Tanpa Ada yang Peduli

Pagi ini, hari Senin. Jalanan kota tampak ramai. Bus-bus hampir terisi penuh, kendaraan pribadi pun memenuhi jalanan, dan para pejalan kaki padat merayap memenuhi trotoar. Mereka tampak sibuk dengan urusan masing-masing – yang berangkat sekolah, pergi ke kantor, berteriak untuk mencari penumpang, dan lain-lain. Di sudut lain, di kolong jembatan yang kumuh, dekat perkotaan, tampak tiga bocah – kira-kira berusia tujuh tahun – yang sedang duduk lunglai.

“Gar, kau kenapa?” Ria bertanya pada Togar, merasa iba.

“Aku tak kuat lagi, badanku lemas, sudah dua hari aku belum makan.” Togar menjawab dengan suara lirih, seperti sudah tidak ada tenaga lagi.

“Sebentar, aku kemarin mendapat sepotong roti,” Komar mengambil roti dari sakunya, lalu memberikannya pada Togar.

“Bagaimana denganmu?” Togar merasa tak enak hati mengambil roti itu.

“Tidak apa-apa, makan saja roti itu. Nanti aku masih bisa mencarinya lagi,” jawab Komar, meyakinkan si Togar. Dengan lahap Togar memakan roti itu, ya, walaupun roti itu sudah basi. Mereka terpaksa melakukan hal tersebut agar bisa bertahan dalam kerasnya kehidupan perkotaan, yang bisa dibilang tak ada yang peduli dengan keberadaan mereka. Beruntung cuaca saat ini terik. Giliran mereka turun ke jalan untuk mencari uang, entah mengamen, atau pun sekadar membuka jasa semir sepatu keliling dengan peralatan seadanya. Sayangnya, penghasilan hari ini hanya sedikit.

“Kalian ngamen dapat berapa? Aku dapat empat ribu saja, tadi aku cuma dapat satu pelanggan” Komar, yang sibuk menghitung penghasilannya, bertanya pada temannya. 

“Aku cuma dapat tiga ribu,” sahut Togar, “Kalau kamu, Ria?” lanjutnya.

“Kalian masih beruntung, aku hanya mendapat dua ribu, tak cukup untuk membeli sebungkus nasi.” Ria mengacungkan uang seribuan dua, tampak putus asa. Mereka kembali berpikir, mencari solusi bagaimana mereka bisa mendapat uang tambahan. Tapi, tiba-tiba cuaca berubah begitu cepat. Awan yang semula biru cerah, seketika menjadi awan mendung penuh dengan petir. Mereka semakin putus asa, menganggap semesta tak lagi berpihak pada mereka. Akhirnya, mereka bertiga segera mencari tempat berteduh karena hujan semakin lebat. Sayangnya, sebelum mereka menemukan tempat berteduh, mereka sudah basah kuyup. Saat berteduh, tiba-tiba Ria terpikir akan sesuatu. 

***

Hujan semakin lebat, suara petir memekakkan telinga. Para pejalan kaki merapat di depan toko-toko, untuk meneduh. Tapi, jalanan masih penuh dengan kendaraan. Mereka saling sahut menyahut klakson, terdengar sangat riuh. Tidak ada satu pun kendaraan yang beranjak dari posisi mereka, padahal lampu lalu lintas sudah berwarna hijau. 

Titt..tittt… (suara klakson kendaraan saling sahut menyahut).

Beberapa menit lalu, ada kecelakaan tabrak lari di persimpangan jalan dekat lampu lalu lintas. Naas, bocah – yang menjadi korban tersebut – meninggal dunia di tempat kejadian. Bocah itu adalah Ria. Awalnya, ia berusaha menghalangi seorang pejalan kaki yang hampir tertabrak motor saat menyebrang jalan. Namun, saking kencangnya motor itu melaju, Ria tak sempat menyelamatkan dirinya karena memang kecelakaan itu terjadi begitu cepat. Jasadnya pun  terkapar di tengah jalan begitu saja. Orang-orang yang ada di sana pun hanya menjadikan tontonan yang mana harus diabadikan di ponsel mereka. Para pengendara pun sama sekali tidak menghiraukan kecelakaan itu, bahkan mereka terus saja menyalakan klakson – yang malah membuat riuh suasana saat ini. Teman-temannya, yang baru mengetahui kabar tersebut, langsung berlari menghampirinya. 

