UIK

Jari telunjukku asyik memainkan upil, selagi aku berdiri di tepian jalan. Aku ingin menyeberang, tapi kendaraan malam ini begitu ramai. Kencang-kencang pula. Sedangkan pak satpam yang ada di gerbang kampus, seolah berpura-pura tak melihatku. Aku sudah tak sabar ingin sampai rumah, ingin berdiskusi dengan kakek. Di kampusku, mulai ada masalah seperti di kampus sebelah.

Aku kaget, tiba-tiba ada perempuan berjilbab orange berada di sampingku. Kemudian disusul  satpam. Ia menyapa perempuan itu.

“Mau menyebrang, Mbak?” tanya satpam.

“Iya, Pak,” jawab perempuan itu.

Si satpam segera menyetop mobil dan motor. Perempuan itu pun akhirnya menyeberang. Aku memandang wajah satpam itu. “Hina, kenapa dari tadi aku di sini tidak diseberangkan? Bajuuul,” gerutuku dalam hati.

***

Di teras rumah, ternyata kakek sedang menyeruput kopi sambil memegang satu buku ber-cover merah.

“Kakek, kampusku bikin ulah lagi ini. Ngobrol, yuk,” ajakku mengagetkannya.

“Masuk rumah dulu, Cu. Datang-datang sudah bawa masalah. Makan dulu sana,” jawabnya.

“Alah, Kek, seperti ndak tahu saja. Aktivis kan pantang makan sebelum selesai berjuang,” jawabku sambil tertawa. Dia tersenyum kecut. Mungkin kalimatku tadi terdengar lucu di kupingnya.

“Jadi begini, Kek… Sampean tahu sendiri kan, tiap mahasiswa baru yang diterima di kampusku, mereka wajib hukumnya untuk tinggal di ma’had. Pada tahun ajaran depan itu, biayanya naik 50 persen, Kek. Dari 5 juta, jadi 7,5 juta.”

“Bagus itu. Lalu apa masalahnya, Cu?”

“Bagus bagi siapa? Bagus bagi kampus, Kek?” tanyaku. Dia cuma terkekeh.

“Biaya itu naik begitu drastisnya. Kalau aku biasa makan nasi harganya 6 ribu, lalu tiba-tiba naik jadi 9 ribu. Aku ndak bakal makan disitu lagi. Aku jadi curiga, uangnya bakal lari ke mana saja ya?” gerutuku lagi.

“Jangan mengedepankan buruk sangka, Cu. Coba langsung cari tahu, kira-kira sudah ada penjelasan dari pihak kampus belum?”

“Sudah, Kek. Kemarin ada sosialisasi terkait rincian dana 7,5 juta itu digunakan untuk apa saja. Wakil Rektor II yang menjelaskan sendiri. Tapi sungguh, rincian dana buatannya itu tidak bisa masuk di otakku.”

“Kenapa nggak bisa masuk? Belum kamu bukain pintunya, kah?” tanyanya sambil cengengesan.

“Bukan, Kek. Aku serius. Di anggarannya itu, digunakan untuk perbaikan segala operasional detail ma’had. Termasuk bayarin guru ta’limul lughoh pula. Bayangkan, berarti musyrif musyrifah itu dapat gaji, dong. Bukan bermaksud dengki dengan musyrif, tapi memang otakku masih belum mau nyambung, sekaligus percaya. Apa kampusku sungguh-sungguh mau bayarin mereka? Seperti yang ada dalam detail anggaran.”

“Kakek ini juga pernah tinggal di pondok, Cu. Jadi tahu senang dukanya bermukim disana. Baju kakek dulu sering hilang, sandal, sepatu, hingga handphone. Dulu handphone itu barang paling istimewa, Cu. Jadi kalau hilang, bayangkan sendiri bagaimana mukamu. Tapi pondok kakek dulu tidak bisa berbuat apa-apa kalau ada yang kehilangan, paling juga yasinan. Kalau senangnya, saat kakek melihat kakak-kakak pengurus pondok yang berjuang mengabdi di pondok. Yang mereka cari, paling mentok juga barokah pak kyai. Tidak ada unsur uang atau kepentingan jabatan. Disuruh jadi ketua pondok saja, dulu saling lempar-lemparan.”

“Kalau katamu guru ta’lim bahasa akan diberikan gaji, ya ndak apa-apa. Mereka juga butuh uang buat makan. Tapi memang, etikanya, kalau kakek bandingin dengan jaman dulu, tidak ada orang yang ingin kaya dengan jalan mengurusi pondok. Kalau ingin kaya, silakan berdagang saja. Jangan di pondok, atau lembaga pendidikan lainnya seperti kampus.”

“Tapi zaman memang sudah berubah, sekarang semuanya serba uang. Pondok yang miliknya kampus pun, dijadikan ladang uang. Dikomersilkan. Memang sudah langka, Cu, melihat kampus yang dengan tulus ingin mendidik mahasiswanya agar menjadi generasi yang terdidik.”

“Tapi kampusmu memang suka sekali dengan perubahan ya, Cu. Dulu IAIN, lalu STAIN, UIIS, dan UIN, Lah sekarang, UIK,” ujarnya sambil tertawa sinis.

“Apa itu UIK, Kek?” tanyaku.

“Universitas Ikutan Komersil. Hahaha,” jawabnya.

Sial. Ada-ada saja kakek ini. Bisa-bisa dipanggil sama pak rektor dia, dengan ancaman pencemaran nama kampus. Tapi biarlah, mari kita tertawa. Kampusku telah menerapkan biaya 7,5 juta ke orang tua mahasiswa baru yang diterima. Ada orang tua yang datang ke kampus untuk meminta keringanan. Katanya memang mendapat keringanan, tapi harus diurus dengan berbagai kriteria.

Makin dalam, aku makin teringat orang-orang yang hampir sama dengan cerita kawanku. Orang-orang yang pintar namun tak ada biaya untuk melanjutkan pendidikan. Orang-orang yang mencoba melanjutkan pendidikan melalui beasiswa namun gagal. Aku hanya berharap, masih ada kampus di negeri ini, yang prinsip pengembangan kampusnya, tidak mengedepankan praktik komersil. Semoga saja… [Salis Fahrudin]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply