Untukmu Politikmu, Untukku Politikku

Maraknya pemberitaan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 di kalangan masyarakat tak luput pula kaitannya dengan isu agama yang kian mendominasi. Layaknya masakan yang tak sedap bila tak ada bumbu, begitu pula politik yang tak akan ramai jika tak ada agama. Peribahasa yang kian ramai diperbincangkan.

Maret silam, pidato presiden di Tapanuli, Sumatra Utara mengatakan, “inilah yang harus kita hindarkan. Jangan sampai dicampuradukkan antara politik dan agama, dipisah betul, sehingga rakyat tahu mana yang agama, mana yang politik”. Namun, untuk maju menjadi calon Presiden 2019 ia menggaet ulama Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden yang akan mendampinginya.

Dewasa ini, masyarakat Indonesia banyak yang beranggapan bahwa pemimpin haruslah dari kalangan muslim. Memang betul adanya beberapa ayat dalam kitab suci Al-Qur’an menganjurkan untuk memilih pemimpin muslim. Namun, Indonesia adalah negara hukum, bukan negara madani. Di dalamnya ada enam agama yang dianut oleh ratusan juta masyarakat Indonesia. Tak seharusnya calon pemimpin yang tak terlihat seperti ulama dinilai kurang efisien untuk menjadi pemimpin negara.

Baca juga: Kekerasan Politik Masih Ada

Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta. Hal ini mempunyai arti bahwa islam sangat toleran terhadap semua keyakinan. Namun pada nyatanya, kerap kali muslim sering memarginalkan non-muslim. Menganggap non-muslim bukan orang yang pantas untuk dijadikan pemimpin bangsa.

Seorang cendekiawan muslim, Quraish Shihab mengatakan bahwa ada presiden mesir yang berpendapat bahwa agama yang dicampur dengan politik, maka agama itu akan kotor. Pun sebaliknya. Agaknya dari kalimat ini, agama dan politik adalah hal yang saling bertolak belakang. Kemudian permasalahannya tidak semua muslim adalah orang yang berkompeten dalam politik.

Politik adalah seni yang tak bisa dinilai remeh oleh para muslim yang baru masuk dalam perpolitikan. Indonesia mempunyai banyak permasalahan lain di luar isu agama, dolar yang kian menurun sampai angka 14.578 kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia yang terus menindas masyarakat sipil. Lahan-lahan pertanian yang kian dibabat habis demi pembangunan yang tak memihak ekonomi masyarakat miskin. Berbagai hal ini tak akan pernah bisa diatasi jika masyarakat sendiri terus berkelut riuh dalam membeda-bedakan kemampuan orang lewat agama.

Agama, ibadah, keyakinan atau apalah itu namanya. Itu adalah urusan pribadi masing-masing orang. Alangkah lebih indah jika masyarakat tak memandang hal tersebut sebagai tonggak utama dalam kehidupan bermasyarakat. Hidup berdampingan dan saling menghormati akan lebih bijaksana []

Leave a Reply