Written by Nabila Farida _&_ UAPM Inovasi 13:44 Berita Kampus

UKM Pagar Nusa UIN Malang: Seba-Serbi Dibalik Juara Umum di Pasuruan National Arts 2024

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pencak Silat Pagar Nusa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim  Malang meraih gelar Juara Umum di Pasuruan National Arts 2024, memperebutkan Piala Kementerian Pemuda dan Olahraga (KEMENPORA) RI dan Piala PJ Bupati Pasuruan. Kejuaran diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Pasuruan pada 24-26 Mei 2024, dengan diikuti sekitar 1000 peserta dari berbagai instansi.

Dalam kejuaraan ini UKM Pencak Silat Pagar Nusa UIN Malang berhasil meraih total 9 medali emas, 10 medali perak, dan 11 medali perunggu. Keberhasilan ini tidak datang begitu saja, melainkan melalui persiapan yang intensif dan tantangan yang dihadapi oleh para atlet dan anggota UKM. 

“Persiapan kami [UKM Pagar Nusa] pastinya membutuhkan waktu enggak sedikit, sekitar dua sampai tiga bulan sebelum kejuaraan. Jadi aslinya kan sebenarnya kami melakukan latihan seminggu sudah dua kali. Nah, kemarin seminggu menjadi empat kali kami latihan intensif,” kata Syahrul selaku ketua UKM Pagar Nusa.

Syahrul menyampaikan persiapan tersebut meliputi pembenahan fisik para atlet, menjaga pola makan, dan memberikan tunjangan protein. Meski demikian, menurutnya, rentang waktu dua bulan tersebut dirasa kurang cukup, terutama untuk kejuaraan tingkat nasional.

“Kita membenahi fisik dari para atlet tersebut [terlebih dahulu]. Setelah fisik para atlet terbentuk, kita juga mempunyai [melatih] teknik-teknik dari seluruh atlet, soalnya Peserta yang mengikuti kejuaraan ini tidak hanya yang berpengalaman, tetapi juga ada yang baru pertama kali mengikuti kejuaraan,” jelas Syahrul.

Kesulitan Mengatur Waktu Latihan

Selain membutuhkan persiapan yang cukup lama, menurut Najwa salah satu anggota UKM Pagar Nusa yang mengikuti kejuaraan menyampaikan beberapa peserta juga mengalami kendala dalam mengatur waktu latihan, terutama dalam mendapatkan izin dari pihak asrama UIN Malang.

“UKM kita kebanyakan beroperasional waktu malam, jadi kendalanya [ada] di waktu latihan. Kita enggak mungkin latihan cuman setengah jam atau 15 menit, karena 15 menit itu aja cuma dapat pemanasan. Kalau yang putri, waktumya kurang sinkron sama musyrifah karena ada beberapa musyrifah lainnya memang dari awal tuh enggak senang sama kegiatan UKM, karena kita masih MABA [Mahasiswa Baru], harusnya kita fokus ke mabna dulu, sementara kita juga ingin beraktivitas di luar,” terangnya.

Nurul, peserta lainnya menjelaskan tidak semua musyrifah mempersulit aktivitas mahasantrinya di luar, namun ada temannya yang takut akan hukuman jika terlambat pulang sebelum mabna ditutup.

“Enggak ada kendala alhamdulillah, tapi ada satu anak [teman Nurul] izinnya kembali itu tanggal 26, jadinya kita [pulang] waktu itu kebetulan [latihan] molor, jadi kita baliknya jam 01.00 dia kayak takut kalau diiqob [dihukum],” terang Nurul.

Intan, salah satu peserta kompetisi yang mewakili UKM Pagar Nusa, juga mengalami masalah serupa. Ia mendapatkan keringanan sebagai MABA oleh Pagar Nusa, karena masih mempunyai jadwal mabna yang padat. Namun, sering kali waktu latihan berbarengan dengan waktu acara mabna atau salat berjamaah.

Baca Juga: Ingin Masuk UKM, PSHT Terkendala Administrasi Kemahasiswaan

Nailul Afiq pun menyayangkan pernyataan dari Aziz. “Kita kan sama-sama mahasiswa, masak dipersulit? Padahal banyak prestasi-prestasi yang sudah dibawa pulang PSHT dan mengharumkan nama UIN sendiri. Banyak event-event yang diadakan PSHT seperti  event silat 2017 Se Jawa-Bali dan lain-lain.” 

“Sebenarnya enggak sulit soalnya diringankan, ya. Kita lagi di kampus yang wajib ma’had [mondok] gitu, ‘kan? Jadi kayak punya jam malam dan juga punya berbagai kendala lain, kayak jadwal salat berjamaah dan sebagainya. Jadi kalau sudah waktunya latihan tiba-tiba waktunya salat berjamaah harus absen, itu kadang menghambat. Jadi harus lari dulu, pending dulu latihannya, nanti lanjut latihan lagi. Jadi mondar-mandir gitu. Itu sih kendalanya,” ungkap Intan.

Kurangnnya Dukungan Kampus

Selain masalah waktu latihan, Syahrul menjelaskan tentang kurangnya apresiasi dari pihak kampus, khususnya Kemahasiswaan. Bukan hanya minimnya apresiasi, tetapi juga adanya kendala dalam permintaan dana. Dana yang belum cair membuat UKM Pagar Nusa harus mencari cara agar atlet mereka tetap bisa berangkat.

“Banyak yang juara mungkin kurang diapresiasi. Terkait pendanaan, juga kemarin mengalami sedikit kendala, karena dalam kampus ini belum bisa turun dananya. Enggak tahu karena faktor apa, mungkin ada beberapa faktor yang ada. Akhirnya, terkait pendanaan tersebut kita usahakan kita mengakali sendiri gitu agar atlet itu bisa berangkat. Apresiasi yang ada, kemarin kita sudah sudah lapor kepada kemahasiswaan kalau kita berhasil mendapatkan Juara Umum. Alhamdulillah diterima dengan baik, kita disuruh menyetorkan data-data juara tersebut. Namun untuk apresiasinya mungkin masih kurang menurut saya,” tegas Syahrul. []

Editor: Nurul Luthfiyyah

(Visited 57 times, 2 visits today)

Last modified: 11 Juli 2024

Close