Tak Kompak Lawan Korupsi

Upaya penegakan korupsi memang tidak selamanya mendapat dukungan dari seluruh pihak. Justru ada pihak-pihak yang menginginkan tindakan anti korupsi itu dimusnahkan. Setidaknya itu pesan yang coba disampaikan dalam aksi demo “Bersih-bersih Polri dan Save KPK” di Jalan Simpang Balapan kota Malang (26/1). Aksi yang diikuti oleh sejumlah organisasi mahasiswa dan masyarakat sipil ini, timbul akibat kekhawatiran akan tindak kriminalisasi yang diterima KPK sebagai bentuk pelemahan penindakan korupsi.

Wakil ketua KPK, Bambang Widjajato ditangkap terkait laporan kasus perekayasaan keterangan saksi dalam sengketa Pilkada Kota Waringin Barat tahun 2010. Peristiwa tersebut terjadi tepat Setelah KPK menetapkan Budi Gunawan, calon tunggal Kapolri sebagai tersangka. Begitu pula Adnan Pandu Praja, wakil ketua KPK lainnya yang dilaporkan ke Bareskrim terkait kasus perampasan saham di PT Desy Timber. Abraham Samad yang merupakan ketua KPK pun diisukan memiliki foto mesra dengan perempuan mirip Puteri Indonesia 2014.

Beberapa masalah yang menyangkut petinggi KPK tersebut dianggap In’amul Mushoffa, selaku juru bicara aksi sebagai upaya penghancuran terhadap institusi KPK yang tidak bisa dibenarkan. “Padahal selama ini Kinerja KPK cukup baik dengan menangkap sejumlah koruptor,” ungkapnya. Dalam press realeasenya, massa aksi juga menuliskan bahwa mereka siap bertarung dengan siapapun, yang berusaha menghalangi setiap upaya pemberantasan korupsi.

Abdur Rahman Sofyan, salah satu orator berteriak lantang, “Satu kata, lawan korupsi! lawan korupsi! Hidup rakyat.” Sofyan menambahkan “demi Allah! adalah sebuah kemunafikan mereka yang tidak berani menyuarakan kebenaran. Bahkan mereka tidak berani berpikir benar!” Ia juga menyinggung masalah korupsi yang menimpa kampusnya, “Kampus saya, UIN Maliki Malang yang notabene kampus islam, petingginya telah terjerat kasus korupsi yang berjalan lima tahun tanpa kejelasan!”

Ketidakjelasan yang dimaksud Sofyan adalah proses yang sangat lamban dari kejaksaan Negeri (Kejari) Malang, “Kejari tidak serius dan main-main dengan kasus Imam. Hal itu diindikasikan dari Kejari yang sudah berkali-kali berganti susunan kepengurusan” jelasnya. Imam Suprayogo, mantan rektor UIN Malang yang berkuasa selama 16 tahun telah ditetapkan sebagai tersangka pada 8 Mei 2014, dalam kasus dugaan korupsi pengadaan lahan UIN II di Batu.

Menurut Rizky setyo, pihak Kejari yang ditugaskan di pos pidana khusus, staff Kejari baru saja melakukan proses pergantian kepengurusan. “Baru tadi pagi saya mendapat surat keputusan untuk pindah ke pos pidana khusus” ungkap Rizky. Sebelumnya ia ditugaskan di posisi pidana umum, alasan perpindahan posisi itu dianggap Rizky sebagai ajang pembelajaran. “Karena saya pegawai baru disini, perpindahan posisi itu agar faham setiap bagian itu seperti apa, ya belajarlah” ungkapnya.

Karena alasan perpindahan posisi tersebut, Rizky tidak bisa memberikan penjelasan perihal kelanjutan proses hukum Imam Suprayogo, “Saya belum membaca kasusnya” belanya. Namun Rizky menolak bila Kejari dianggap memperlambat proses hukum Imam Suprayogo. “Kasus orang korupsi itu penetapan hukumnya tidak secepat kasus orang bermain togel, prosesnya panjang” ungkapnya.

Sofyan menuturkan, tidak mudah untuk memperjuangkan gerakan anti korupsi, “Banyak yang tidak suka kepada kita saat meneriakkan Imam Suprayogo sebagai koruptor, karena Imam itu orang besar” katanya. Sofyan merasa ia dan rekan-rekannya hanya dianggap sebagai kelompok kecil yang kerjanya hanya merecoki kampus yang sudah dibesarkan oleh Imam Suprayogo, “Padahal kita ingin bersih-bersih kampus,” katanya.

Posisi Budi Gunawan dan Imam Suprayogo pun cenderung mirip, mereka adalah dua tokoh yang disegani di lembaganya masing-masing. Namun penegakan korupsi seyogyanya tidak memandang siapa dia, atau apa jabatannya. Proses hukum harus berjalan secara objektif dan bebas dari intervensi pihak manapun. [Salis Fahrudin]

Leave a Reply