Tuan Villefort

Tepat pukul dua siang sebuah kereta yang ditarik oleh sepasang kuda coklat yang gagah dan indah berhenti di depan kedai kumuh yang bahkan tidak pantas untuk menjadi kandang kuda sekali pun. Rayap sudah menggerogoti beberapa tempat di kayu-kayu yang berdiri untuk menopang kedai. Sarang laba-laba yang mulai berwarna hitam menjadi satu-satunya hiasan yang tergantung di wajah kedai itu. Di dalamnya duduk seorang pria muda tampan lengkap dengan  jas hitam mentereng berhiaskan kancing-kancing berwarna keemasan. Pria tersebut mengeluarkan kepalanya dari jendela, memerintah kepada pelayannya yang sudah tegak berdiri untuk membukakan pintu. Pria muda itu turun dengan membungkukkan kepalanya, kemudian berdiri dengan gagah dan mempesona. 

“Terima kasih atas bantuannya, Bartorome,” ucap pria muda tadi kepada pelayannya. 

Pelayannya kembali membungkukkan diri tanda hormat. 

Tuan Villefort, demikianlah orang mengenal namanya. Bila namanya terdengar, maka kau akan menemukan bayangan seorang manusia beruntung yang dikaruniai oleh Tuhan. Usianya masih muda, tubuhnya sehat, wajahnya tampan, dan otaknya sangat jenius. Bayangkan saja, di usia 20 tahun,  Tuan Villefort telah diangkat menjadi kepala lembaga pertanian di sebuah kota yang cukup besar yang tidak akan disebutkan lokasi tepatnya. 

“Benarkah ini kediaman Nyonya Ellia?” tanya Tuan Villefort dengan sangat ramah kepada seorang perempuan yang sedang duduk di depan kedai kumuh yang sama, kedai yang kini ia singgahi.

Perempuan tua tadi berdiri, sedikit merapikan pakaiannya yang kusut karena terlalu lama duduk. Kemudian ia mengusap-usap rambutnya agar terlihat sedikit lebih rapi. “Ya, Tuan Villefort. Saya Ellia.” 

Tuan Villefort mengulurkan tangannya. Wajahnya tampak amat sumringah bertemu dengan seorang perempuan tua. Tentu, seorang Tuan Villefort akan selalu sumringah bertemu dengan siapapun, itulah alasan banyak yang mencintainya. “Nyonya Ellia! Senang sekali karena saya langsung bertemu dengan Nyonya begitu sampai di kedai yang nyaman ini. Kedai milik petani memang tidak pernah mengecewakan untuk disinggahi,” ucap Tuan Villefort dengan sedikit gelak tawa. 

Nyonya Ellia sedikit tertawa. “Silakan duduk, Tuan. Mohon maaf jika tempat yang bisa saya sediakan tidak pantas untuk Tuan yang dermawan singgahi. Tapi, betapa bahagianya saya ketika melihat kereta kuda Tuan Villefort dan kemudian Tuan berjalan masuk menuju kedai kecil ini. Dari sekian banyak kedai yang ada di sini, Tuan memutuskan memilih kedai saya.”  

Tuan Villefort duduk di atas kursi kayu rapuh yang mengkhawatirkan, raut wajahnya mengisyaratkan sebuah ketakutan. Takut bila suatu waktu kursi yang ia duduki patah dan menyebabkan bokongnya Kembali menyentuh tanah seperti saat dirinya terjatuh saat menghadiri acara panen besar dan tidak sengaja terpeleset sebab gundukan tanah basah di sawah. Hingga saat ini, rasa sakit di tulang ekornya masih terus terasa, dan mengerikan jika membayangkan rasa sakit tersebut harus terulang Kembali.   

“Nyonya Ellia, saya akan langsung pada intinya saja. Saya mendapat laporan bahwa Nyonya Ellia bersama beberapa petani lain kemarin mencari saya di Istana, bukan begitu?”

Nyoya Ellia mengangguk ragu. “Ya, Tuan. Tapi, asal Tuan tahu, maksud dan tujuan saya tidak berarti saya ingin menentang keputusan Tuan.”

Tuan Villefort mengangguk seolah setuju dan memahami apa yang diucapkan oleh Nyonya Ellia. 

