Widji dan Elegi Kaum Buruh

juga ada neni
kawan bariyah
bekas buruh pabrik kaos kaki
kini jadi buruh di pabrik lagi
dia dipecat ya dia dipecat
kesalahannya: karena menolak
diperlakukan sewenang-wenang

Membaca puisi Widji Thukul yang bejudul Satu Mimpi Satu Barisan seperti melihat realitas. Bagaimana tak berdayanya seorang buruh pabrik terhadap bos-bos mereka. Kisah Neni dalam puisi tersebut jelas-jelas terjadi di negeri ini. Buruh yang sudah mengabdikan tenaganya namun hanya dianggap sebagai mesin yang layak diganti jika tak sesuai dengan kriteria. Ya, hanya mesin jika bahan bakarnya terlalu mahal tinggal dibuang dan diperbarui. Dengar-dengar sih, menyangkut dengan biaya produksi dan prinsip ekonomi.

Melakukan produksi dengan biaya serendah-rendahnya untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Jika prinsip yang digunakan demikian, wajar saja jika manusia hanya diukur sebatas beban gaji dalam industri-industri di negeri ini.

Widji Thukul, nama aslinya Widji Widodo. Puisinya begitu jujur. Ada alasan mengapa saya menilai demikian. Saat itu saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Ketika, ayah saya satu-satunya yang menopang ekonomi keluarga harus dipecat karena menolak sistem outsourching yang akan diterapkan di pabrik tempatnya bekerja.

Penerapan outsourching ini, berarti pabrik akan mengalihkan tanggung jawab mencari tenaga kerja ke badan penyedia tenaga kerja. Yang berarti pabrik tidak perlu berhadapan dengan tenaga kerjanya jika ada masalah. Hanya lapor ke penyedianya dan gajinya akan dipotong atau akan diganti jika kriterianya bermasalah.

Ayah yang saat itu sangat bergantung pada pabrik tersebut merasa terancam. Pasalnya, kapan saja pabrik mau menggantinya, tinggal lapor saja. Hari tua sebenarnya yang menjadi pertimbangan utama. Dengan umur yang semakin menua dan dua anak yang masih sekolah serta seorang istri, Ayah merasa khawatir dengan itu. Ayah dengan beberapa temannya bekerja mulai menemui pemimpin pabrik.

Pertemuan itu menghasilkan dua pilihan mengundurkan diri tanpa pesangon atau menjadi karyawan dengan outsourching. Ia membawa pilihan tersebut ke rumah, sontak membuat forum diskusi yang amat tegang dan membuat suasana rumah menjadi panas. Ibu saya menyuruh agar ia tetap disana sebagai karyawan disana sebagai tenaga outsourching.

Paling tidak, asap dapur masih mengepul untuk sementara waktu sembari memikirkan jalan keluar, begitulah pikir Ibu.

Saya yang saat itu tak mengerti pembahasan orang dewasa menganggap itu sebagai pertengkaran. Saya hanya dikamar dengan adik sembari mengajak ia bermain agar tak mendengar mereka. Dan saya baru tau masalah itu ketika ayah sudah dipecat dari pabriknya.

Ayah yang hanya berijasah SMA, rupanya tak kalah pintar menyiasati pilihan tersebut. Ia memilih mengabaikan tawaran pabrik sampai membuat pemilik pabrik geram. Akhirnya ayah dan teman-temannya dipecat, dan mendapat uang pesangon.

Namun, poinnya bukan di pesangon dan kecerdasan ayah tapi bagaiman para pemilik modal bertingkah layaknya Tuhan namun dengan “t” kecil. Masa hidup, merekalah yang menentukan. Jika sudah bosan, tinggal tekan saklar kearah tulisan OFF, maka matilah dia.

Puisi-puisi Widji Thukul ini seolah menebak apa yang terjadi pada kehidupan keluarga saya. Tunggu, sebenarnya Widji Thukul menebak kisah keluarga saya atau elegi seperti ini teramat banyak sehingga saat dia menarasikan dalam bentuk puisi, bisa cocok dengan kisah keluarga saya? [Achmad Gilang Rizkiawan]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply