sutan Takdir Alisjahbana, Amir hamzah, Mr. Soejitno, Ali Budiarjo, doktor Soedarsono, Zainal Abidin, Hamdani, dan dokter Toha.

Masih dalam Sjahrir: Peran Besar Bung Kecil, untuk mengetahui perkembangan perang Jepang melawan sekutu, Sjahrir mengandalkan siaran radio, termasuk dari BBC. Ia punya radio yang disembunyikan di dalam lemari. Agar tak kentara, radio itu sudah dibuka rangkanya dan disembunyikan di kain batik.

Ketika Sjahrir mendengar dari radionya Jepang hampir kalah, dia ingin kemerdekaan Indonesia segera diproklamasikan. Tapi Sukarno memilih menunggu lampu hijau dari Jepang. Sjahrir pun jengkel. Maka, pada Juli 1944, ketika mendengar Tan Malaka ada di Bayah, Banten, menyamar sebagai Ibrahim, dia segera mencari Tan. Sjahrir meminta Tan Malaka memproklamiskan kemerdekaan Indonesia, tapi tokoh komunis itu juga menolak.

Pada 14 Agustus 1945, Sjahrir mendengar kabar dari BBC, Jepang akhirnya menyerah kepada Sekutu. Buru-buru dia menemui Bung Karno dan memintanya memproklamirkan kemerdekaan Indonesia saat itu juga. Lagi-lagi Sukarno menolak. Ini membuat Sjahrir kecewa. Dia lalu meminta dokter Soedarsono memproklamasikan kemerdekaan di alun-alun kejaksaan. Maka, di Cirebon, Indonesia merdeka lebih dulu dua hari dari Jakarta.

Arah Politik Sjahrir

Sejak diserahi tampuk pemerintah sebagai Perdana Menteri pada 14 November 1945, ia mengambil garis diplomasi. Menurutnya, yang harus dilakukan Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan adalah menggelar perjanjian dengan Belanda agar mengakui berdirinya Indonesia. Dalam proses ini, ia berusaha menutup semua dalih Negeri Kincir Angin itu untuk memojokkan Indonesia sebagai negeri yang tak aman sehingga perlu campur tangan asing.

Setelah itu, Sjahrir mulai mengenalkan Indonesia di forum-forum internasional, seperti Konferensi Asia di New Delhi pada 1946. Tak hanya itu, Sjahjrir juga mencuri perhatian dengan memberikan bantuan kemanusiaan berupa sumbangan beras bagi India.

Beras ditukar dengan tekstil India. Inilah “diplomasi beras” Sjahrir yang dimulai pada April 1946, ketika ia membuat penawaran sensasional di masa itu; mengirimkan setengah juta ton beras asal Jawa ke India, yang terancam kelaparan akibat gagal panen. Dia meminta beras itu ditukar dengan tekstil dan obat-obatan untuk Indonesia.

Nehru, selaku Perdana Menteri India yang terpukau oleh uluran tangan Sjahrir, lantas mengadakan Asia Relations Conference di New Delhi dan mengundang Sjahrir. Sukses diplomasi beras ini tak lepas dari strategi Sjahir merengkuh “kawan” segera setelah perang berakhir.

Hanya dua minggu setelah resmi menjadi Perdana Menteri (sekaligus Menteri Dalam dan Menteri Luar Negeri) pada akhir November 1945, Sjahrir menandatangani perjanjian dengan pasukan sekutu. Isi perjanjian itu adalah memulangkan 35 ribu serdadu Jepang dan sekitar 28 ribu tawanan perang.

Politik Diplomasi Sjahrir

Sepanjang 11-14 November 1946, Sutan Sjahiri, perdana menteri berusia 37 tahun, memimpin pertarungan diplomasi tingkat tinggi. Anggotanya Mohammad Roem, Soesanto Tirtoprodjo. Salah satu diplomasi tersebut ialah perjanjian Linggarjati. Perjanjian ini sering dianggap merugikan Indonesia, namun disatu sisi meneguhkan eksistensi di kancah Internasional.

Di sekolah-sekolah selama ini cenderung diajarkan bahwa Linggarjati adalah perjanjian yang menguntungkan Belanda. Hasilnya dianggap terlalu kompromistis. Linggarjati memutuskan, wilayah Indonesia secara de facto hanya Jawa dan Sumatera. Kemudian Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat yang tergabung dalam Uni Indonesia Belanda.

“Linggarjati terutama dikritik oleh pengikut Tan Malaka, pengikut Bung Tomo, atau tentara, yang menuntut kemerdekaan 100 persen,” kata wartawan senior Saban Siagian, dikutip dari Sjahrir: Peran Besar Bung Kecil.

Pada 14 November 1945, sistem presidensial diubah menjadi sistem parlementer. Sjahrir diangkat sebagai Perdana Menteri pertama. Inggris mengajak berunding. Pada 23 November, kabinet Sjahrir menjawab dengan maklumat. Bahwa Indonesia tak sudi berunding selama Belanda berpendirian masih berdaulat di Indonesia.

Sedikit demi sedikit Sjahrir terus menekan pemerintah Belanda melalui diplomasi. Ia terus menerus mengupayakan agar Indonesia dan Belanda duduk di meja perundingan. Kesempatan pertama datang dalam perundingan di Hoge Veluwe, Belanda, 14-16 April 1946. Ketika itu Indonesia mengajukan tiga usul. Petama, pengakuan atas Republik Indonesia sebagai pengemban kekuasaan di seluruh bekas Hindia Belanda. Kedua, pengakuan de facto atas Jawa dan Madura. Serta ketiga, kerja sama atas dasar persamaan derajat antara Indonesia dan Belanda. Usul itu ditolak Belanda.

Peluang berunding dengan Belanda terbuka lagi ketika Inggris mengangkat Lord Killearn sebagai utusan Inggris di Asia Tenggara, sekaligus penengah konflik Indonesia-Belanda. Kabinet baru Belanda kemudian mengutus Schermerhorn sebagai Komisi Jenderal untuk berunding dengan Indonesia.

Sebagaimana diduga, perundingan berlangsung alot. Dari 17 pasal yang dibahas, deadlock terjadi pada pasal mengenai pembentukan Negara Indonesia Serikat. Sjahrir kemudian memasukkan pasal tambahan tentang arbitrase. Bila ada perselisihan menyangkut perjanjian tersebut, akan diajukan ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pasal ini terbukti menjadi penyelamat ketika terjadi agresi Belanda ke wilayah Republik Indonesia.

Namun tak semua setuju terhadap Sjahrir yang berunding dengan bekas penjajah. Partai Maysumi dan Partai Nasional Indonesia menolak. Kelompok penentang paling keras adalah Persatuan Perjuangan yang dimotori Tan Malaka. Sjahrir dianggap terlalu banyak memberikan konsesi kepada Belanda. Ia dan pengikutnya diejek sebagai “anjing-anjing Belanda”. Seperti halnya Tan Malaka pernah berujar dalam nada keras, “Berunding dengan maling di dalam rumah sendiri.”

Tan Malaka mengemukakan pandangannya bahwa perlawanan all-out terhadap Belanda merupakan kebijakan yang harus diikuti. Indonesia tak memiliki persenjataan, tapi memiliki rakyat dan pemuda yang siap bertempur. Perundingan dengan Belanda hanya boleh terjadi apabila Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia.

“Sesudah lebih daripada dua puluh tahun belakangan ini, saya tiada ingin akan menjadi teman separtai kaum sosialis, yang kebanyakan masih mau berkompromi dengan kapitalis-imperialis itu,” ujar Tan Malaka. Kepada pengikut setianya, Maroeto Nitimiharjom, Tan Malaka bahkan lebih terus terang, “Aku tidak bisa melakukan ini, aku Komunis,” dikutip dari Sjahrir: Peran Besar Bung Kecil.

Menghadapi perlawanan para oposan, Sjahrir tak ambil diam. Menurutnya, berjuang di meja perundingan punya keuntungan politis memperoleh pengakuan kekuasaan de facto.

Kritik Sjahrir terhadap komunisme

Dalam bukunya yang berjudul Sosialisme Indonesia Pembangunan. Sjahrir menyerang komunisme sebagai ideologi yang mengkhianati sosialisme karena mengabaikan kemanusiaan. Seperti Stalin di Rusia, Mao Zedong di Cina, Pol Pot di Vietnam. “Sosialisme yang kita perjuangkan adalah sosialisme yang memerdekakan manusia dari penindasan dan penghisapan oleh manusia,” tulisnya.

Sjahrir menegaskan kemerdekaan penuh bisa diraih lewat diplomasi. Ia juga menyinggung soal politik luar negeri. Menurut Sjahrir, kemerdekaan sesungguhnya harus dicapai secara bertahap, rapi, dan elegan, bukan frontal dengan angkat senjata. Maka ia memprakterkkan politik diplomasi; berunding dengan Belanda dan Sekutu serta melecut simpati dunia Internasional.

Sjahrir juga mengkritik adanya kebencian yang tak kenal damai dengan Belanda. Menolak kerjasama dengan Belanda hanya pencerminan dari ketidakpahaman terhadap perkembangan dunia yang lebih luas. Pada Maret 1938, Sjahrir menulis surat bagaimana ia tak ingin terlibat dalam gerakan non-kooperasi. Baginya gerakan non-kooperasi itu cermin dari mentalitas inferior.

Sebagai seseorang yang mendambakan kebebasan individu dan menentang totalitarianisme, Sjahrir kritis terhadap totalitarianisme kanan, yaitu fasisme, dan juga totalitarianisme kiri, yaitu komunisme. Bagi orang yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan kebebasan ini, dari mana pun asalnya, totalitarianisme akan menindas kebebasan individu. Itu sebabnya ia menentang diktator proletariat, salah satu tahap menuju masyarakat sosialis dalam ajaran Komunisme.

“Sosialisme itu jalan tengah antara kediktatoran Kanan, Hitler, dan kediktatoran Kiri, komunis. Sosialisme memperjuangkan demokrasi sekaligus kebebasan individu,” kata Fadjroel, salah satu yang tertarik dalam lingkaran PSI, sebagaimana dikutip majalah Historia edisi 18 tahun 2014.

Terhadap pemikir Marxis, seperti yang dituturkan oleh Ignas Kleden, Sjahir menolak bahwa individu tidak penting dan hanya menjadi unsur dan nomor dalam perjuangan kelas. Terhadap Bolsyevisme Lenin yang kemudian dipraktekkan oleh Stalin, dia mengecam keras adanya partai tunggal dan politbiro dengan keuasaan tak terbatas.

Dia tidak percaya bahwa Partai Komunis hanyalah peralihan sementara sebelum tercapainya pemerintahan oleh kaum proletar. Serta, pengorbanan manusia dalam perjuangan itu harus diterima sebagai necessary evil yang tak terhindarikan.[]

Riyandanu
Seorang remaja laki-laki yang diberkahi sedikit kalori

Leave a Reply