Written by Ajmal Fajar Sidiq 13:49 Film, Resensi • One Comment

Saya Kira Siapapun Yang Ingin Menonton Oppenheimer, Wajib Mendengarkan Nasida Ria

Hampir setengah abad, fisikawan Amerika, J. Oppenheimer wafat (1967). Bekas wajahnya, tetap hadir dalam sejarah besar umat manusia. Saya kira, ia tidak benar-benar mati. Belum lama, sutradara masyhur, Christopher Nolan, menghidupkan kembali Oppenheimer dalam bentuk film biopic. Melalui Nolan, agaknya kita sepakat, bahwa Oppenheimer, dengan topi fedora dan sebatang rokok Marlboro teman kerja setianya, tidak benar-benar mati. Saya angkat bintang 8 – 9 , dari angka 1 – 10 untuk film ini. Nolan berhasil membawa film Biopic, terbaik, saya kira dalam bentuk movie dengan plot padat, dialog tangkas dan juga ringan.

Oppenheimer bukan tokoh yang redup. Hidupnya penuh dinamika yang cukup lengkap. Sebagai seorang Ilmuwan, ia salah satu penggagas yang terlibat merumuskan lubang hitam dan teori kematian bintang. Sebagai manusia biasa, ia payah di hadapan kisah asmaranya. Dua perempuan yang pernah terlibat, bukan perempuan biasa. Jean Tatlock, perempuan yang pernah hadir dalam kisah cinta masa mudanya, seorang Psikiater, dan “Komunis”. Cara pandang politik Jean, kelak memengaruhi Oppenheimer dalam pandangan politik ilmu pengetahuannya. Nolan dengan tangkas, menggambarkan percakapan antara Oppenheimer dan Jean, saat mereka membahas komunis. Salah satu potongan percakapan Oppenheimer yakni; Saya telah melahap habis Das Kapital, tapi menjadikan Komunisme sebagai dogma, saya tidak sepakat, itulah alasan saya tidak terlibat partai.

Sayang kisah antara Oppenheimer dengan Jean pupus, akibat kecerobohan Oppenheimer. Katherine Harrison, lebih dikenal dengn nama sematan, Kitty Oppenheimer, bertemu dengan Oppenheimer ketika pesta. Mereka berbincang tentang dunia kuantum, kitty memahami, karena latar belakangnya seorang Psikolog. Setelahnya mereka terlibat affair. Lalu akhirnya menikah, dengan Jean yang merasa terpinggirkan. Nolan cakap menggambarkan ini dalam bentuk plot ping-pong, maju mundur, menggambarkan kilas balik hidup Oppenheimer. Bahkan ia mampu menyisipkan, sineas ala dokumenter yang hadir di sela-sela narasi kehidupannya. Misalnya saat ia disidang dalam ruangan tertutup, akibat serangkaian tuduhan politis yang hadir kepadanya. 

Yang paling menggemaskan, dalam film ini, tentu saja adalah rasa sesal Oppenheimer, setelah bom meledak di dua kota, Hiroshima dan Nagasaki. Imajinasinya, mengambang pada gambaran manusia yang terkena radiasi nuklir, dengan wajah terkelupas pelan-pelan. Meski Oppenheimer bukan seorang nostalgic, ia tetap merasa penuh gejolak pasca hari-hari pengeboman. Tentu saja, resiko ini telah diterima olehnya. Andai, andai saja jauh-jauh hari, Nasida Ria lebih dulu hadir dibanding Oppenheimer, barangkali idenya meledakkan bom nuklir tidak akan hadir. Andai dia mendengarkan.

Baca juga: Raghnar Lotbrok, Viking, dan Taruhan Politik Agama Konservatif

Raghnar ditolak dan dianggap gila. Sebab menurut keyakinan Nordik, usulan Raghnar adalah legenda turun-temurun yang tak mungkin menjadi nyata. Sekalipun terjadi, masyarakat meyakini hal itu hanya akan menyebabkan mereka bertengkar dengan para Dewa. Setelah forum perkumpulan dibubarkan ia dipanggil oleh Earl Haraldson ke ruangan khususnya. Dengan penuh keyakinan, ia datang dan dengan kukuh tetap akan melaksanakan rencananya.

Menjelang 30 tahun pasca kejadian Bom Atom Hiroshima-Nagashaki, 9 perempuan dari Pesisir Jawa Tengah membentuk grup Qasidah. Nasida Ria, band religius asal Semarang, bergenre dangdut, dengan lirik penuh nuansa “moral”.  Grup Band ini, termasuk grup yang berhasil, memakai bentuk narasi lagu pop, sederhana dan mudah dipahami. Saya kira keberhasilan Nasida Ria adalah di aspek itu, tentang ritme, nada dan sebagainya, tentu familiar didengar penikmat musik Indonesia. Keberhasilan lain Nasida Ria adalah, lirik pop-futuristik, seperti lagu Bom Nuklir (1990) yang mereka rilis. Di masanya, Nasida Ria sangat reflektif  membawa narasi ini ke dalam publik musik Indonesia.

Bila bom nuklir di ledakan
Akan musnah kehidupan di bumi
Bila bom nuklir di ledakan
Akan musnah kehidupan di bumi

Hawa panas menyelimuti bumi
Membakar semua yang di bumi
Hawa panas menyelimuti bumi
Membakar semua yang di bumi

Langit gelap tertutup asap hitam
Mendadak udara dingin membeku
Sungguh ngeri akibat bom nuklir
Ho

Persis. Apa yang digambarkan oleh Nasida Ria, sebenarnya juga digambarkan oleh Oppenheimer ketika uji coba pertama kali bom nuklir dalam projek Trinity. Proyek pengujian sampel pertama, di tanah luas utara Los Alamos. Sampel ini dibawa militer Amerika dalam bentuk Bom Atom bernama Fat Man. Di jatuhkan, di bawah langit-langit Hiroshima-Nagashaki. Hawa panas menyelimuti bumi, membakar semua yang ada di bumi, langit gelap tertutup asap hitam, udara dingin membeku. Sungguh ngeri akibat bom nuklir. Kondisi ini, salah satu yang membuat psikis Oppenheimer goncang. Tetapi ia harus menanggung akibat. Kritik Nasida Ria adalah salah satunya.

Flora fauna manusia dan bangunan
Semua hangus kemudian membeku
Flora fauna manusia dan bangunan
Semua hangus kemudian membeku

Orang yang selamat matanya buta
Sekujur badan tumbuh tumor ganas
Lebih sakit daripada yang mati
Ho

Cukup saya kira, lirik dari Nasida Ria ini menggambarkan isi pikiran Oppenheimer yang gejolak. Dalam film Nolan, gambaran ini akan Anda dapatkan, dalam scene momen ketika Oppenheimer diberi penghargaan saat berpidato di depan publik Amerika, sebagai acara tanda penyematan kepahlawanan karena membantu Amerika menang melawan Jepang. Tentu Nolan tidak serampangan mengangkat kisah ini. Film ini, sebetulnya hasil Ekranasi dari karya Jurnalistik yang meraih penghargaan Pulitzer “American Prometheus: The Triumph and Tragedy of J. Robert Oppenheimer”  pada tahun 2005. Atas nama Amerika, dan perlakuannya, yang menyebabkan Hiroshima Nagashaki, terbakar luluh seperti yang ada dalam film The Grave Of Fire Flies, anime garapan Ghibli membuat Oppenheimer, ditentang banyak orang. Nasida Ria menantang lantang dalam bait lirik terakhirnya, dengan memberikan wacana tandingan yang lebih berguna.

Wahai pencipta bom nuklir terlaknat
Mengapa kau undang hari kiamat
Ciptakan saja obat yang berguna
Libatkan hasil dagang pertanian

Agar tak ada wabah kelaparan
Demi kesejahteraan manusia
Hentikan saja produksi bom nuklir
Ho

Demikian saya kira, daripada nanti, – saya cosplay jadi polisi moral – menagungkan tragedi, menganggap film ini karya terbaik Nolan, Anda perlu juga melihat aspek lain sembari menambah referensi wajib sebelum menonton film ini. Lagu Nasida Ria, dengan judul Bom Nuklir. Selebihnya, tonton sendiri. []

Editor: Wildan Firdausi

(Visited 169 times, 1 visits today)

Last modified: 30 Juli 2023

Close