“Ria..!” Teriak Komar dari jauh, berlari menuju jasad Ria. Togar pun berlari di belakang Komar. Mereka menangis kencang, terus menyebut nama Ria, tak percaya akan hal ini. 

“Kenapa kalian hanya berdiri, menjadikan teman kami sebagai tontonan saja? Apa kalian tak ada niat sedikit pun untuk menolong kami?” Togar berteriak menanyai orang-orang di sekelilingnya, sesenggukan. 

***

“Togar, Komar,” Ria menyenggol kedua temannya itu.

“Ada apa, Ria?” Komar bertanya, penasaran. Sedangkan, Togar hanya ikut memandang Ria, penasaran, tanpa ikut bertanya karena ia tampak kedinginan.

“Bagaimana kalo kita bekerja sebagai tukang ojek payung? Kan lumayan untuk tambahan membeli makan.” Ria mencoba meyakinkan kedua temannya.

“Sebenarnya aku setuju dengan idemu, tapi jujur saja aku sudah tidak kuat, aku kedinginan,” Togar menjelaskan, menggigil. 

 “Ya sudah, bagaimana kalau aku dan Ria saja yang pergi mengojek? Kamu di rumah saja beristirahat.” Komar memandang Togar.

“Jangan, aku ikut saja dengan kalian. Setidaknya aku ikut menemani kalian. Kalau aku pulang ke rumah, aku malah merasa tak enak. Maaf, ya, sudah merepotkan kalian.” Mata Togar terlihat berkaca-kaca. 

“Emmm.. Tapi kau sudah menggigil, Gar. Apa kau yakin masih kuat ikut dengan kami?” Komar bertanya, memastikan.

“Iya, aku yakin.” Togar menahan rasa gigilnya itu.

“Ngomong-ngomong, apa kita punya payung?” Komar baru ingat kalau mereka tidak punya payung.

“Aku akan meminjamnya ke Mas Tomo. Tunggu disini saja, aku yang akan pergi kesana.” Ria langsung berlari. Jarak ke rumah Mas Tomo tidak terlalu jauh, sekitar sepuluh menit Ria sudah kembali. Mereka segera pergi ke jalanan, menawarkan jasa ojek payung pada orang-orang yang turun dari kendaraan.   

***

Semua orang tak ada yang menghiraukan nasib mereka. Bahkan, melihat Ria yang sudah tak bernyawa sekalipun, tak ada yang mau menolong mereka. Komar berinisiatif mencari gerobak untuk mengangkut jasad Ria. Ia berlari menuju tempat pembuangan sampah, biasanya disana ada gerobak. Beruntung, di perjalanan ada seorang tukang sampah yang membawa gerobak. Akhirnya, ia mencoba meminjam pada bapak itu dan beliau mengiyakannya. Dengan langkah yang cepat, Komar berlari sambil mendorong gerobak tersebut. Setelah sampai, Komar dan Tagor segera menggotong jasad Ria. Begitu melas raut wajah mereka, yang terpaksa membawa jasad Ria dan menguburkannya sendiri, tanpa ada yang peduli dengan penderitaan mereka. Entah mana polisi yang biasa berlalu lalang menilang pengendara di persimpangan jalan, entah mana orang yang punya sedikit nurani yang mau mengulurkan bantuannya, tidak ada sama sekali. 

Bahkan, sejak kejadian tadi, saat darah mengucur deras dari kepala Ria yang sekarang sudah melebur bersama derasnya air hujan, tidak ada yang peduli. Orang-orang hanya sibuk mengabadikan kejadian itu demi kebutuhan eksistensi mereka di dunia maya. Orang-orang hanya menganggap bocah-bocah gelandangan sebagai mayat hidup, yang keberadaannya tak dianggap. Begitu malangnya mereka, yang harus mendorong gerobak berisi mayat teman seperjuangannya di bawah derasnya hujan yang mengguyur setiap jalanan yang mereka lewati, tanpa ada orang yang peduli. []

Tinggalkan Balasan