Kata- Kata

Aku adalah pendusta terhebat Aku menciptakan kebohongan-kebohongan Dan dengan masifnya dipercaya begitu saja Hingga fakta menjadi bual tak bermakna   Aku adalah juru kampanye paling ulung Aku menebar janji dan dalil Dan rakyat  mengerubutinya di TPS-TPS Hingga calon yang ku usung melelangnya   Aku adalah penulis berita tersahih Aku ahlinya menulis hoax dan fitnah Dan jubah umat pun menjadi gerah Hingga realita hanya

Darah Merah Putih Bangsa

Tanah syurga dunia memuji Negeri yang kaya penjuru iri Merdeka di kaki sendiri Tekad pendiri negeri Nusantara terpongah dengan harta melimpah Menengadah dengan perhiasan nan indah Ibu pertiwi??? Usia renta tak serta mendewasa Tua haus tahta, muda candu ganja Daratan metropolitan sarang PSK Desa suburkan penguasa yang congkel perut jelata Hasrat membabi buta Tunas bangsa mengurcaci Darah muda untuk mengabdi mantapkan jati diri Berubah

Ribetnya Cita-Cita DJA

Entah sudah berapa bulan belakangan ini akun facebook saya dipenuhi dengan namanya. Para penulis yang tentunya sastrawan banyak sekali yang membicarakan terkait Denny JA. Saya yang awam dunia kesusastraan akhirnya mulai kepo dan mencari duduk masalah yang sesungguhnya. Ternyata para sastrawan itu tengah membuat dan menyebarluaskan petisi penolakan puisi esai

Politik Dagelan

Di sebuah gubuk kecil Perbincangan ringan terjadi Ocehan si emak tak henti-henti Terdiam aku mendengarnya Tercekat menelaah ocehannya Katanya manusia itu memang serakah Doyan duwit, lahan, dan jabatan Ini loh nduk zaman edan Orang-orang jadi tak terkendali Karna pemilihan ajang bergengsi Berbagai golongan mengatur strategi Memilih anggota yang katanya kompeten Agar tumbuhnya sebuah perubahan Tapi nyatanya hanyalah bayang-bayang Yang benar hanya guna menunjang akreditasi

KAMPUS: PERLUASAN PENDERITAAN

Pada janji yang hidup dalam hierarki Jiwa dilabuhkan pada penantian demokrasi Mahasiswa bukan sumber kas birokrasi kampus Yang melimpahkan suapan dari kantong mereka   Entah, bagaimana mata kampus melihatnya, Mungkin saja mereka tak memiliki penghasilan Untuk makan, minum, dan menelanjangi pasangannya   Wahai birokrasi kampus, Kami bukan kehidupanmu Kami bukan sumber penghasilanmu Jangan siksa kami, dengan UKT dan pengeluaran Kampus yang tak jelas arahnya     [Misnoto] Email

Dealova Rakyat Metafora

Saat kubalut lukamu Ku tak kuasa Menahan perihnya derita Melobi negeri untuk kita tempati Menyanyikan yel-yel pergerakan untuk kita memendam kebengisan dan wajah teduh yang kau simpan Kini pudar mencari kebenaran Saat kubalut lukamu Tak dapat aku menahan pedihnya Melihatmu bebas di tanah merdeka Asyik bermanja-manja Dan kini gugur tulang belulang dimakan anjing Sampai tiba koloni menyembunyikan Panji-panji liberalisasi yang kau runtuhkan Saat tembok

Aku Ingin Menjadi Wanita

Ruangan pengap yang hanya disibak tirainya sebagian membuat cahaya yang masuk tidak banyak namun cukup untuk melihat pantulan bayangan dari kaca. Seorang perempuan mengambil gunting dari laci kecil di kaca riasnya. Wajahnya terlihat tidak baik-baik saja. Rambut hitam gelombangnya terlihat kusut dan kusam. Wajahnya pucat dengan mata sembap, menatap wajahnya