The Last Morning

Pergi! Semuanya cepat pergi!” seorang lelaki dengan wajah bulat kecoklatan berlari di antara kerumunan massa, terus berteriak sekalipun ia tak mendengar suaranya sendiri. Ia terus berlari sampai jalan di depannya benar-benar dipenuhi oleh tubuh-tubuh yang sama dengan tubuhnya. Ia berhenti berlari dengan bingung menoleh ke kanan dan ke kiri.

“Pergi! Kalian cepat pergi!” Teriaknya serak seraya mengepalkan tangan. Namun tetap begitu, suaranya berubah menjadi angin yang tiba-tiba terasa hangat baginya, cukup untuk menghangatkan tengkuknya yang mendingin. Ia berbalik, merah…sudah terlambat?

DUAAARRR!!!

DUAAARRR!!!

Ledakan saling susul-menyusul, tubunya terlempar jauh bersama kesadarannya.

@@@
Tulilulilulilut…tulilulilulilut…tuliluli,
“Halo?”
“Ato!” suara dari sebrang.
Ato menjauhkan telepon genggamnya dari telinganya seraya mengernyit “Ini siapa?”
“Ini aku, To. Marwan!,”
“Ada apa, Wan? Pagi-pagi, kok, teriak-teriak!” Ato mencomot pisang goreng sisa tadi malam di mejanya.
Sebelum memasukkan gorengan tersebut ke dalam mulutnya, Ato mendesah untung tadi malam tidak aku makan semua, jadi lumayan bisa untuk pagi ini…
“Ato, gawat!” Ucap Marwan dengan tergesa-gesa membuat Ato meletakkan kembali pisang goreng di tangannya ke tempat semula.
“Memangnya ada apa, Wan?”
“Perusahaan Tambang, sekarang tiba-tiba ada demo mengenai korupsi yang dilakukan oleh Perusahaan Tambang…” Ato segera menutup telepon genggamnya, meraih kemeja lusuh dari tempat duduknya dan dengan langkah lebar keluar dari kamar kostnya.
“Pagi sekali, To. Sekarang masalah apa?” Sapa salah satu temannya, Puji, yang sedang membaca Koran ditemani secangkir kopi dan biscuit di sampingnya.
“Ada demo tentang korupsi di Perusahaan Tambang,Ji.” Jawab Ato
“Demo,kok, masih tetap mau diliput! Dari dulu sampai sekarang demo nggak ada habis-habisnya! Ngapain… demo mululu, toh, korupsi tetap saja lanjut”
“Jangan gitu, Ji. Setidaknya, kan, kita usaha untuk menyampaikan aspirasi kita” Sahut Ato seraya memakai helmnya.
“Tapi,kan…” sebelum Aji menyelesaikan kalimatnya, Ato telah pergi bersama bunyi derum motornya yang semakin menghilang.
@@@
“Hukum mereka! Mereka pencuri! Pencuri! Pencuri busuk!”
“Berikan gaji kami. Semuanya!!!”
Ato memandang ke sekeliling. Ratusan laki-laki berkulit kasar dan coklat memenuhi halaman depan sebuah perusahaan Tambang yang baru tujuh tahun bediri itu. Wajah-wajah mereka tampak lelah dan suram. Melihat hal itu, Ato segera mendekati salah seorang dari mereka untuk ditanyai. Ketika hendak merekam dengan telepon genggamnya, ada dua belas laporan panggilan tak terjawab dan satu pesan masuk di Hpnya. Semuanya dari Marwan. Entah kenapa, tiba-tiba Ato merasa bisa mendengar suara jantungnya sendiri. Keringat dingin mulai membasahi tangannya ketika satu persatu ia membaca pesan Marwan.Tangannya gemetar, telepon genggamnya terjatuh. Dari kejauhan ia melihat sekumpulan orang beranjak dari duduknya dengan tas besar di tangan masing-masing mereka menyebar dan membaur dengan demonstrator lainnya, meninggalkan tas itu di sana.

“Pergi! Semuanya cepat pergi!” Ato mulai berlari…aku harap belum terlambat…

Kamu di mana,To? Teleponku, kok nggak diangkat?
Ada isu dari teman wartawan lainnya bahwa aka ada pengeboman pada saat demo itu. Benar atau tidaknya informasi ini aku kurang tau. Tapi aku harap kamu tidak ke sana.
Diterima:
07:33:15
Hari ini
Penghantar:
Marwan
+628914XXXXXXX

 

[Uswatun Hasanah]

Leave a Reply