Vaksinasi Massal; Tidak Ada Antrean Prioritas Khusus

Program Vaksinasi Massal diselenggarakan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim  Malang  bekerjasama dengan pemerintah propinsi Jawa Timur selama dua hari yakni sabtu (14/21) dan minggu (15/21). Acara tersebut bertempat di lapangan utama kampus satu UIN Malang.

Pada hari pertama vaksinasi,  terjadi antrean panjang mulai dari pos nol yang bertempat di depan gedung FITK (Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan) sampai pos satu yang terletak di lapangan utama.  Peserta vaksinasi terlihat mengantre sambil berdiri di lapangan terbuka untuk menunggu nomor urut panggilan.

Nur Hasnah salah seorang perserta vaksin yang berusia 53 tahun asal Karangploso, Malang menilai bahwa fasilitas yang disediakan untuk antrean peserta vaksinasi kurang, “kalau saya sih lebih baik antrean dari mulai pertama disiapin tempat duduk aja. Kalo saya inikan ibaratnya udah termasuk udah tua gitu, dapet nomor antrean 879, cukup lama (antrean, red) gak sampai satu jam, setengah jam ya lumayan bikin pegel.“

Nabilah Zain, peserta vaksin asal Blimbing, Malang merasa prihatin terhadap peserta lansia yang mengantri berdiri di lapangan terbuka, “kalo saya mah gapapa ya, maksudnya masih muda. tapi kalo untuk lansia kayaknya harus dipikirkan juga, takutnya mau vaksin malah kurang fit karena berdiri lama” ujarnya.

Selain itu peserta vaksin lainnya, Novan Arsasila asal Tlogomas, Malang mengeluhkan tidak adanya prioritas antrean bagi dia dan istrinya yang tengah membawa bayi mereka yang berusia enam bulan “kalo kemarin di UNMUH (Universitas Muhammadiyah, red), tetangga saya kalau bawa anak langsung kok sama suaminya.  kalau cuma istrinya aja (yang diprioritaskan, red) ya percuma, istrinya nunggu juga anaknya nunggu juga” jelasnya.

sebelumnya Novan dan istrinya Emilda Fajrin telah meminta kepada panitia untuk didahulukan dalam antrian namun tidak ada kejelasan, setelah tiga kali berbicara kepada panitia akhirnya sang istri yang membawa bayi tersebut diperbolehkan mendahului panggilan antrian “ ngantri dulu lumayan setengah jam, baru saya ngotot berkali-kali, tadi kalo saya gak ngomong ngotot, gak dimasukkan. Itu juga ada ibu-ibu disitu kasian, itu pun saya harus sampai tiga kali memohon ke panitia”,  tuturnya.

Emilda Fajrin juga menambahkan, mendapatkan informasi dari panitia bahwa memang tidak ada peserta prioritas dalam antrean vaksinasi ini “ternyata mas (panitia, red) nya juga bilang gak ada prioritas” imbuhnya.

Sementara itu, Farchan Adib Rosadi selaku presiden mahasiswa UIN Malang memberikan keterangan terkait peserta vaksin yang antre berdiri, bahwasanya kejadian tersebut memang diluar perkiraan panitia oleh karena itu panitia selalu mengadakan evaluasi setelah acara vaksinasi selesai “ya karena kita mengevaluasi. Jadi setiap acara kegiatan kemarin itu kurangnya dimana. Kita merasa persiapan untuk hari pertama sudah cukup siap, tapi kita tidak memperkirakan akan adanya (peserta-red) yang panas-panasan terlalu berdiri lama”, ujarnya.

Ia juga menambahkan keterangan lain terkait antrean prioritas peserta vaksinasi, bahwa panitia telah memberlakukan antrean prioritas. “Untuk orang yang lansia, ibu menyusui dan yang lain-lain itu tetap di prioritaskan tidak disuruh menunggu berdiri lama, makanya di hari kedua kita membuat inisiatif untuk masyarakat yang mengantri dikasih tempat duduk juga”, tambahnya.

Berbeda dengan pernyataan Adib, Christyaji Indradmojo, selaku penanggung jawab tenaga kesehatan pelaksanaan vaksinasi ini, menuturkan bahwa memang tidak ada antrean prioritas untuk ibu menyusui atau lansia, “jadi perlu dibedakan manejemen individu dan manejemen massal maka basis manajemen kita itu, berdasar situasi normal kebanyakan orang jadi kaya ibu membawa anak, terus orang tua rentan itu sebenarnya tempatnya bukan di lapangan seperti ini, harusnya vaksinasinya itu di puskesmas atau di rumah sakit ditempat yang lebih personal karena itu kan kasus khusus gitu loh, bukan kasus umum”. Ia mengeklaim bahwa jika dalam kondisi massal panitia melakukan manajemen personal, akan menimbulkan kekacauan yang lainnya, “jadi ini tidak ada pilihan yang bagus”, jelasnya. []

Tinggalkan Balasan