Tempat Tidak Layak, Pedagang Merjosari Tolak Relokasi

Jumat (11/11), ratusan pedagang Pasar Tradisional Merjosari beserta puluhan mahasiswa pergerakan melakukan Aksi Peduli Pedagang Pasar Merjosari di depan Balai Kota Malang. Aksi tersebut dilaksanakan terkait pemindahan Pasar Tradisional Merjosari ke Pasar Terpadu Dinoyo. Sayangnya, pedagang Pasar Tradisional Merjosari menolak tempat yang dijanjikan oleh Dinas Pasar Kota Malang tersebut lantaran tidak sesuai dengan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemerintah Kota Malang dan PT Citra Gading Asritama (CGA) selaku investor. PKS tersebut tercantum dalam perjanjian nomor Pemerintah Kota Malang: 050/558/35.73.112/2010 dan nomor PT. Citra Gading Asritama: 352/CGA.SBY/IX/2010. Pasar Terpadu Dinoyo dinilai tidak layak oleh para pedagang Pasar Tradisonal Merjosari.

Ketidaklayakan Pasar Terpadu Dinoyo juga didukung oleh hasil uji yang dilakukan oleh pihak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang. Hasil uji kelayakan menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara hasil pembangunan dengan ketentuan yang ada dalam PKS. Fasilitas dan kelayakan bangunan menjadi landasan kuat bagi pedagang untuk melayangkan keberatan dan protes ke berbagai pihak yang dianggap bertanggung jawab. “Ya sebenarnya kita itu ngeluhnya cuma perkara tempatnya itu kurang  kondusif dan layak.  Petaknya kecil, parkir juga sulit,” keluh  Sri Wahyuni, salah satu pedagang Pasar Tradisional Merjosari.

 Menuurut Sri, bangunan di Pasar Terpadu Dinoyo memiliki dua lantai. Ia menakutkan akan terjadi ketidakseimbangan proses jual beli antara pedagang di lantai satu dengan yang ada di lantai dua. “Bagaimana dengan pedagang yang di lantai dua? Kan nanti kesulitan untuk menyuplai barang yang banyak, kan kesulitan bawanya,” imbuh Sri. Lebih lanjut, ia juga menuturkan bahwa lokasi Pasar Terpadu Dinoyo yang bersebelahan dengan Mall Dinoyo City akan mengakibatkan persaingan. Menurutnya, pembeli akan lebih tertarik berbelanja di Mall Dinoyo City daripada di Pasar Terpadu Dinoyo.

Permasalahan lain terkait ketidaklayakan Pasar Terpadu Dinoyo juga diungkapkan oleh Sabil el-Achsan selaku Koordinator Persatuan Pedagang Pasar Dinoyo. Sabil menuturkan bahwa di Pasar Terpadu Dinoyo terdapat banyak kios yang pemiliknya ganda. “Satu bedak (kios_red) ada dua sampai tiga nama. Sedangkan pedagang dipaksa untuk segera pindah. Coba bayangkan, apa tidak terjadi chaos?” tutur Sabil.

Dalam press release yang disampaikan oleh Aliansi Pedagang Pasar Merjosari tertulis bahwa pemerintah Kota Malang melalui Dinas Pasar Kota Malang melakukan tindakan penekanan dan intimidasi ke para pedagang agar segera pindah ke tempat baru. Tindakan tersebut berupa pencabutan Keputusan Walikota Malang Nomor 188.45/204/35.73112/2013 tentang Penetapan Tempat Penampungan Sementara Pasar Dinoyo di Kelurahan Merjosari sebagai Pasar Tradisional Merjosari. Setelah pencabutan keputusan Walikota Malang tersebut, pemerintah Kota Malang sempat melakukan beberapa tindakan intimidasi lainnya yang bertujuan mempercepat pemindahan pedagang Pasar Tradisional Merjosari. “Bentuk intimidasi antara lain pemasangan seng untuk menutup Pasar Merjosari, aliran listrik akan dicabut, tidak ada pungutan retribusi yang dengan demikian Pasar Merjosari menjadi pasar ilegal sehingga dengan mudah pemkot (pemerintah kota_red) menggiring pedagang untu ke pasar baru dalam waktu dekat,” ungkap Sabil.

Pedagang Pasar Tradisonal Merjosari menuntut kepada pemerintah Kota Malang dan Dinas Pasar Kota Malang, untuk menghentikan segala bentuk intimidasi yang dilakukan kepada mereka. Selain itu, juga menetapkan kembali status hukum Pasar Tradisonal Merjosari yang masih sementara. “Jangan ada lagi intimidasi dari pemkot kepada pedagang Merjosari yang akhir-akhir ini sangat kurang nyaman dan resah,” pungkas Sabil. [Desyana Fadhilatin Nafitri]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply