Untukmu Politikmu, Untukku Politikku

Maraknya pemberitaan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 di kalangan masyarakat tak luput pula kaitannya dengan isu agama yang kian mendominasi. Layaknya masakan yang tak sedap bila tak ada bumbu, begitu pula politik yang tak akan ramai jika tak ada agama. Peribahasa yang kian ramai diperbincangkan. Maret silam, pidato presiden di Tapanuli, Sumatra

Ribetnya Cita-Cita DJA

Entah sudah berapa bulan belakangan ini akun facebook saya dipenuhi dengan namanya. Para penulis yang tentunya sastrawan banyak sekali yang membicarakan terkait Denny JA. Saya yang awam dunia kesusastraan akhirnya mulai kepo dan mencari duduk masalah yang sesungguhnya. Ternyata para sastrawan itu tengah membuat dan menyebarluaskan petisi penolakan puisi esai

Tuhan Bukan Milik Satu Golongan Agama

Tuhan, satu kata yang belum bisa diterjemahkan secara konkret oleh manusia, atau bahkan memang tidak bisa diterjemahkan. Sampai detik ini, manusia masih menerjemahkan arti kata tuhan secara abstrak, mengandai-andai, memprediksi, mengambang, dan lain sebagainya. Dear Believer, film yang aku tonton siang kemarin, di youporn, eeh salah, maksudnya youtube. Menceritakan sekaligus menggambarkan

Menulis untuk Keabadian, Apa Guna?

Pada 30 April 2006, rumah dan pekarangan Pramoedya Ananta Toer dipenuhi banyak orang. Mereka datang untuk mengiringi kepergian Pram. Ya, Pramoedya Ananta Toer sudah mati, pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia itu benar-benar sudah mati. Yang ditinggalkannya adalah karya-karyanya, buku, novel, esai, keluarga, dan jejak-jejak kenangan tentangnya. Delapan tahun setelah

Mengenang Kembali Supersemar

Bulan ini 52 tahun yang lalu, sebuah surat konon ditandatangani sang proklamator. Supersemar namanya, atau singkatan dari Surat Perintah Sebelas Maret. Berisi surat pengalihan pengamanan dari Presiden Soekarno kepada Jendral Angkatan Darat Soeharto. Dari surat itu pula sebuah rezim kelak berkembang dan bertahan begitu lama. Rezim ini menamai dirinya sebagai

Kampus, Mahasiswa, Mau Kemana?

Jika kita pernah mendengar “mahasiswa sebagai agen perubahan”, sepertinya kata-kata itu sering digaungkan di orientasi pengenalan kampus. Setelahnya (semester 3-4-5-6-7-8), kata-kata itu lenyap entah kemana. Memang, kata-kata itu hanya digaungkan dengan keras dan bersemangat, hanya saat itu saja. Dan kata-kata itu tak disiapkan dengan serius untuk menjawab pertanyaan/pernyataan seperti, “untuk

Catatan Akhir Tahun: Replika Mahasiswa Mental Hamba

“Pergi ke fakultas cari dosen wali, bawa berkas niat konsultasi. Tiap kepala beda isi, jika beda pendapat maka hargai.” Berbahagialah kalian yang dapat kesempatan kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Entah ini mitos atau fakta, yang jelas saya pernah pura-pura jihad hompimpah dengan tiga sahabat saya. Antara UB, UM dan UIN,