“Saya hanya mengingatkan janji Tuan Villefort pada kami. Saya ingat dengan betul hari itu. Hari di mana Tuan berjanji bahwa kami tidak perlu khawatir akan semua yang kami tanam, terutama padi dan gandum. Namun, pada kenyataannya saat ini, Tuan, saya yang hanya seorang nenek tua pun merasakan kekhawatiran karena harga padi dan gandum yang tiba-tiba turun drastis.”

“Dan bagaimana tepatnya  itu terjadi, Nyonya Ellia?” tanya Tuan Villefort dengan lembut. 

“Tuan Villefort bertanya demikian bukan berarti Tuan melupakan janji itu, bukan?”

“Tentu tidak. Saya hanya ingin mendengar saja apa yang Nyonya ingat dan bagaimana tanggapan Nyonya terkait hal itu.”

Nyonya Ellia membenarkan posisi duduknya. Kini, tubuhnya ia hadapkan dengan tepat pada Tuan Villefort. Saat ini, wanita tua itu memiliki sorot mata yang lebih tajam, senyumannya bahkan hanya terukir sedikit dari bibirnya. Sementara di luar perbincangan mereka, obrolan orang lain yang sama bisingnya juga terdengar di dalam kedai itu. Tetapi tampaknya Nyonya Ellia tidak begitu peduli, ia perempuan tua yang masih memiliki konsentrasi tinggi, bayangkan, ia sama sekali tak terganggu dengan suara bising itu. Lalu, Nyonya Ellia mulai bercerita.

“Saat itu, Tuan Villefort berdiri dengan penuh wibawa seperti biasanya. Saya hanya melihat Tuan dari  kejauhan karena saat itu saya sedang menumbuk gabah. Tapi, saya bisa mendengar dengan jelas bagaimana suara Tuan Villefort, suara Tuan sangat lantang dan langsung ditangkap oleh telinga saya. Saya sangat menghargai Tuan yang rela datang ke tempat kami, melewati jalan pegunungan hingga kuda Tuan tampak sangat kelelahan. Tuan bahkan rela berjalan di tanah kami yang tentunya mengotori sepatu tuan yang sangat berkilauan.” Nyonya Ellia tiba-tiba berhenti bercerita sejenak, ia ragu ceritanya tidak terdengar oleh Tuan Villefort. Karena di luar ternyata bising suara orang lain semakin tinggi. Mungkin ia menyadari karena malam nanti akan ada pameran lukisan di dekat kedai Nyonya Ellia. 

“Lanjutkan saja, Nyonya. Saya mendengarkan.” 

“Baik, Tuan saya lanjutkan. Saat itu, kami mengkhawatirkan banyak hal. Tuan tahu sendiri  kami menanam tanaman yang sama. Kami menanam gandum dan padi karena memang  hanya itu yang kami kuasai. Kami sudah tahu bahwa harga jualnya rendah dan kami tidak mengharapkan banyak keuntungan di setiap panen.” Nyonya Ellia, menghela ceritanya dan tiba-tiba saja air matanya turun. “ Kami hanya  mengharapkan modal yang digunakan kembali dan ada sedikit hasil panen yang tersisa untuk kami konsumsi sampai musim panen berikutnya. Kemudian, Tuan Villefort datang dan berdiri di tengah-tengah kami dengan janji yang bahkan sampai saat ini, jika saya mengingatnya tetap menggetarkan hati saya. Tuan akan membeli semua gandum dan padi hasil pertanian kami, Tuan akan membelinya dengan harga yang lebih tinggi dibanding jika kami  menjualnya ke pasar pangan.” Nyonya Ellia kembali berhenti bercerita, dan tangisannya semakin lama semakin sesegukan. Lalu ia mengambil kain di sebelahnya untuk menghapus air mata yang terus turun di pipi keriputnya. 

Tuan Villefort memerintahkan pelayannya untuk menenangkan Nyonya Ellia. Nyonya Ellia diberi segelas air minum yang diambil dari  kedainya sendiri oleh pelayan Tuan Villelfort. 

