Catatan Akhir Tahun: Replika Mahasiswa Mental Hamba

“Pergi ke fakultas cari dosen wali,

bawa berkas niat konsultasi.

Tiap kepala beda isi,

jika beda pendapat maka hargai.”

Berbahagialah kalian yang dapat kesempatan kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Entah ini mitos atau fakta, yang jelas saya pernah pura-pura jihad hompimpah dengan tiga sahabat saya. Antara UB, UM dan UIN, alhasil saya, yang mewakili UIN, menang mutlak 3-0. Dengan terpaksa senang hati, kami bertiga mengerutkan dahi hingga kedua alis menyatu mencari poin kebanggaan menjadi mahasiswa UIN. Barangkali ada khilaf, mohon maklum karena kami sama seperti kalian; mahasiswa mental hamba.

Tahun 2017, UIN Malang mengalami pergantian rektor. Sejak dilantiknya Prof. Haris oleh Menteri Agama Lukman Hakim akhir Juli lalu, UIN Malang mulai memasuki babak baru, bukan babak belur lho, ya. Sebuah fenomena baru kala rektornya selalu menggambarkan kondisi kampus lewat kata-kata. Dalam salah satu penggalan syairnya;

…Dua mantan rektor kita

Telah membawa UIN Maliki dengan ceta

Semoga para pelanjut bisa dengan lega

Melanjutkan visi misi mereka berdua.

Jiwa kepemimpinan yang diimbangi literasi tinggi nyaris membius ribuan mahasiswa. Paling tidak, membaca meski belum sempat berkarya. Sebagai mahasiswa yang bermental hamba, kami juga ingin dong meniru beliau biar dikira nyastra tipis-tipis. Heuheuheu… 

Babak baru selanjutnya, di bawah kepemimpinan Prof. Haris, UIN Malang kerapkali mendatangkan pejabat tinggi negara. Misal, Menpora Imam Nahrawi, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, ketum PPP Romahurmuziy, dan lain-lain. Satu lagi, kampus kita sempat masuk Metro TV, sesekali jadi tuan rumah Liga Mahasiswa (LIMA). Lagi-lagi, sebagai mahasiswa yang bermental hamba, kami bangga. Nggak tahu gimana komentar mahasiswa yang katanya aktivis melihat fenomena semacam ini. Semoga saja para aktivis tidak hanya berspekulasi semacam ini, “parpol kok masuk kampus?” atau “wah, ini ladang seksi buat investasi jangka panjang”. Wallahua’lam bis showaab.

Kehadiran pimpinan anyar, tentu, merangsang bukan hanya mahasiswa, pun dosen, karyawan, cleaning service, security bahkan masyarakat sekitar untuk berkomentar. Sebelum 2017 berakhir, perlu kiranya kita bersama-sama menguji kedigdayaan birokrat kampus.

Beberapa waktu lalu, kami sempat bincang-bincang santai bersama pimpinan OMIK yang sedang ngantor di kantor masing-masing. Eh, ada sebagian OMIK yang belum punya kantor, ding. Intinya, para pelayan mahasiswa ini curhat tentang fasilitas.

Pernah waktu itu salah satu HMJ kedatangan tamu yang sedang studi banding di UIN Malang. Saat ramah tamah di kantornya, salah satu tamu tanya toilet terdekat. Di situ para pengurus mulai tewur; mau diarahkan kemana sekiranya ada toilet layak pakai di gedung Student Center (SC)? NOL BESAR!

Tapi, kalau tanya tempat ibadah (masjid), kami sregep berebutan menjawab. Tinggal beri tawaran mau di Masjid Ulul Albab, Masjid Tarbiyah atau Masjid kampus 2 di Batu. Dalam urusan ini, UIN Malang punya tiga masjid, Lur. Tinggal tawarin; mau yang mana? Monggo… 

Ada lagi. Yang namanya mahasiswa mental hamba, bisa kami hanya menghamba pada kegiatan-kegiatan yang ada (seadanya). Ketika kami jalan-jalan malam keliling SC, serentak suara mahasiswa menjerit “aawww” di tengah berlangsungnya rapat pengurus UKM. Kata mereka, sudah maklum dan terbiasa terjebak kegelapan malam dan terkunci di SC. Jam malam hanya sampai pukul 20.00 WIB. Ini yang, kata mereka, membatasi ruang gerak berkreativitas dan mengembangkan minat bakat mahasiswa.

Terakhir, maba alias mahasiswa basi baru lagi mengalami dilematis tingkat dewa. Kebingungan harus pilih prioritas yang mana antara Ma’had, PPBA, kuliah reguler dan organisasi (bagi yang ikut). Mereka bertanya-tanya sebenarnya kita kuliah sambil mondok atau mondok sambil kuliah? Kadang kok terjadi tarik-menarik massa saat ada kegiatan di kampus berlangsung. Apalagi, pukul 21.00 WIB mahasantri harus masuk ‘goa’ dalam kerangkeng nuansa islami, katanya. Padahal, tempatnya di dalam kampus, kegiatannya positif, tapi acapkali direspon negatif saat balik Ma’had. Sepertinya perlu adanya sinergitas antara pihak kampus, OMIK, PPBA dan Ma’had. Adik-adik, satu-satunya pilihan buat kalian; bersabar. Percayalah, kalian adalah pribadi yang luar biasa meski berada di lingkungan yang biasa-biasa saja.

Dengan sengaja kami tidak mengangkat mahalnya UKT, jujur kami pasrah. Semoga dengan mahalnya UKT harapan kami sebagai mahasiswa mental hamba bisa dipenuhi. Jika tidak, gak masalah kok. Toh, bagi kami harapan adalah doa-doa. Yang namanya doa tidak mesti semua harus dikabulkan.

“Wahai kalian, selamat datang di Negeri Organisasi. 

Dimana peduli dikira menghabisi.

Ngajak ngopi dianggap intervensi.

Memberi roti dituduh gratifikasi. 

Hingga kampanye dipolitisasi dengan dalih emansipasi.”

Umur panjang mahasiswa mental hamba. Kami menghamba pada kebenaran.

Good bye 2017. Welcome 2018 dengan penuh harapan. Salam!

[Naufal Ardiansyah, Mahasiswa UIN Malang]

 

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply