Written by Ajmal Fajar Sidiq 09:46 Artikel

Di antara Musik dan Puisi : Hasil Racikan Koki Puisi Han Farhani

Han Farhani, saat ditemui di kediamannya

Han Farhani, saat ditemui di kediamannya. (UAPM INOVASI/Wildan Firdausi)

Lelaki berjanggut itu sedang duduk di depan meja karyanya. Di sampingnnya, berjejer buku-buku fiksi serta beberapa kaset digital koleksinya. Orang mengenalnya sebagai Han Farhani, musisi asal Lombok yang kerap membawakan lagu berisi lirik puisi yang ditulis oleh penyair-penyair. Dengan kata lain, orang mengenalnya sebagai musisi yang menyanyikan puisi. Lazimnya, inilah (aransemen puisi menjadi lagu, red.) yang disebut musikalisasi puisi. 

Namun bagi Han Farhani, sebetulnya istilah musikalisasi puisi tak ada dalam glosarium sastra. Puisi sendiri–baik tanpa alat musik atau tidak—tetaplah musik, atau sebaliknya. Dalam esainya yang berjudul Musikalisasi Puisi, dengan cukup menohok ia menulis, “apakah kita memerlukan penggunaan istilah atau klaim musikalisasi puisi terhadap suatu karya musik?” catatnya.

Perjalanan Han Farhani bermula sejak tahun 2011. Kala itu, ia memutuskan untuk merantau dari rumahnya menuju Malang guna melanjutkan pendidikannya ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada tahun pertama perkuliahannya, ia aktif mengikuti kegiatan teater di Teater Hompimpa. Sejak itulah ia bertemu dengan dunia sastra. 

“Apakah kita memerlukan penggunaan istilah atau klaim musikalisasi puisi terhadap suatu karya musik? ”

Han Farhani

Sedangkan perjumpaannya dengan Puisi–selain melalui upayanya sendiri–ia bertemu dengan Denny Mizhar, pegiat sastra kondang komunitas Pelangi Sastra. Denny mengajaknya untuk ikut serta dalam kegiatan komunitasnya. Jadilah ia mulai berkenalan dengan puisi-puisi.

Setahun sudah Han mengenal puisi, pada tahun 2012 ia memulai garapan proyek album pertamanya yang berjudul Duabelas Puisi . Pada album ini, ia mengadopsi lima puisi penyair Malang. Proses album ini berakhir pada tahun 2019. 

Setelah album rilis, ia mulai berkeliling menyanyi dari satu panggung ke panggung lain, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk merilis album kedua. Pada album keduanya, Han mengambil langkah berbeda. Ia kini mengambil puisi dari satu penyair saja, yaitu puisi-puisi yang ditulis oleh Saut Situmorang. Album ini bernama disebabkan oleh Saut.

Dari Puisi Menuju Album Lagu

Ada alasan tertentu mengapa Han mengambil puisi sebagai lirik lagunya. Ia mengimani bahwa dalam puisi ada kekuatan lirik. Ia hanya membahasakan alat musik yang mengiringi sebuah puisi hanya sebagai alat bantu. Bagi Han, puisi merupakan satu ketekunan, sebab di dalamnya puisi sendiri telah mengandung irama lagu, “Banyak musisi yang mengaku-ngaku lagu yang telah mereka buat mengandung unsur puitis, padahal puisi itu gak hanya asal tulis, tapi harus dipelajari”, kata Han.

Berbeda dengan lagu pada umumnya, proses kreatif yang ia geluti adalah mencari nada guna membahasakan puisi yang ia pilih. Dalam momen tertentu, ketika ia menulis serta mencari aransemen nada kadang ia harus membaca karya puisi sekaligus berinteraksi dengan penyairnya. Pada album pertamanya ia melakukan interaksi dengan penulis yang ia pilih puisinya. Pun pada album kedua, ia rela bertemu Saut Situmorang ke kediamannya di Yogyakarta meski hanya beberapa kali. Alasannya adalah supaya ia mengetahui apa sebenarnya yang ingin diekspresikan oleh penyairnya. Dengan demikian, ia lebih mudah mencari nada serta mengatur tempo dalam lagunya.

Tak ada alasan jelas tentang puisi yang ia pilih. Baginya, ini bukan hanya persoalan estetika atau kekuatan lirik itu sendiri. Pertimbangan lain dalam proses kreatifnya adalah panjang atau pendeknya sebuah puisi. Terkadang ada puisi yang bagus tetapi liriknya panjang sehingga dirasa sulit untuk dimuat dalam karyanya, atau terkadang juga ada puisi yang liriknya pendek tetapi sulit untuk dicerna. 

Proses kreatif pertimbangan antara panjang-pendek lirik serta kecocokan nada ini yang kerap jadi pertimbangannya dalam memilih puisi. Bahkan, dalam proses kreatif album disebabkan oleh Saut ia memilih puisi itu juga dengan cara menghabiskan beberapa karyanya sebelum ia menemui Saut. Alasan lain untuk memilih Saut, bagi Han yang menarik adalah sosoknya sebagai penyair unik dalam kancah kesusastraan Indonesia.

Bicara soal produktivitas pengkaryaan, Han mengaku tidak ada kesulitan. Hanya saja, ia tergolong menikmati waktu dalam proses yang lambat. Album pertamanya digarap selama kurang lebih 7 tahun. Ada satu lagu yang berhasil ia selesaikan dalam satu bulan, ada lagu lain yang prosesnya jauh lebih lama. Ia membutuhkan momen khusus atas proses kreatifnya. 

Merayakan Hari Puisi Bersama Han

Melawat tulisan Dea Anugrah yang berjudul, Puisi, dari dekat bahwa Unesco pada salah satu sidang umum di Paris menetapkan 21 Maret sebagai hari Puisi. Unesco, menurut artikel di atas telah melibatkan  sekitar lima puluh organisasi, mulai dari kancah regional hingga internasional dengan melibatkan penyair dari pelbagai belahan daerah. Tetapi, Dea mempersoalkan apakah sebenarnya puisi dapat dibakukan seperti itu. Dalam kata lain dilembagakan? Bagi Dea, Unesco terlalu simplikatif, berjarak, dan birokratis. 

Selanjutnya Dea mewawancara Dwiputri, salah seorang penyair penulis buku Hiatus (2014). Mereka berdialog seputar apa yang dibutuhkan puisi di masa mendatang sebagai bentuk merayakan puisi. Apakah yang perlu dilakukan agar Puisi itu dapat berkembang. Singkatnya, bagaimana puisi itu dalam persoalan eksistensinya pada dunia sastra. Pun, akhirnya itulah yang menjadi dialog antara saya dan Han. Apa pentingnya puisi, bila ia dikatakan memiliki kekuatan tersendiri seperti keyakinan Han. Atau lebih jelas, pertanyaan saya apakah penting eksistensi puisi di masa mendatang dengan jenis ragam ekspresinya? Dialog ini membawa kami pada kesimpulan lain, bahwa disamping sekelumit polemik sastra yang rumit dan Hari Puisi ini (21/03), ia mengamini “Ya, tetap harus (menjaga eksistensi puisi, red.)”, tandasnya. []

(Visited 148 times, 1 visits today)

Last modified: 22 Maret 2022

Close