“Minumlah dahulu, Nyonya,” ucap Tuan Villefort. “Saya sungguh menghargai dan merasa tersanjung karena Nyonya dapat mengingat semua itu dengan sangat baik. Bahkan, bukan hanya kronologis kegiatannnya saja, Nyonya ternyata juga masih mengingat dan menyimpan bagaimana suasana dan perasaan Nyonya di hari itu. Lalu, apakah gerangan yang bisa membuat Nyonya dengan tega melakukan aksi perlawanan di depan kantor kami beberapa hari yang lalu?” Tuan Villefort mengucapkan pertanyaannya dengan suara yang jelas seperti orang yang sedang menahan kekesalan. 

“Karena janji itu tidak pernah ditepati,” ucap Nyonya Ellia dengan ragu-ragu. Tangisnya kini semakin pecah.

“Karena janji itu tidak pernah ditepati,” ucap Nyonya Ellia dengan ragu-ragu. Tangisnya kini semakin pecah.

Tampak raut wajah Tuan Villefort yang berubah, tidak tenang seperti tadi. “Anda benar-benar mengatakan itu di depan saya, Nyonya?” tanya Tuan Villefort. 

“Maafkan saya Tuan, tapi kami benar-benar tidak menjual sedikit pun hasil panen kami. Kami bergantung pada janji Tuan. Dan kini, hanya gandum dan padi baru panen saja yang Tuan dan pelayan Tuan di lembaga pertanian beli. Sedangkan, Tuan menjanjikan itu sejak lama namun kenyatannya, pembelian hasil panen baru dilakukan dekat-dekat ini. Tentu, banyak sekali hasil panen kami yang akhirnya tidak Tuan dan lembaga pertanian beli, dan tidak bisa kami jual ke pasar pangan. Kalaupun dijual, kami rugi besar Tuan. Kami tidak akan bisa menanam gandum dan padi lagi di musim berikutnya. Kedai ini, Tuan, mungkin sebentar lagi akan hilang karena harus dikorbankan untuk modal awal saya bercocok tanam lagi.” Nyonya Ellia kini berbicara dengan menggebu. Bahkan suaranya dapat mengalahkan suara bising orang-orang yang sedari tadi telah mempersiapkan diri untuk pameran dengan berbahagia di luar sana.

“Dan itu adalah salah saya?” 

Nyonya Ellia tidak dapat berbicara apa-apa. Wajahnya sangat terkejut mendengar pertanyaan yang menohok hatinya. 

“Bukankah kerugian itu datangnya dari kesalahpahaman Nyonya dan kawan-kawan Nyonya dalam memahami ucapan saya?” tanya Tuan Villefort lagi. 

Nyonya Ellia semakin tersedu-sedu, seolah pasrah. Saat ini, tidak ada pelayan Tuan Villefort yang memberinya minum lagi. Pelayan itu sudah kembali berdiri di sisi Tuan Villefort yang tampaknya telah siap untuk pergi meninggalkan kedai Nyonya Ellia. 

“Jika sempat, bicarakanlah dengan kawan Nyonya, bahwa kami tidak bisa membeli barang kualitas buruk. Dan, memang seperti itu sistem kerja di seluruh tempat di penjuru dunia. Tidak akan ada orang yang ingin dirugikan, sekalipun orang itu adalah Villefort. Bukan begitu?” 

“Tentu, Tuan,” jawab pelayannya. 

Nyonya Ellia berdiri. Ia mencoba menegakkan tubuhnya. Mencoba menahan kakinya agar tidak rubuh. “Kedai ini, Tuan, berarti akan benar-benar hilang.”

Tuan Villefort menghiraukan ucapan Nyonya Ellia, ia berdiri, merapikan jasnya, dan memasang senyum seperti saat ia pertama masuk ke kedai Nyonya Ellia. Di luar kedai, ia melihat beberapa kawan Nyonya vi telah berdiri, mungkin mereka akan masuk ke kedai selepas Tuan Villefort pergi dan menanyai segala hal terkait nasib mereka kepada wanita tua pemilik kedai itu. 

“Mungkin Anda juga, Nyonya,” ucap Tuan Villefort sambil berlalu. 

Pelayannya mengantarkan Tuan Villefort ke dalam kereta kuda. Tuan Villefort memberikan senyum ramah sepanjang jalan pendek dari kedai ke keretanya. Sementara, Nyonya Ellia telah bersama pelayan Tuan Villefort yang lainnya. 

Tinggalkan Balasan